Talks

Rabu, 14 Oktober 2020 - 18:13 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Nabi yang Keibuan

Saya menerjemah-bebaskan “an-nabiy al-ummiy”, sebagai “nabi yang keibuan”, yaitu seseorang yang lahir-batinnya telah sampai pada dan melebihi taraf kualitas seorang ibu.

Tidak semua ibu bisa keibuan. Seperti halnya tidak semua lelaki bisa melelaki atau bahkan meng-ibu. Maka saya menyebutnya “kualitas keibuan”, yaitu ahli ngemong, menyayangi, merahimi, merahmani, dan terutama rela menderita kesakitan-kesakitan untuk “anak-anaknya”.

Saya menghikmati Kanjeng Nabi sebagai an-nabiy al-ummiy, nabi yang keibuan. “Ummiy” di sana saya artikan bersifat ibu.

Memang, secara jasadiah, Kanjeng Nabi adalah lelaki. Tapi ia seorang lelaki yang sudah melampaui kelelakian. Dan, karena itu, ia meng-ibu. Bahkan melampaui kualitas ke-ibuan sebagaimana umumnya ibu yang belum bisa meng-ibu dan telah meng-ibu. Tentu saja itu sakit.

Di situlah, Kanjeng Nabi adalah kawan yang namanya selalu harus disebut-sebut jika ingin meng-ibu.
Kira-kira itu epistemologi yang saya sumberkan. Bukan maskulinisme atau feminisme.

Bukan pula epistemologi untuk mencari titik-temu dalam kajian atau diskursus kelelakian atau keperempuanan. Metodenya berbeda, maka temuan atau kesimpulannya juga berbeda.

Sebagai lelaki, saya sedang belajar meng-ibu. Tapi saya nggak bisa masak, melahirkan, dan menyusui. (Ya)

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Artikel ini telah dibaca 425 kali

Baca Lainnya