Ngaji Naskah

Kamis, 10 Juni 2021 - 07:57 WIB

1 minggu yang lalu

logo

Kitab Nurudzolam & mbah Pramoedya Ananta Toer

Kitab Nurudzolam dan mbah Pramoedya Ananta Toer

Kitab penting “Aqiidaatul Awaam”, matan Ilmu Tauhid buah karya Syaikh Ahmad Marzuqi yang disusun dan biasa disampaikan dalam bentuk Syair, telah disyarah oleh Syaikh Muhammad Nawawi Asy-Syafi’i (Al-Bantani Al-Jawi) dengan judul “Nurudh Dholam”.

Disajikan dengan penjelasan serta faidah pada tiap baitnya melalui bahasa yang indah serta lugas sehingga mudah dipahami. Syaikh Nawawi yang digelari Sayyid Ulama Hijaz ini, berusaha mengasah jiwa spiritual orang-orang dengan memaparkan siapa yang wajib kita imani, dan membangun kembali nilai-nilai keimanan.

Kitab penting “Aqiidaatul Awaam”, matan Ilmu Tauhid buah karya Syaikh Ahmad Marzuqi yang disusun dan biasa disampaikan dalam bentuk Syair, telah disyarah oleh Syaikh Muhammad Nawawi Asy-Syafi’i (Al-Bantani Al-Jawi) dengan judul “Nurudh Dholam” ini terdiri dari beberapa bab (pasal).

Bab pertama membahas tentang Sifat-sifat yang wajib dimiliki Allah, sifat jaiz (boleh) dan mustahil bagi Allah. Jumlahnya ada 41 sifat yang terdiri atas 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil dan satu sifat jaiz bagi Allah.

Menurut pengarang kitab ini, wajib hukumnya bagi orang mukallaf (orang yang terbebani hukum syariat) untuk mengetahui sifat-sifat Allah tersebut. Ke-20 sifat wajib bagi Allah, Ke-20 sifat tersebut terbagi lagi menjadi 4 bagian, yaitu Nafsiyah (jiwa, sifat wujud), salbiyah (meniadakan: Qidam, Baqa’, Mukholafatuhu Lilhawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniyah), Ma’any (karena sifat ini menetapkan pada Allah makna Wujudnya yang menetap pada Zat-nya yang sesuai dengan kesempurnaannya.

Sifat Ma’ani ini ada tujuh yaitu sifat berkuasa, berkehendak, berilmu, hidup, mendengar, melihat dan berbicara. Sedangkan yang terakhir adalah sifat Ma’nawiyah, yang bernisbat pada sifat ma’ani yang merupakan cabang dari sifat ma’nawiyah. Disebut ma’nawiyah karena sifat itu menetap pada sifat ma’ani, yaitu bahwa Allah Maha berkuasa, berkehendak, berilmu, hidup, mendengar, melihat, dan berbicara.

Hal tersebut juga dituangkan pula menjadi syair-syair oleh Kyai di desa-desa dan dilantunkan disetiap bulan Ramadlan seusai sholat tarawih, biasa orang sekitar menyebutnya dengan wujudan, atau solalahu dengan segala penyebutan lainnya.

Syair Aqoid seket ini banyak yang hafal dan melantunkannya entah anak-anak sampai orang tua, ini adalah gambaran dari ajakan atau dakwah dari ulama’ masa lalu yang sangat sedemikian santunnya sehingga mudah diterima untuk dipelajari serta diamalkan, patokan terpenting hafal dahulu dengan waktu yang berjalan nanti bakal meresap sendiri dan istilah Jawa nya di-ngelmuni jadi tak hanya menjadi pengetahuan tetapi sudah menjadi ilmu.

Ya begitulah syair aqoid seket yang menjelaskan tentang 20 sifat wajib gusti allah, 20 sifat muhal Gusti Allah, kemudian dengan yang termasuk nafsiyah, salbiyah dlsb, kemudian 4sifat wajib rasul, 4 sifat muhal rosul lanjut 1 sifat jaiz gusti Allah dan 1 sifat jaiz rasul.

Pada syarah Nuru-dzholam pun juga menjelaskan tentang, Dua malaikat malaikat itu masing-masing bisa dikenal dengan Raqib dan Atid mereka tak berubah selama hamba masih hidup.

Ketika hamba telah mati maka mereka berdiri di atas kuburannya sambil membaca tasbih, tahlil, takbir, dan menuliskan pahala tasbih dan lainnya itu untuknya sampai Hari Kiamat apabila hamba yang mati adalah orang yang beriman, dan akan melaknatinya sampai Hari Kiamat apabila hamba yang mati adalah kafir atau munafik.

Ada yang mengatakan bahwa setiap hari dan setiap malam ada 2 (dua) malaikat. Dengan demikian setiap hari/siang ada 2 malaikat dan setiap malam ada 2 malaikat. Jadi, jumlah mereka ada 4 (empat) malaikat.

Mereka saling bergantian ketika sholat Ashar dan sholat Subuh. Mereka berdua mencatat seluruh amal-amal hamba di siang hari, diperkumpulan, di tempat umum, dan tempat-tempat lainnya. Malaikat yang mencatat amal-amal baik berada di sebelah kanan hamba.

Dan malaikat yang mencatat amal- amal buruk di sebelah kirinya. Malaikat pencatat amal-amal baik adalah malaikat yang amin atau dapat dipercaya dan yang memerintahkan malaikat pencatat amal-amal buruk. Ketika seorang hamba melakukan kebaikan maka Pencatat kebaikan yang ada dikanannya langsung menulisnya.

Ketika ia melakukan keburukan maka Pencatat keburukan bertanya kepada Pencatat kebaikan, “Haruskan aku menulisnya sekarang?” Pencatat kebaikan menjawab, “Tunggu! Jangan ditulis terlebih dahulu barang kali hamba ini akan beristighfar atau meminta ampun dan bertaubat.”

Apabila hamba bertaubat maka ditulis baginya kebaikan dan apabila ia tidak bertaubat setelah terlewat 6 jam maka Pencatat kebaikan berkata kepada Pencatat keburukan, “Sekarang baru tulislah! Semoga Allah menyelamatkan kita darinya.” Perkataan terakhir mereka ini adalah doa bagi hamba yang berbuat buruk agar mereka tidak melihat kemaksiatan atau keburukan yang hamba lakukan karena mereka akan merasa bersedih karena hamba melakukan kemaksiatan tersebut.

Berangkat dari uraian tersebut ada banyak pelajaran yang dapat diambil selain mengetahui tentang malaikat, sebagaimana mempercayai malaikat adalah bagian dari rukun iman, kemudian dari teks diatas juga belajar untuk khusnudzon berbaik sangka, disetiap laku dan pikiran sebagaimana kita mengutip dari mbah Pramoedya Ananta Toer “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.” Wallahu a’lam bishowab.

 

 

Artikel ini telah dibaca 78 kali

Baca Lainnya