Menu

Mode Gelap
 

Klenik WIB ·

Nguri-uri Budaya Jawi, KKN MMK UIN Walisongo Menyaksikan Reog Semarangan


					Nguri-uri Budaya Jawi, KKN MMK UIN Walisongo Menyaksikan Reog Semarangan Perbesar

Nguri-uri budaya jawi, KKN Misi Khusus 09 UIN Walisongo Semarang menyaksikan pagelaran reog di Gondangan, Senin (25/07/2022) malam.

Sebuah kesenian reog yang diadakan oleh salah satu dusun di Ngadikerso, tepatnya di dusun Gondangan, yang dimeriahkan oleh kelompok reog Turonggo Budi Utomo dalam acara pernikahan yang di selenggarakan warga setempat.

Kelompok KKN MMK 09 UIN Walisongo Semarang sangat antusias dalam menyaksikan pagelaran seni reog yang diadakan oleh masyarakat desa setempat yang berlangsung dari pagi hingga malam hari.

Reog ini biasanya diperankan oleh anak-anak dengan latar belakang yang berbeda di setiap individunya. Mereka memiliki tujuan untuk melestarikan budaya dengan reog ini agar tetap menjadi budaya seni yang tidak punah.

Cuaca dingin tidak menyurutkan kelompok KKN MMK 09 UIN Walisongo Semarang untuk tetap menyaksikan pagelaran seni reog yang diadakan di desa Gondangan ini, menariknya antusias penonton dari berbagai kalangan, baik dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa.

Kesenian reog ini merupakan karya seni yang khas dari daerah Ponorogo yang sudah ratusan tahun lamanya berkembang pesat di tanah air hingga terkenal sampai ke mancanegara. Kesenian reog merupakan salah satu budaya di tanah air yang begitu popular dengan hal-hal yang berhubungan dengan metafisika dan sangat berkaitan dengan ilmu batin.

Dalam pagelaran reog sendiri mempunyai seni topeng yang kerap disebut singo barong, topeng tersebut mempunyai bentuk kepala singa yang menjadi simbol raja kertabhumi, sementara di bagian atasnya diisi dengan rentetan bulu merak hingga membentuk semacam kipas yang memiliki simbol kuat dalam diri si pemain.

Menurut Pri selaku pegiat reog, reog Semarangan mempunyai ciri khas yang berbeda dengan reog Ponorogo pada umumnya.

Reog Semarangan mempunyai ciri khas yaitu gerakannya lebih luwes, tariannya lebih bervariasi, kemudian dari segi pakaian juga berbeda dari reog Ponorogo, yaitu mereka menggunakan leak yang sudah dimodifikasi dengan varian tarian yang bervariasi, dan hal tersebut yang membuat penonton tertarik untuk menontonnya.

Bu Pri sapaan akrabnya menyampaikan bahwa, “sebagai generasi muda dan penerus seharusnya kita bisa menjaga serta melestarikan budaya asli Indonesia terutama dalam seni reog agar budaya asli Indonesia ini tak punah oleh perkembangan zaman yang semakin modern ini.”

Dengan cara memberi motivasi serta pemahaman kepada kawula muda agar tetap melestarikan seni reog di era yang budaya westernisasi semakin merajalela.”imbuhnya.(red)

Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Kelompok 11 Gelar Pengajian Akbar Sumurrejo Bersholawat

2 Agustus 2022 - 19:04 WIB

Melestarikan Ajaran Walisongo, Laksanakan Rutinan Tahlilan

29 Juli 2022 - 00:17 WIB

Makam di Tengah Perumahan

17 Januari 2022 - 03:39 WIB

Maulid Nabi Menurut Mbah Sholeh Darat

8 November 2021 - 05:16 WIB

Ka’bah yang Asli

22 Oktober 2021 - 10:22 WIB

Mengkhusyu’i Tapak Hijrah Kanjeng Nabi

11 Agustus 2021 - 00:53 WIB

Trending di Klenik