Klenik

Selasa, 22 Desember 2020 - 08:53 WIB

10 bulan yang lalu

logo

TEOLOGI ISLAM TRANSFIRMATIF: Dialog Teologi dan Humanisme menuju Teoantroposentrisme Islam

Nama                   : Muhammad Ahsin Adaby            Tugas         : UAS

NIM           : 1804016090       

Matkul       : PTIM

Kelas          : AFI C5

Judul buku : TEOLOGI ISLAM TRANSFIRMATIF: Dialog Teologi dan Humanisme
menuju Teoantroposentrisme Islam.
Penerbit : Walisongo Press
Pengarang : Nasihun Amin

Halaman : 189
Tahun : 2017
a. Tentang Buku
Buku yang berjudul TEOLOGI ISLAM TRANSFIRMATIF: Dialog Teologi dan Humanisme menuju Teoantroposentrisme Islam merupakan buku yang terbit pada tahun 2017
dan berbahasa Indonesia.

Buku yang terlihat nampak sederhana yang terdiri dari VI sub-bab disetiap sub-babnya sangat sistematis dengan menggunakan metode mendiskusikan tentang aspek-aspek humanisme yang ada dalam teologi Islam sebagai sebuah bentuk dialog antara Teologi dan Humanisme serta lebih reflektif-sosiologis.

Buku ini bermula dari kegelisahan penulis tentang makna definitif teologi dan humanisme itu dipertemukan? Sedangkan antara makna teologi dan humanisme nampak
berlainan. Dan saling bertolak belakang dan mungkin terkesan kontradiktif. Disatu pihak, pusat pembicaraan adalah Tuhan. Sementara, di pihak lain. tema sentral perbincangan adalah manusia.

Posisi yang kontradiktif sebagaimana tadi disebutkan agaknya menjadi menarik dan menjadi problem tersendiri karena keduanya bertemu pada diri manusia. Tetapi dalam konsep
yang bagaimanakah pertemuan keduanya terjadi.

Berdasarkan latar belakang pemikiran ini,
buku Teologi Islam Transformatif: Dialog Teologi dan Humanisme menuju Teoantropoentrisme Islam. Akan membahas berbagai macam sub-bab seperti teologi dan
humanisme, paradigma baru teologi islam dan lain-lain.

BAB II
Isi buku

1. Pendahuluan
Prakata dan pokok masalah yang dibahas disini bagaimana arti teologi itu secara bahasa, istilah, kalam, politik dan history dan teologi yang digagas adalah asyariyah. Dan
berbagai pertanyaan yang muncul mungkinkah teologi menjadi sebuah disiplin yang diharapkan mampu melakukan proses transformasi sosial? Jika mungkin,teologi macam apa
yang bisa dijadikan basis transformasi sosial?

2. Manusia: Antara teologi dan Humanisme

Untuk menelisik lebih jauh tentang manusia yang menjadi titik singgung teologi dan Humanisme maka perlu dibicarakan terlebih dahulu tentang manusia. Manusia adalah
makhluk yang misterius, memiliki karakter sendiri dan memiliki substansi.
a. Manusia: Pusat penciptaan
Ada beberapa kata dalam al-Quran yang menunjuk kepada pengertian manusia. Kata nas diulang sampai 240 kali, ins disebut 18 kali, insan 65 kali, unas 5 kali, anasiyy dan insiyy
masing-masing sekali. Selain itu juga terdapat kata basyar 36 kali, basyaraini sekali, mar’ 4kali, imr 7 kali dan imra’ah 25 kali. Walau posisi manusia demikian sentral, akan tetapi
bagaimana pun manusia adalah salah satu dari makhluk-makhluk hidup Allah.

Sepanjang penjelasan al-Quran sendiri, dan oleh karenanya menjadikannya sangat spesial adalah ditempatkannya ruh Allah dalam diri manusia. menemukan bahwa pengertian kata ruh ini yaitu kemampuan berpikir.

Manusia mempunyai kelebihan atas para malaikat, karena ia dikaruniai oleh Allah kemampuan berfikir, yakni sesuatu yang ditiupkan-Nya setelah sempurna perkembangan
fisiknya. maka manusia layak mendapatkan amanah dari Allah dan menjadi khalifah dibumi.

Keberadaan manusia yang unik sekaligus istimewa itu, menurut al-Qur’an, membawa
konsekwensi yang berat baginya. Konsekwensi dimaksud adalah adanya pertanggungjawaban terhadap pilihan-pilihan sadarnya tersebut yang berujung pada adanya balasan yang pasti akan diterimanya sesuai dengan pilihannya itu.

b. Manusia: Kebebasan Dan Keterikatan
Manusia telah diciptakan bebas dan berkehendak. Dia dilengkapi dengan akal, kecerdasan dan kehendak. Manusia dengan kehendaknya dapat membenarkan atau memilih
salah satu dari dua hal yang saling kontradiktif.

Al-Quran sendiri, secara tersurat maupun tersirat, telah menerangkan tentang kebebasan manusia untuk menentukan sendiri perbuatannya. Mengikuti atau menolak petunjuk adalah merupakan bentuk perbuatan pilihan.

