Talks

Sabtu, 11 September 2021 - 00:16 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Ronggowarsito, Perkawinan Mistik Jawa-Islam, dan Kehidupan Sosial

Ronggowarsito merupakan pujangga Jawa pamungkas, yang lahir dengan nama asli Bagus Burhan (1802-1873). Kemudian pasca diangkat menjadi pujangga Kasunanan Surakarta (1845), namanya berubah menjadi di-laqobi Raden Ngabehi Ronggowarsito.

Ia juga dikenal sebagai cicit buyut dari pujangga terkenal Yasadipura I penulis Serat Cebolek. Ia tergolong sosok yang khas karena mampu mempertemukan antara ajaran kebatinan Jawa dengan ajaran tasawuf Islam.

Masa muda Bagus Burhan tergolong unik. Tercatat bahwa ia pernah mondok di Pesantren Tegalsari Ponorogo asuhan Kiai Hasan Besari. Namun, pendidikan ala pesantren tidak memuaskannya. Sehingga, imbas dari letupan daya kreatif yang tidak stabil dalam dirinya, terlampiaskan menjadi tindakan-tindakan kenakalan.

Singkat cerita, ia yang sempat “keluar-masuk” pondok, setelah mendapat wejangan kemarahan dari Sang Kiai, didorong untuk melakukan laku prihatin. Hingga, ia mendapatkan pengalaman-pengalaman spiritual yang jarang ditemui orang pada umumnya. Kemudian, ia kembali ke Surakarta mendalami seni, sastra, dan kebudayaan di bawah bimbingan kakeknya Yasadipura II.

Di usia kematangannya pasca diangkat menjadi pujangga, Ronggowarsito tergolong sebagai sosok yang produktif melahirkan banyak karya tulis. Di antaranya adalah Serat Cemporet, Serat Kalatida, Serat Wirid Hidayat Jati, Wirid Ma’lumat Jati, dan Serat Sabda Jati.

Mengukuhi tradisi sastra pujangga keraton pada masa itu, sudah menjadi kemakluman bahwa karya-karya tersebut ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa. Dalam artikel ini, fokus tulisan cenderung merujuk pada muatan ajaran dalam Serat Wirid Hidayat Jati.

Perkawinan Mistik Jawa dan Tasawuf

Serat Wirid Hidayat Jati anggitan Ronggowarsito akan lebih tepat apabila disebut sebagai dokumentasi proses perjalanan rohaniah (religious experience) yang ditapaki oleh Ronggowarsito.

Atau, bisa juga disebut sebagai pedoman praktis bagi as-salik (pelaku mistik). Salah satu hal yang menjadikan serat ini unik, bahwa Ronggowarsito secara ciamik berhasil mengawinkan antara ajaran kebatinan Jawa dan nilai-nilai tasawuf Islam.

Sebagai pembanding serat ini, kandungan ajaran yang ditulis oleh Ronggowarsito mirip dengan yang termuat dalam kitab-kitab semacam Fushul Al-Hikam dan Syajaratul Kaun Ibnu Arabi, Kimiya’ As-sa’adah Al-Ghazali, dan Sirrul Asrar Syekh Abdul Qadir Jailani. Sementara, muatan metode aplikatif laku kebatinan mirip dengan langkah-langkah menuju jannah al-qurb yang termuat dalam minhaj al-‘abidin karya Al-Ghazali.

Termasuk di antara ajaran inti yang disampaikan oleh Ronggowarsito adalah konsep sangkan paraning dumadi (asal-usul dan muara penciptaan semesta). Sejarah kosmik yang diterangkan Ronggowarsito hampir sama dengan konsep teologi dalam Islam yang menjangkau sejarah gaib.

Oleh karena itu, Ia sendiri menyatakan bahwa pengetahuan tersebut –meskipun bisa diperoleh secara hudluri (singkapan batin)- tidak akan sempurna tanpa bantuan dari ajaran Qur’an, Hadis, Ijmak, dan Qiyas.

