Talks

Jumat, 19 Maret 2021 - 04:24 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Menjaga Makam adalah Menjaga Sejarah

Terkait dengan tanaman yang tumbuh menyertai sebuah nisan atau makam ingkang sumare sepertinya bukan hal yang sepele, ini bukan urusan mendramatisir dan sebagainya, tetapi sebuah pesan dan keilmuan yang dapat di pelajari dan digali.

Seperti lumut, kupu-kupu, kunang-kunang, macan atau bahkan lebah tentu memiliki makna. Berangkat dari hal kecil saja. Mengapa saya dapat menyimpulkan demikian, sebab pernah mendengar ketika kita ziaroh ke leluhur kita atau ke makam manapun kalau Ada rumput liar katakanlah dan beranjak ingin mencabutnya jangan sampai melupakan dan kalau bisa dibiasakan membaca asma Gusti, entah tasbih dsb. Baik lagi dengan ditambah bersholawat sebisanya.

Dengan lambaran bacaan tasbih sampai sholawat menyelingi jari-jari mencabut rumput yang tumbuh diantara makam adalah sebagai pengganti dan selingan ketika rumput itu tercabut maka harapan selanjutnya atas tumbuh rumput yang baru di kemudian hari selalu bersholawat kepada Kanjeng nabi, dan selalu merapal dan berdzikir kepada Gusti Allah tentunya.

Sebagaimana nisan pada makam adalah tanda atau pathok yang menunjukkan bukti sejarah dari masa ke masa untuk anak cucu. Makam dan nisan adalah pengingat bagi mereka yang hidup.

Lantas bagaimana strategi agar kuburan tidak hilang atau rata dengan tanah? Tempo dulu, sebelum mengenal nisan untuk menandai kuburan supaya tidak hilang, sekaligus membubuhkan nama jenazah bersangkutan. Agar kuburan tidak ditumpuk oleh orang lain maupun lenyap di kemudian hari, cukup diberi penanda batu hitam sederhana atau kijing.

Bahkan sampai ada istilah kalau mau pasang kijing, ngijing, ada yang menyebutnya nyandi. Ngijing berasal dari kata kijing (nisan), sedangka ngijing berarti pemasangan kijing (nisan). Tradisi  Ngijing pada upacara Selamatan Nyewu merupakan tradisi turun temurun yang diwariskan leluhur yang dilaksanakan di pemakaman setempat. Nyewu adalah memperingati seribu hari atas meninggalnya sahibul makam.

Pemasangan stupa kijing dimulai dari stupa kepala dengan di sertai kalimat doa, inti dari doa tersebut berisi tentang permohonan keselamatan almarhum di akhirat dan mohon akan bimbingannya di akhirat kelak. Selanjutnya, stupa kaki di pasang, maka lengkaplah proses pelaksanaan tradisi ngijing pada upacara selamatan nyewu.

Sebelumnya pun diadakan umbul dungo, dengan khataman Al-Qur’an, tahlilan yasinan. suatu bentuk dari kemampuan adaptasi kultural yang dimiliki oleh masyarakat setempat untuk mempertahankan nilai-nilai luhur yang melekat dalam ritualitas kebudayaan masyarakat Jawa.

Leluhur kita memandang kuburan bukan sekadar gundukan tanah dan tempat menimbun orang mati. Bila kuburan dianggap sepele, tidak mungkin para cendekiawan Jawa masa lampau meneteskan sinonim kuburan lebih dari lima, yakni kramatan, makaman, hastana, stana, pasarean, dan jaratan.

Kuburan komplit dengan nisan maupun kijing bukan sekadar penanda identitas dan status sosial orang yang dikubur, tapi juga bentuk penghormatan manusia yang hidup kepada mereka yang telah meninggal.

Ritual nyadran, merawat makam bukanlah ajang hura-hura atau berbau klenik, namun mengingatkan akan kematian dan memposisikan kuburan sebagai bukti sejarah. kuburan dan batu nisan mampu meronce tali sejarah keluarga agar tidak terhapus dalam ingatan generasi sesudahnya.

Kalau pun ada pandangan bahwa nisan atau kijing yang menyerupai bagian bangunan candi adalah situs multiconponent, dimana garis besarnya adalah situs yang dimanfaatkan sepanjang waktu meskipun aspek dimensi waktu budaya sudah berubah.

Misalnya pada jaman prahindu sudah difungsikan, tempat tersebut dimanfaatkan lagi di masa berikutnya. Situs masa klasik dimanfaatkan lagi masa Islam. Perubahan waktu dan fungsi akan menyebabkan perubahan bentuk.

Pandangan seperti itu ya monggo, tetapi yang perlu menjadi peng-eling-eling dalam diri bahwa setiap desa atau dusun, memiliki makamnya, maupun punden sendiri, dengan struktur, susunan, bentuk nisan yang khas.

Kadang terletak di belakang masjid, atau di pinggir desa atau pula di tengah desa, entah dimana pun letaknya. Pada dasarnya makam sebenarnya ada di hati.

Makam lah yang menautkan dan menjadi benang yang terkait para perantau dengan desanya. Ia mungkin tak menengok tanah ladang atau sawah atau rumah yang terjual. Tetapi tetap akan ke makam leluhurnya yang bersemayam. Wallahu a’lam bisshowab.

Linnabi lahumul fatihah..

Artikel ini telah dibaca 228 kali

Baca Lainnya