Dalam konteks kebebasan untuk memilih, Nabi Muhammad juga hanya diutus sebagai penyampai janji pahala bagi mereka yang memilih mengikuti dan ancaman siksa bagi mereka
yang memilih menolak.

Faktor lain yang turut mempengaruhi keterbatasan manusia adalah lingkungan alam, geografis, sosial dan sejarah.

Lingkungan geogafis juga berpengaruh terhadap tubuh maupun jiwa manusia yang dapat menyebabkan bentuk fisik dan tipe moral yang berbeda-beda. Demikian pula lingkungan sosial menjadi faktor penting dan menjadi tekanan tersendiri bagi manusia dalam pembentukan nilai-nilai moral dan dan spiritualitas manusia.

c. Manusia Prespektif Teologi
Dalam pandangan teologi, keberadaan manusia tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Allah. Salah satu sekte yang berada dalam teologi adalah Mu’tazilah. Perbuatan manusia
bukan diciptakan Tuhan pada diri manusia, tetapi manusia sendiri yang mewujudkan perbuatannya. kelompok yang berlawanan dengan golongan Mutazilah, yaitu berpegang
kepada ayat-ayat yang menegaskan bahwa manusia itu ditentukan oleh Allah.

Sedangkan terhadap ayat yang bernuansa bebas akan ditakwilkan oleh mereka. Kelompok ini adalah Jabbariyah. golongan yang berusaha untuk menjembatani kedua golongan yang saling bertolak belakang sebagaimana disebut terdahulu. Mereka berusaha mempertemukan antara kedua kelompok ayat-ayat itu.

Golongan ini di antaranya, golongan Asy’ariyah yang berpendapat bahwa manusia mempunyai qudrat dan iradat yang telah diciptakan olehAllah.Semua perbuatan manusia disandarkan kepada qudrat dan iradat itu.

d. Manusia: Prespektif Humanisme
Pandangan humanisme, manusia merupakan pusat alam semesta. Alam, dan bahkan Tuhan, dikesampingkan demi mengembalikan kebebasan manusia yang sebelumnya tertutup oleh kabut tafsir religius.

Manusia adalah mahluk yang transenden yeng memiliki secara penuh kebebasan, kesadaran, dan akal budi yang. Dengan kemampuan akal budinya, manusia mampu menentukan apa yang baik dan apa yang buruk untuk dirinya sendiri.

Ia bukan lagi citra Tuhan, melainkan mahluk hidup yang mampu membuat alam tunduk pada keinginan
dan kepentingannya. Ia tidak lagi tunduk pada tafsir-tafsir religius yang dianggap absolut tentang kebenaran dan kehidupan, melainkan berani mengangkat kekuatan-kekuatan yang ada di dalam dirinya sendiri untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk dirinya.

Agama diminta untuk memberikan tempat untuk akal, kebebasan, dan kesadaran manusia, sehingga bisa tetap menjadi pedoman hidup manusia yang justru mengangkat kemampuan-kemampuan terpendam di dalam dirinya.
3. Paradigma Baru Teologi Islam
Menurut Asyariyah akal manusia mempunyai daya yang sangat lemah. Pada akhirnya penganut aliran ini menjadi kurang mempunyai ruang gerak.

Ia terikat tidak saja kepada dogma, tetapi juga pada ayat-ayat yang mempunyai arti dhanni, yaitu ayat yang boleh mengandung arti lain dari arti harfiyahnya. Dengan demikian penganut kelompok ini sukar untuk dapat mengikuti dan mentolerir perubahan serta perkembangan yang terjadi dalam
masyarakat modern. Selain itu, ia juga dapat menjadi salah satu factor yang yang memperlambat kemajuan dan pembangunan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ameer Ali bahwa kemerosotan yang bangsa-bangsa Islam sekarang ini salah satu sebabnya adalah karena formalisme Asyariyah.

Bisa disimpulkan bahwa teologi adalah persoalan spekulatif dan metafisik. Sementara itu, persoalan-persoalan riil kemanusiaan bersifat aktual dan eksistensial. Jika teologi adalah karpet, sedangkan segala sessuatu yang lain adalah benda-benda yang ada di atasnya, tentu posisi teologi amat fundamental.

Bagaimana pun tatanan segala sesuatu sangat ditentukan oleh landasan yang diberikannya. Kalau pengendaiannya seperti itu, maka teologi Islam, yang notebene adalah produk klasik, spekultaif dan metafisik, rasa-rasanya berat diharapkan untuk bisa turut memecahkan persoalan riil kemanusiaan yang kompleks tersebut, lebih lebih era sekarang di mana telah terjadi proses globalisasi dalam segala aspek. Bagaimana pun tatanan segala sesuatu sangat di tentukan oleh landasan yang diberikannya, kalau pengandaiannya seperti itu, maka Teologi Islam, yang nota bene adalah produk masa klasik dan skolastik, jika tidak diadakan perumusan ulang, memang tidak banyak bisa diharapkan untuk memecahkan
persoalan kontemporer. Oleh karena itu, perumusan ulang terhadap teologi menjadi langkah yang tidak bisa dielakkan.
4. Definisi konsep-konsep dalam islam
Teologi Islam tentu tidak bisa dilepaskan dari keberadaan al-Quran sebagai sumbernya.

