Talks

Sabtu, 30 Oktober 2021 - 07:39 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Bobot Bibit Matan Syarah

Sebagai santri kitab kuning dan kitab primbon, saya menyimak khusyuk seseorang setingkat guru besar berceramah tentang metode tafsir teks ala Roland Barthes atau Derrida dan lainnya.

Inilah cara membaca teks yang paling baru dan sesuai semangat  zaman ini, zaman ketika kepalsuan menjadi kuasa untuk menghegemoni kesadaran manusia. Kira-kira begitu isinya. Saya cuma mengakak sendiri.

Saya lalu mengatakan bahwa cara baca teks seperti itu, bahkan 800-900 tahun lalu sudah menggejala. Di pesantren ada budaya membaca teks “matan” yang diobrak-abrik menjadi “syarh”, lalu diusak-asik menjadi “hasyiyah”, lalu ada lagi nanti yang memerasnya menjadi “matan” lagi. Satu “matan” bisa diolah oleh berbagai pembaca teks hingga memiliki lebih daru dua “syarh”.

Dari rak kitab ngulama Jawa, cara baca dengan metode bongkar-bongkar kata sudah dipraktekkan sejak lama. Misalnya kalau orang Jawa mau memilih jodoh, maka mereka akan masuk ke cara baca “bongkar peristiwa” lewat “bongkar kata” dengan pertimbangan linguistik: “bobot”, “bibit”, “bebet”.

Jodoh itu harus jelas bobotnya atau kualitas lahir-batinnya, bibitnya atau trah-silsilah-sanad ilmunya, dan bebet atau historisitas yang mencakup hidup yang ia jalani selama ini. Contoh bongkar peristiwa dan bongkar kata lainnya masih banyak. Coba bandingkan ketika Derrida membongkar “difference” menjadi “differance” atau sebaliknya.

Di Serat Wedhatama malah ada permainan bongkar perstiwa dengan cara bongkar kata seperti ini: “mingkar mingkuring angkara”. Setiap kata memiliki realita. Karena itu, beda huruf a, i, u, maka realitanya juga berbeda, dan dengan demikian maknanya juga berlainan.

Nalarnya begitu. Sayangnya, cara baca yang sudah sangat canggih ini oleh orang yang tidak memahaminya akan disebut: utak-atik-gathuk atau cocokologi. Padahal bukan. Itu adalah metode membaca peristiwa (teks) ala Jawa.

Guru besar itu, karena saya mengemukakan epistemologi atau sistem pengetahuan pribumi di atas dengan cara teaterikal, maka ia menuduh saya emosi. Dari situ saya menyimpulkan bahwa ilmu metode membaca teks yang ia ceramahkan itu bukan ilmu yang bisa menjadi laku atau suluk. Itu hanya ilmu olah akal dan harga diri. Itu ilmu yang bukan cahaya.

Tapi bukan berarti santri-santri tidak boleh mempelajari metode membaca teks ala Barthes, Derrida, Levi-Strauss dan lainnya. Malah harus. Sekurang-kurangnya biar santri-santri sadar bahwa peradaban ini memang berjalan mundur ke depan.

Wallahu a’lam.

Artikel ini telah dibaca 143 kali

Baca Lainnya