Klenik

Minggu, 18 April 2021 - 01:04 WIB

4 bulan yang lalu

logo

3 Tingkatan Puasa Dalam Kitab Mbah Sholeh Darat Semarang

Pengajian Kitab Asrorush Shoum bagian kedua memahami tentang Pemahaman “Puasa dibagi 3 tingkatan” oleh para ulama.

Bismillaahir rahmaanir rahiim..

Ketahuilah olehmu wahai orang yang beriman ! Sesungguhnya puasa itu ada tiga derajat. Pertama, Shoumul ‘Umum, yakni puasaya manusia pada umumnya. Kedua, Shoumul Khusus, yakni puasanya manusia pilihan. Ketiga, Shoumu Khushushil Khushush, yakni puasanya manusia pilihan yang sempurna. (Lathoifut Thoharoh hal 57-58.)

tafsiran penulis: Mengapa ulama membagi puasa ini ke dalam tiga kategori ?

Sebab Menujukkan Kelembutan Allah. Sebagaimana Gusti Allah menciptakan jin dan manusia semata untuk beribadah (mengabdi) kepada-Nya. Dalam menjalankan ibadah itu Allah menghendaki, bukan ibadah yang asal-asalan. Tetapi “ibadah yang sempurna”. Hal ini dapat terlihat dari beberapa hal :

Dalam syahadat, misalnya. Menggunakan lafadz “Asyhadu” yang artinya “Aku menyaksikan bahwa tidak ada yang menguasai semesta alam ini kecuali hanya Allah ta’ala. Tapi tidak semua hamba Allah berada dalam maqom musyahadah (kedudukan hamba Allah yang bisa menyaksikan Allah dengan mata batinnya).

Maka para ulama menafsirkan “Asyhadu” (aku menyaksikan) sebagai “ayqonu” (aku meyakini). Karena meyakini, tidak mesti harus sampai pada derajat menyaksikan. “Anekseni ingsun ingdalem ati ingsung kelawan i’tiqod ingkang kukuh..”

Dalam shalat, misalnya. Menggunakan lafadz “aqimish sholat”. Yang maknanya bukan “sekedar mengerjakan” shalat. Tetapi maknanya adalah mendirikan shalat dengan sempurna. Tapi tentu saja, tidak mampu kita mengerjakan shalat dengan sempurna, dan sebagainya.

Terkhusus puasa. Puasa ini dikerjakan agar manusia meraih derajat takwa. Sebagaimana firman-Nya : (QS. Al-Baqarah/2 : 183)

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Dalam hal ini, takwa yang “diinginkan” Allah adalah ketakwaan yang sempurna. Sebagaimana firman-Nya : (QS. Ali ‘Imran/3 : 102)

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya;”

Sebagian mufasirin rahimahumullah menjelaskan makna ayat ini bahwa takwa yang sebenarnya itu :

“Ta’at kepada Allah, tidak mendurhakai-Nya. Ingat kepada Allah, tidak melupakan-Nya. Bersyukur kepada Allah, tidak kufur pada-Nya”

Maka, tidak akan mampu seorang hamba untuk mencapai itu semua, meskipun diberikan sejuta kehidupan sejuta kali, setiap kehidupannya diberi umur sejuta tahun. Tidak akan mampu ia bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa. Meskipun, seluruh umurnya itu ia persembahkan untuk ta’at kepada Allah dan mengagungkan Allah.

فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”

Maka puasa yang diperintahkan Allah agar manusia meraih derajat takwa pun, dibagi menjadi 3 bagian. Agar setiap hamba-Nya dapat melaksanakan perintah-Nya, untuk mendapat kasih sayang dan kelembutan-Nya.

Salah satunya adalah agar hamba berusaha meraih derajat khusus di sisi Allah dengan mengerjakan puasa yang sebaik-baiknya. Ia akan fokus paa hal-hal yang dapat menyempurnakan puasanya.

Dia tidak akan melihat puasa orang lain, karena salah satu syarat puasa khusus adalah menjaga mata. Terlebih lagi dengan menjaga hati dari selain Allah, terutama melihat amal ibadah orang lain. Wallahu a’lam.

 

Artikel ini telah dibaca 249 kali

Baca Lainnya