Ngaji Naskah

Senin, 1 Februari 2021 - 22:22 WIB

6 bulan yang lalu

logo

https://arizukertorahblog.wordpress.com/2018/01/30/where-is-mount-ararat-noahs-ark/

https://arizukertorahblog.wordpress.com/2018/01/30/where-is-mount-ararat-noahs-ark/

Banjir Besar, Hutan Suci Dan Bahtera Peradaban

Banjir Besar, Hutan Suci Dan Bahtera Peradaban.

(Bagian 1)*

oleh : Asep Kurniawan*

 

Untuk bisa mendapatkan pemahaman yang memadai tentang peristiwa banjir besar di Era Nabi Nuh atau Iskwaku Manu. Hal yang perlu diperhatikan adalah Pra dan pasca banjir besar. Pra: bagaimana mereka melakukan persiapan hingga mampu melewati bencana yang menenggelamkan seluruh muka bumi itu.

Pasca: tatanan apa yang kemudian mereka bangun ketika banjir surut dan mereka mendarat, dan bagaimana melewati masa masa awal pasca banjir dan apa kaitan tatanan yang mereka bangun, dengan runtuh dan bangkitnya peradaban di dunia pada masa Rasul sesudahnya, dan pada akhirnya kita bisa lebih memahami problem dunia modern yang diambang keruntuhan saat ini

Pada tulisan ini, saya mengambil referensi dari beberapa kitab suci juga beberapa sisa jejak sejarah dan antropologi dari berbagai wilayah sebagai alat bantu pemahaman.

Syahdan, ribuan tahun silam. Nuh atau iskwaku manu. Sampai pada satu keadaan dimana mayoritas umat pada masa itu sudah tidak lagi mau mendengar ajaran apa yang beliau sampaikan.

Hingga petunjuk Illahi datang padanya dan memintanya untuk menghentikan semua upaya syiar. Dan melakukan segala persiapan yang dianggap perlu untuk membangun tatanan baru. Satu tatanan yang benar benar dari nol.

Mengingat Yang Kuasa berkehendak untuk menenggelamkan seluruh muka bumi. Menghapus jejak semua peradaban sebelumnya. Demikianlah Nabi Nuh, dengan pengikutnya kemudian mulai melakukan persiapan.

 

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِاَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِيْ فِى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا ۚاِنَّهُمْ مُّغْرَقُوْنَ

Dan buatlah bahtera/tatanan yang sesuai dengan Sunatullah, sesuai dgn garis edar, seimbang dan saling terkait. dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

Al-fulka, dalam ayat diatas sengaja saya tafsirkan lebih luas. Karena alquran membahasakan bahtera dgn dua kata yang punya makna dan peruntukan berbeda. Alfulka dan as-safinati (al ankabut).

Dimana pengertian al fulka (falaq) mencakup makna yang lebih luas dari assafinati, yaitu tidak sekedar bahtera, namun juga bermakna keseimbangan, melingkar, sesuai garis edar. Semacam keseimbangan antar ruang, waktu dan yang Ilahi. Yang pada masa masa kemudian dalam bahasa lokal disebut mandala kabuyutan.

Hal yang pertama mereka bangun adalah membuat tatanan hutan lengkap mencakup semua jenis tanaman seperti biji bijian, umbi umbian, buah buahan, rempah rempah, beragam jenis rumput dan semak-semak,  kayu kayuan, tanaman penghasil gula, beragam jenis bunga, dan lainnya.

Hingga  tidak sampai 10 tahun, mata air mulai terbentuk, dan mereka membangun wangan-wangan sebagai jalur aliran air. Seiring dengan itu segala jenis hewan mulai berdatangan karena merasa telah menemukan ‘habitat’ yang sesuai bagi mereka untuk berkembang biak.

Demikianlah. Beragam jenis serangga berdatangan,  Unggas berdatangan karena menemukan biji bijian dan serangga, mamalia berdatangan karena tersedia beragam jenis tanaman yang bisa mereka makan, hewan buas. Dan beragam jenis hewan lainnya. Hingga membentuk satu tatanan rantai makanan yang terintegrasi, melingkar dan saling terkait. Dimana tak ada satu makhlukpun yang tidak mendapat makan.

Selanjutnya nabi Nuh dan pengikutnya mulai membangun rumah rumah panggung dari kayu dan bambu yang dipanen di tepi hutan. Beragam rumah mereka bangun dari mulai rumah bambu yang kecil hingga panjang yang besar dan luas.

Kelak rumah kayu panjang. Menjelang banjir besar mereka tumpuk hingga sembilan tingkat dan di beri kerangka kayu, sehingga bisa menjadi bahtera raksasa yang bisa menampung/memindahkan pasangan hewan dan tanaman beserta mereka untuk mengarungi banjir besar tadi.

Setidaknya. Model bahtera 9 tingkat itu masih bertahan hingga era pati Unus. Selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan air selama dalam pelayaran. Bahtera tadi dilengkapi dengan layar yang terbuat dari anyaman rami.

Yang juga berfungsi sebagai penangkap kabut/air. Sehingga mampu memenuhi kebutuhan air semua makhluk dalam bahtera. Setidaknya hingga 2 abad sebelum masehi. Model layar yang juga penangkap air ini masih di pakai untuk ‘Jung’ di nusantara.

 

(bersambung)

 

Artikel ini telah dibaca 365 kali

Baca Lainnya