Menu

Mode Gelap
 

Talks WIB ยท

Nabi yang Keibuan


					Nabi yang Keibuan Perbesar

Saya menerjemah-bebaskan “an-nabiy al-ummiy”, sebagai “nabi yang keibuan”, yaitu seseorang yang lahir-batinnya telah sampai pada dan melebihi taraf kualitas seorang ibu.

Tidak semua ibu bisa keibuan. Seperti halnya tidak semua lelaki bisa melelaki atau bahkan meng-ibu. Maka saya menyebutnya “kualitas keibuan”, yaitu ahli ngemong, menyayangi, merahimi, merahmani, dan terutama rela menderita kesakitan-kesakitan untuk “anak-anaknya”.

Saya menghikmati Kanjeng Nabi sebagai an-nabiy al-ummiy, nabi yang keibuan. “Ummiy” di sana saya artikan bersifat ibu.

Memang, secara jasadiah, Kanjeng Nabi adalah lelaki. Tapi ia seorang lelaki yang sudah melampaui kelelakian. Dan, karena itu, ia meng-ibu. Bahkan melampaui kualitas ke-ibuan sebagaimana umumnya ibu yang belum bisa meng-ibu dan telah meng-ibu. Tentu saja itu sakit.

Di situlah, Kanjeng Nabi adalah kawan yang namanya selalu harus disebut-sebut jika ingin meng-ibu.
Kira-kira itu epistemologi yang saya sumberkan. Bukan maskulinisme atau feminisme.

Bukan pula epistemologi untuk mencari titik-temu dalam kajian atau diskursus kelelakian atau keperempuanan. Metodenya berbeda, maka temuan atau kesimpulannya juga berbeda.

Sebagai lelaki, saya sedang belajar meng-ibu. Tapi saya nggak bisa masak, melahirkan, dan menyusui. (Ya)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Mengenal Kitab Pesantren: Kitab Lathaif At-Thaharah Karya Kiai Sholeh Darat

25 Desember 2021 - 06:54 WIB

Sekolah Tanpa Seragam

18 Desember 2021 - 05:47 WIB

Kiai Bramasari: Epistemologi dan Genealogi

21 November 2021 - 00:37 WIB

Bobot Bibit Matan Syarah

30 Oktober 2021 - 07:39 WIB

Ronggowarsito, Perkawinan Mistik Jawa-Islam, dan Kehidupan Sosial

11 September 2021 - 00:16 WIB

Konsekuensi Men-sayyid-kan Makam

6 September 2021 - 19:24 WIB

Trending di Talks