Talks

Senin, 6 September 2021 - 19:24 WIB

3 minggu yang lalu

logo

Konsekuensi Men-sayyid-kan Makam

Sering terjadi. Salahsatunya ketika suatu kali saya membicarakan sosok ngulama sepuh di negeri Mataram. Seorang hadirin tiba-tiba mengatakan bahwa ngulama sepuh yang saya bicarakan itu adalah seorang sayyid dari marga anu. Katanya ia mengetahui hal itu dari gurunya berdasarkan pembacaan batin.

Saya bilang padanya bahwa dalam catatan naskah kuna, ngulama sepuh itu adalah cucunya seorang wali bergelar sunan yang terkenal di Jawa. Katanya sejarah kita banyak dipalsukan. Saya memilih diam saja sambil tetap menyajikan pandangan catatan sejarah yang memang paling gampang digapai oleh orang awam nan bodoh seperti saya.

Karena sudah lama saya tidak mau masuk ke dalam perdebatan nasab-pernasaban dalam dunia makam, saya memilih diam saja dan mengalihkan pembicaraan ke sudut lain. Sampai di rumah, saya memeriksa catatan naskah, data sejarah, dan merunutkan alur berpikir.

Saya tetap berpandangan bahwa mungkin dan pasti saya salah ketimbang seorang hadirin itu. Tapi ternyata saya menemukan bahwa marga kesayyidan yang ia sebutkan itu baru muncul puluhan tahun bahkan sampai nyaris satu abad setelah kelahiran sosok ngulama sepuh cucu sang sunan yang saya bincangkan itu. Tapi sekali lagi, saya masih membuka pintu pada kesalahan saya.

Namun, masalah terpentingnya bukan di situ. Melainkan pada konsekuensi yang harus diderita sang sahibul makam hingga silsilah ke atas dan ke bawahnya.

Bahwa jika ia memang seorang sayyid bermarga tertentu, maka dengan demikian itu berarti bapak, kakek, buyut, canggah, dan silsilahnya terus ke atasnya adalah sayyid dari marga yang sama atau setidaknya terhubung dengan sayyid bermarga anu itu yang pertama kali di Yaman. Tidak cukup hanya di situ, dengan demikian anak-keturunannya juga berarti sayyid bermarga tertentu sebagaimana ia sebutkan itu.

Saya jadi teringat pada seorang kawan yang mengatakan bahwa ada bapak sang tokoh nasional yang dalam pembacaan batin gurunya juga seorang sayyid dari marga tertentu. Saya coba memeriksa catatan sejarah.

Ternyata bapak sang tokoh nasional itu, dalam catatan sejarah, bersambung-darah ke atas hingga seorang Ratu dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Jika memang bapak sang tokoh nasional itu adalah sayyid dari marga tertentu, dengan demikian berarti ayahnya, kakeknya, buyutnya, canggahnya, hingga sang Ratu dari Karaton Ngayogyakarta itu adalah juga sayyid dari marga tertentu tersebut pula.

Jadi seperti itu konsekuensinya. Panjang. Panjang. Panjang sekali. Tidak sesederhana menyebut ngulama ini adalah sayyid dari marga ini atau marga itu. Kalau saya sederhana saja. Ikut catatan sejarah, naskah, dan hikayat umum.

Jika menyangkut makna lambang-lambang atau gelar-gelar, tinggal masuk ke dalam tata kawidyan (epistemologi) kebudayaan setempat. Biar paham maksud dan makna pribuminya. Menjadi lucu bila upaya untuk memahami makna gelar-gelar dan lambang-lambang itu ditempuh dengan masuk ke dalam tata kawidyan kebudayaan Turki Utsmani.

Wallahu a’lam.

M Yaser Arafat*

Pengajar Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin di UIN Sunan Kalijaga, ia juga merupakan seorang pelajar Islam Jawa.

 

Artikel ini telah dibaca 73 kali

Baca Lainnya