Sementara itu, dalam buku Syekh Mutamakkin: Perlawanan Kultural Agama Rakyat karya Zainul Milal Bizawie, ditegaskan sebuah premis bahwa konsep sangkan paraning dumadi pada dasarnya selaras dengan isyarat makna yang terkandung dalam ayat at-tarji’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un), yang bermuara pada kesimpulan bahwa segala sesuatu yang wujud awalnya adalah dari ciptaan Allah, dan pada ending-nya akan kembali lagi kepada Allah.

Secara lebih rinci, serat tersebut merumuskan adanya peta martabat wujud / martabat pitoe dalam sejarah kosmik penciptaan alam (jagad ageng). Mulai dari keadaan suwung (kosong) yang wujud hanya Allah (alam akhadiyat), penciptaan Nur Muhammad (alam wahdat), mir’atul kayai (alam wahkhidiyat), roh idlofi (alam arwah), Kandil (alam misal), Darah (alam ajsam), dan Kijab (alam insan kamil).

Baru kemudian tercipta unsur-unsur pengelolaan semesta seperti ‘arsy, kursi, lauhul mahfuz, surga dan neraka. Hingga, pada puncaknya mewujud makhluk-makhluk materiil berupa alam bumi dan seisinya, serta dipungkasi sebagai masterpiece kreativitas Tuhan dengan penciptaan manusia. Secara potensial, manusia sama dengan bumi dibekali unsur dan karakter yang ada dalam api, tanah, air, dan udara.

Selain itu, Ronggowarsito juga berbicara tentang 4 model tajalli (penampakan) ilahi dan prinsip dasar ketauhidan, yaitu tauhid dzat, tauhid sifat, tauhid asma, dan tauhid af’al. Mengingat tafakkur tentang dzat Allah yang mustahil dan oleh karena itu menjadi dilarang, Ronggowarsito menganalogikan tajalli ilahi ini dengan sosok baginda Muhammad.

Dalam diri baginda termuat dzat (esensi), sifat, asma (nama-nama panggilan), dan af’al (perilaku). Jangankan Tuhan, bagi kita saja mustahil untuk memikirkan esensi Nabi Muhammad. Oleh karena itu, untuk lebih mengenal, memahami, dan mencintainya, kita berusaha menggali data-data tentang sifat, asma, dan af’al beliau.

Ronggowarsito juga memetakan martabat wujud pitoe tentang anasir manusia (jagad alit). Yaitu 7 unsur yang membentuk eksistensi manusia, mulai dari ; (1) Dzat yang menopang khayu (esensi inti), (2) Khayu yang menopang Nur, (3) Nur yang menopang Sir, (4) Sir yang menopang roh, (5) roh yang menopang nepsu, (6) nepsu (nafsu) yang menopang akal, dan (7) akal, yang kemudian semuanya menopang jasad.

Apabila ditelaah, konsep-konsep mistik seperti ini memang kurang memadai apabila hanya didalami lewat rasionalitas dan pembacaan buku-buku. Al-Ghazali dalam autobiografi-nya Al-munqidz min ad-dalal pernah menegaskan hal ini.

Ia memiliki pengalaman bahwa ia merasakan “kedangkalan makna” (baca: ampang) ketika mendalami tasawuf hanya lewat membaca kitab-kitab. Maka, kemudian ia memutuskan untuk ‘uzlah dan menjalankan laku kebatinan, sehingga melahirkan karya Ihya’ ulumiddin. Metode ini yang kemudian dikenal dengan epistemologi ‘irfani atau pengetahuan hudluri.

Meskipun demikian, untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan negatif seperti penyakit mental, kebingungan, dan penerobosan syariat Islam, Ronggowarsito mengungkap bahwa apa yang ia peroleh merupakan ajaran yang sambung dengan petuah-petuah walisongo, dan sekaligus mewejang kepada para pembaca untuk mendalami kebatinan atas bimbingan guru terpercaya. Dalam serat itu, secara rinci ia menuliskan syarat, kriteria, tanggung jawab, dan adab seorang guru serta murid dalam ilmu kebatinan.

Trikotomi Manusia dan Kehidupan Sosial

Istilah trikotomi merupakan kata benda kelas nomina yang menjelaskan tentang pemisahan atau pembagian sesuatu atas tiga golongan (kbbi.web.id). Dalam gagasan Ronggowarsito, hal ini berkaitan tentang 3 (tiga) wahana ketuhanan yang disemayamkan secara potensial dalam diri setiap manusia.

