Menu

Mode Gelap
 

Mayeng WIB ยท

Mari Berwisata Sejarah Gedung Agung Jogja


					Mari Berwisata Sejarah Gedung Agung Jogja Perbesar

Dagoba dari Cupu Watu, Kalasan

Bentuknya semacam Tiang, yang terdiri dari 3 buah bagian.

Bagian dasar (batur), berbentuk segi delapan yang juga terdapat 5 “tingkat” ornamen. Pertama (paling bawah) terdapat ukiran kura-kura (kurma) yang diukir rapat dan tidak sempat ngitung tepatnya. Diatas kura-kura, terdapat penampil berbentuk belah rotan dengan ornamen ukiran sulur.

Bagian ketiga terdapat motif Singa, dengan dua pose (miring dan menghadap kedepan). Sebagai pembatas singa, terdapat ukiran 2 Boddhistava atau dewa di kiri kanannya. Bagian ke-4 bermotif burung yang juga rapat seperti ornamen kura-kura di dasar, dan yang kelima bermotif Gana.

Pada bagian kedua berbentuk padma ganda, sebagai kaki “tiang”, yang meyangga “tubuh tiang” yang berbentuk (embuh segi 16 atau 32 ndak ngitung”. Di tengah tiang ini ada semacam ornamen “pita” pembatas. Sedangkan “atapnya”, berbentuk seperti jantung pisang atau kuncup bunga.

Monumen ini pertama digali dan ditemukan oleh Tn Litsche, tuan tanah pemilik perkebunan tebu pada tahun 1851 di wilayah Surogedug Yogyakarta. Dia digali pada saat pembuatan saluran air di wilayah kalasan desa Cupu Watu pada aliran kali Pentung.

Pada saat pertama-kali ditemukan oleh Litsche dia hanya ditemukan pada bagian “tubuh”nya saja. Bagian mahkota atau kemucak ditemukan 7-8thn kemudian. Tempat penemuan mahkota-pun selain terpaut waktu yang rumayan jauh, lokasi penemuannya juga belum diketahui secara pasti. Apakah ditemukan pada tempat lokasi yang sama atau ditempat yang berbeda.

 

Dalam riwayat, kemuncak itu hanya dikatakan dari desa “Cupu Watu”. Desa yang sama yang dialiri kali pentung dimana bagian tubuh “dagoba” ini ditemukan. Jarak yang jauh, juga contoh bagunan yang tiada duanya yang ditemukan di Jawa inilah membuat Knebel sempat meragukan akan ke “aslian” susunan cupu watu ini.

Ia berpendapat bahwa mungkin yang seharusnya berada di atas tiang/pentung tersebut bukanlah sebuah kuncup. Namun mungkin sebuah arca dewa Hindu. Namun, Van Baak, Resident Yogyakarta sebagai saksi kunci yang memindahkan Cupu Watu dari kediaman Litsche, ke Gedung Resident (Istana Negara sekarang), mengatakan jika antara masing-masing bagian cupu watu tersebut dihubungkan dengan sebuah pen atau tunjolan sebagai kuncian batu).

Keterangan itulah kemudian yang mematahkan anggapan Knebel yang mengira jika monumen ini berkemuncak arca dewa.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah, apakah cupu watu ini sebuah Dagoba (Buddhis) atau sebuah “lingga”? Serta, apakah dia berdiri sendiri atau ada banguanan lain sebagai penyerta? Nanti kita cerita candi kapan kapan wqw.

Artikel ini telah dibaca 51 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ziarah Puncak Makam

23 Maret 2022 - 00:29 WIB

Menusuri Jejak Medang Kawitan ( Kamulan)

25 Juli 2020 - 18:58 WIB

Ekspedisi Tandon Air Purba

26 Juni 2020 - 01:04 WIB

Sowan Mbah Sholeh Darat Semarang

10 Juni 2020 - 18:07 WIB

Makam Ketinggring dan Sejarah yang Hilang

26 Mei 2020 - 23:27 WIB

Mengarifi Banyu Panguripan, Ajaran Toleransi Sunan Kudus

9 April 2020 - 08:08 WIB

Trending di Mayeng