Menu

Mode Gelap
 

Talks WIB ยท

Muhammadiyah


					Muhammadiyah Perbesar

Muhammadiyah

Kata “Muhammadiyah” pertama kali yang saya dengar waktu dulu barjanjen atau membaca maulid barzanji, pada masa kanak.

Wa lamma aradallahu ta’ala ibraza haqiqatihil muhammadiyah. Itu rawi ketiga yang dibaca setelah mendendangkan nasabun tahsibul ‘ula bihulahu hingga akhir.

Isinya tentang kekersaan Gusti Allah sewaktu akan mengejawantahkan hakikat kemuhammadan ke dalam bentuk ruh dan jasad di bawah panduan citra-Nya dan makna-Nya.

Sewaktu masa kanak dulu, saya kerap kebagian membaca rawi al-jannatu wa na’imuha hingga akhir. Dulu saya tidak tahu bahwa kata “muhammadiyah” itu merujuk pada nama sebuah organisasi masyarakat Islam di Indonesia.

Setelah saya mendengar dan mengetahui seluk-beluk umumnya di masa setelah kanak, ingatan saya langsung terpelanting kepada rawi walamma aradallahu itu.

Hingga saat ini, kata “Muhammadiyah” masih merujukkan ingatan saya ke sana. Ke masa kanak dan ke semarah barjanjen. Selalu. Dan, saya gembira. Di dalam peradaban makiyah dan medeniyah (bersifat suka memaki dan suka menakut-nakuti) ini, bisa mengingat Kanjeng Nabi saw saja sudah syukurnya minta ampun.

Saya menguluk kuntum pupur syukur pada Muhammadiyah untuk itu.
Selamat Milad Muhammadiyah. (YA)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Mengenal Kitab Pesantren: Kitab Lathaif At-Thaharah Karya Kiai Sholeh Darat

25 Desember 2021 - 06:54 WIB

Sekolah Tanpa Seragam

18 Desember 2021 - 05:47 WIB

Kiai Bramasari: Epistemologi dan Genealogi

21 November 2021 - 00:37 WIB

Bobot Bibit Matan Syarah

30 Oktober 2021 - 07:39 WIB

Ronggowarsito, Perkawinan Mistik Jawa-Islam, dan Kehidupan Sosial

11 September 2021 - 00:16 WIB

Konsekuensi Men-sayyid-kan Makam

6 September 2021 - 19:24 WIB

Trending di Talks