Dalam pandangan Mohammed Arkoun satu-satunya yang pasti dari al-Quran,
sebagai sumber pemikiran teologis adalah karakternya yang performatif. Ciri performatif al-Quran ini tentu saja lebih banyak menuntut persyaratan perilaku daripada hanya sekedar idea.

Kendati tentu saja idea itu juga menjadi bagian yang sangat penting mengingat perilaku tidak bisa dipisahkan dari idea yang mendasarinya. teolog kontemporer seperti Farid Esack dan Asghar Ali Engineer berusaha merekontruksi teologi dengan cara menafsir ulang berbagai terma teologi klasik. Hal ini dilakukan tentu bukan tanpa maksud dan tujuan. Mereka
berkeinginan bahwa teologi yang telah dirumuskan oleh para teolog sejak lama dapat memiliki kekuatan untuk menggerakkan dan merubah secara signifikan bagi kepentingan kemanusiaan.
A. Iman dan Implikasinya

Salah satu segi yang paling fundamental tentang iman adalah iman bi al-ghaib. Al-Quran sendiri banyak membicarakan hal yang gaib ini dan secara tegas mengatakan bahwa
salah satu ciri orang bertaqwa adalah iman kepada yang gaib. Dalam pandangan Asghar, al-ghaib pada hakekatnya menunjuk kepada potensi-potensi dan kemungkinan-kemungkinan untuk perbaikan manusia yang tersembunyi dari pandangan kita, baik terdapat pada diri manusia maupun alam, dan hanya Tuhan, pencipta kemungkinan-kemungkinan ini, yang ‘alim al-ghaib (yang mengetahui segala yang ghaib). Jadi, iman bi al-ghaib merupakan iman terhadap kemungkinan-kemungkinan masa depan yang tak terkira banyaknya, yang menjadi inspirasi umat manusia.

5. TEOANTROPOSENTRISME: RUH HUMANISME DALAM TEOLOGI ISLAM
Teologi Islam hendak semakin mewujudkan idealitas transformatifnya, maka mutlak diperlukan sebuah lingkaran hermeneutika kritis yaitu penafsiran kritis timbal balik: struktur sosial perlu dikritik oleh teologi, dan sebaliknya teologi perlu dikritik oleh struktur sosial juga.

Hal ini menjadi mungkin karena sebagai hasil dialog dengan humanisme, Teologi Islam mempunyai dua sisi penting. Di satu sisi, teologi memiliki aspek ideologis bahwa bagaimana
pun ada unsur dasar yang dogmatis di dalam dirinya sebagai kebenaran mutlak. Di sisi lain, kekuatan kritis normatif yang dimunculkan oleh humanisme yaitu kemampuan untuk
mempersoalkan kekuatan-kekuatan asing yang menindas manusia dan kemanusiaannya.

Sisi ini ingin melindungi manusia dari paham apapun yang ingin memperbudak dirinya. Kedua sisi ini menjadikan Teologi Islam menjadi kenyal. Sehingga melalui lingkaran hermeneutik kritis ini, penulis merasa Teologi Islam menjadi efektif dalam mentransformasikan masyarakat.

6. Penutup
a. Kesimpulan
Sesungguhnya proses dialog antara Teologi Islam dan Humanisme telah berjalan lama. Hanya saja dalam khazanah pemikiran Islam, dialog ini kemudian tertutup oleh
kecenderungan pemikiran yang kurang responsif terhadap perkembangan.

Hal ini terlihat pada konseptualisasi yang dilakukan, baik oleh para teolog klasik maupun teolog kontemporer. Secara historis, jauh sebelum Barat mengonsepkan humanisme yang berporos pada otonomi manusia, Mu’tazilah telah memperkenalkan hakekat dan konsep diri manusia
dengan memberikan tekanan yang sangat kuat pada kebebasan manusia yang secara otonom bisa digunakan untuk menentukan sendiri perjalanan kehidupannya.

Baik buruknya sangat ditentukan oleh mereka sendiri. Demikian pula dengan para teolog kontemporer yang berusaha untuk melakukan rekonstruksi teologis. Ujung dari upaya rekonstruksi ini adalah menempatkan teologi sebagai sebuah ilmu yang lebih berdimensi kemanusiaan yang diderivasi dari sumber otoritataif Islam dan karakteristik ketuhanan, agar bisa menyelesaikan problem riil manusia.

Komentar:
Buku ini memiliki bahasa yang cukup intelektual sehingga dapat secara bertahap membuka wawasan baru tentang linguistik. Dalam buku ini tidak menyajikan teori-teori saja tapi sebagian besar mengkritik teori-teori lama yang kurang bersifat praksis.

Dari setiap bab terdapat argumen dari penulis sehingga kita dapat lebih memahami buku tersebut. Karna saja buku ini begitu intelektual dan bersifat pendidikan jenjang perguruan tinggi maka bahasa yang digunakan agak sulit dipahami bagi masyarakat awam.

Artikel ini telah dibaca 757 kali

Baca Lainnya