Pertama, bait al-makmur tempatnya ada di kepala. Selain memetakan tentang unsur-unsur gaib di dalamnya, serta metode riyadah untuk mendalaminya, pada dasarnya wahana ini merupakan simbol nalar yang memiliki plus-minus nya dalam proses laku kebatinan untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kedua, bait al-muharram (omah kang kalarangan) tempatnya di dada. Wahana ini merupakan wahana yang paling dalam dan menjadi fokus kajian baik dalam ilmu kebatinan Jawa, maupun tasawuf Islam.

Di dalamnya dibahas tentang tema karakteristik nafsu, dan mental psikis manusia. Secara lebih dalam, wahana ini merupakan simbol tempat paling intim untuk bercengkerama mendekatkan diri kepada Tuhan, yang berkaitan dengan olah rasa dan dzauq.

Ketiga, bait al-mukaddas (omah kang sinucekake) tempatnya sekitar alat kelamin manusia. Pada dasarnya wahana ini merupakan simbol ekstraksi dan transformasi dari pada proses olah pikir, olah rasa, dan olah batin yang dilakukan manusia.

Secara sederhana, pemahaman ini dapat dipahami bahwa baik itu mani, air kencing, mazi dan wadi merupakan sari pati dan ekstraksi akhir dari proses pencernaan, serta kerja-kerja organ dalam manusia.

Secara lebih kontekstual, ketiga wahana ilahi ini meskipun sebetulnya secara potensial terdapat dalam setiap individu, namun realitanya setiap orang memiliki kecenderungannya masing-masing. Bisa jadi seseorang dominan menyadari bahwa potensinya adalah memaksimalkan nalar, dan ia merasa mudah dekat dengan Tuhan lewat proses penalaran.

Atau, seseorang justru merasa bahwa rasionalitas hanya membuat bingung dan melelahkan. Lalu, ia dominan pada dimensi pengelolaan mental psikis. Begitu pula terdapat orang yang merasa bahwa kedekatannya dengan Tuhan dominan dalam praktik-praktik lapangan.

Apabila hal ini dimaknai sebagai bagian dari proses analisa potensi diri dan tata kelola semesta, maka dapat diungkapkan bahwa terdapat semacam pembagian fokus peran.

Ada yang dominan sebagai pemikir, konseptor, arsitek peradaban. Lalu, ada yang dominan sebagai pihak penasihat, netral, merawat kesehatan sistem (perasa). Serta, pihak yang dominan menjadi praktisi lapangan di kerja-kerja strategis (pelaku). Semuanya saling berkaitan dan bekerja sama.

Pada akhirnya, ajaran mistik Jawa dan tasawuf Islam, sebetulnya tidak hanya berhenti pada nuansa mistis dan sakral yang ada di dalamnya.

Memang dalam proses pendalamannya, praktik-praktik seperti wirid, meditasi, tarekat, riyadah, dan tafakkur, tidak dapat dipisahkan dari nuansa sakral. Meskipun demikian, apabila diskusinya diperlebar, mistisisme harus dikembalikan kepada fitrahnya.

Kiai Sahal Mahfudh dzurriyah Syekh Mutamakkin mengajarkan bahwa manusia hidup mengemban peran ganda, yaitu sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di bumi.

Beliau mewejang supaya manusia seimbang dalam menunaikan dua peran ini. Seimbang dalam ibadah individual dan ibadah sosial sebagai modal untuk meraih saadatuddaraini (kabegjan dunyo akhirat).

Oleh karena itu, secara umum tujuan untuk mendalami mistik bukan mengarah kepada hal-hal yang supranatural, apalagi asah kesaktian di masa sekarang. Melainkan, sebagai bagian dari proses analisis potensi diri, pembersihan diri zahir batin, memahami prinsip dasar ketuhanan dan mekanisme tata kelola semesta.

Sehingga, pada gilirannya akan berimbas secara konkrit terhadap aktivitas kehidupan sosial sehari-hari dalam posisi dan fungsi apapun yang berbasis pada harmoni dan keselarasan.[]

Oleh: Muhammad Labib

Artikel ini telah dibaca 58 kali

Baca Lainnya