Talks

Jumat, 12 Februari 2021 - 09:56 WIB

8 bulan yang lalu

logo

Nasab, Nama, dan Ampunan

Nasab, Nama, dan Ampunan*
Bagi saya, dengan keterbatasan saya saat ini, makam yang saya datangi itu hanyalah saya tuju untuk didoakan dan dimintakan ampunan untuknya. Jika ada yang lain, barangkali yang terpenting untuk diketahui dari sebuah makam adalah silsilah ilmunya, bukan nasabnya.
Jika ada yang lain lagi, pasti adalah hajat saya untuk menulis dan mengkaji makam-makam itu sedaya bisa saya.
Kalau hendak mengetahui silsilah nasabnya, bisa secara hati-hati mengacu pada catatan serat atau naskah tentangnya.
Mengapa harus hati-hati? Sebab catatan serat atau naskah juga berbeda-beda. Satu naskah bisa mengatakan bahwa wali ini putra wali itu. Tapi serat lainnya tidak mengatakan demikian.
Saya tidak menampik ada banyak sesepuh yang memiliki kelebihan ilahiah dalam membaca sebuah makam secara batin. Hanya saja, masing-masing sesepuh akan “mengeluarkan” nama sahibul maqam yang berbeda satu sama lain. Sekali lagi: berbeda satu -sama lain.
Keberbedaan nama itu biasanya bergantung pada beberapa hal dari diri si sesepuh. Baik menyangkut darah atau gen, bakat, asal-usul, ilmu yang didalami, dan macam-macam lagi lainnya.
Saya sering mendapati sebuah makam yang dibaca secara batin oleh beragam sesepuh. Biasanya kalau yang membaca adalah ahli ilmu hikmah, maka nama sang sahibul maqam yang ia dapatkan adalah nama yang berbau ilmu hikmah. Sesepuh ahli tarekat, biasanya akan mendapatkan nama yang berbau tarekat.
Seorang pencari benda-benda gaib akan mendapatkan nama sesuai ciri-ciri kebenda-gaiban. Seorang spiritualis penghayat kepercayaan juga akan mendapatkan nama yang mendekatkan pada kecenderungannya dalam kepercayaannya.
Karena itu, setiap kali menziarahi makam-makam tua atau makam tanpa nama tapi dituakan, saya sangat berkepentingan untuk mendoakan dan memintakan ampunan Gusti Allah bagi mereka semua.
Sedangkan untuk memastikan siapakah nama atau sosok yang dimakamkan di sana, saya akan mengikut pada cerita umum atau ingatan masyarakat dan catatan serat atau arsip tertulis. Jika saya tertarik untuk menggali, maka saya hanya akan masuk ke kajian silsilah ilmu sosok yang dimakamkan, bukan nasab.
Jika saya rasa catatan atau cerita masyarakat bertentangan dengan catatan lainnya, saya akan memakai keduanya atau selebih-lebihnya itu untuk dijadikan data. Jika catatan atau cerita itu berlawanan dengan pikiran, data, dan tafsiran yang saya miliki, saya akan menyimpannya untuk saya sendiri saja.
Sekalipun ada yang saya utarakan, tidak lebih hanya tafsir saya atas umur kesejarahan, lambang-lambang yang terpahat di nisan, jirat, dan peristiwa kasunyatan yang melingkungi makam-makam itu. Biasanya nanti akan saya tulis agar besok anak-keturunan saya atau entah siapa, berkenan menziarahi makam-makam tua itu.
Bagi saya, yang terpenting, sekali lagi, adalah memohonkan dan memintakan ampunan. Hanya dengan begitu, saya berharap besok ketika saya telah dimakamkan, saya juga akan mendapatkan kiriman doa ampunan entah dari siapa. Minimal dari anak-keturunan saya.
Wallahu a’lam.
Ini photo-photo makam ngulama di Pasarean Soropadan. Dekat Jembatan Merah Jalan Gejayan. Linnabi walahumul fatihah.
*Muhammad Yaser Arafat

Artikel ini telah dibaca 546 kali

Baca Lainnya