Talks

Kamis, 10 Desember 2020 - 03:19 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Belajar Dari Penyair ‘Jawa’ Iman Budhi Santosa

Perjumpaan dan mengenal beliau Iman Budi Santosa, adalah pada forum-forum diskusi sastra atau forum maiyah, tepatnya sastra liman atau diskusi sewelasan perpus ean, dan baru beberapa hari kemarin menyimak pemapaaran Pak Iman dalam webinar oleh Perpustakaan EAN dan UIN Sunan Kalijaga bersama Pak Mustofa W Hasyim.

Pak Iman begitu biasa beliau dipanggil. Di kediamannya pun, beberapa anak muda atau mahasiswa datang untuk ngobrol dan nyantrik kepadanya. Anak-anak muda itu, sebagai rasa hormat, memanggil Pak Iman dengan Romo.

Seperti kita tahu, Pak Iman adalah salah satu eksponen utama Persada Studi Klub (PSK) asuhan Umbu Landu Paranggi yang bertitik-melingkar di Malioboro pada 1970-an. Hingga kini, 44 tahun terbilang sejak fase kreatif itu, Pak Iman masih setia di jalur sastra dan kepenyairan.

Beliau lahir di Magetan, 28 Maret 1948. pendidikan formalnya: S. Pb. M. A. 4 th Yogyakarta (1968) dan Akademi Farming (1983). Beliau pernah bekerja pada perkebunan teh di Kendal (1971-1975) dam Disbun Prop. Dati I Jateng (1975-1987).

Pernah suatu kali menjadi ‘joki’ ngewangi seorang yang mengaku mahasiswa di suatu wilayah punjer ing tanah Jawa, untuk menulis biografi seorang sastrawan, entah kenapa waktu itu memberanikan diri dengan menulis biografi beliau, begitulah katresnan tak dapat ditebak dengan alasan apapun.

Yang mengesankan dalam Puisi-puisinya amat puitis-halus-indah dalam menggambarkan ragam suasana, keadaan, dan kehidupan orang Jawa. Empati dan simpati kepada mereka tertancap kuat di dalamnya.

Salah satu buku yang bisa kita baca tentang suasana kehidupan Jawa ini ada pada buku mungil beliau yang terbit dwibahasa (Indonesia dan Inggris) oleh Flying Island Books (2014) berjudul Wajah-wajah Jawa.

Pak Iman tidak hanya menulis puisi. Beliau menulis buku, cerpen, dan artikel atau makalah-makalah lain untuk berbagai keperluan. Salah satu buku yang amat mengesankan adalah Profesi Wong Cilik: Spiritualisme Pekerja Tradisional di Jawa (1999).

Ini buku yang apik karena menceritakan bagaimana dunia batin orang Jawa di balik jenis pekerjaannya seperti: pemikat perkutut, dukun bayi, juru kunci, pemetik teh, pemanjat kelapa, bong supit, tukang becak, penggali sumur, jamu gendhong, jagal sapi, dll.

Pak Iman memotret bagaimana mereka itu memandang hidup, memahami pekerjaan dan rezeki, atau memaknai tantangan hidup. Beberapa jenis pekerjaan itu mungkin sudah tak banyak kita jumpai. Sebut satu di antaranya: penjual jamu gendhong, yang dulu kerap kita jumpai berjalan di sore hari misalnya dengan mendatangi satu rumah demi satu rumah.

Suatu waktu beliau pernah mengudar dan membabarkan atas ungkapan sangat populer dari Raden Mas Sosrokartono: Sugih tanpa bondo, sekti tanpo aji-aji, nglurug tanpo bolo….Bagian ini yang saya maksud: Sugih tanpo bondo.

Kaya tanpa harta. Selama ini umumnya kita mengira ini semacam pesan tentang tak punya uang atau harta tak soal, yang penting hatinya kaya atau hatinya baik. Juga anggapan akan tidak pentingnya harta, aset atau sumber daya.

Menurut Pak Iman, bukan demikian maksudnya. Kata sugih di situ tetap bermakna punya harta, sebab kalau tidak, tidak bisa disebut sugih. Tetapi sugih-nya, atau hartanya, tidak dipakai untuk dirinya sendiri saja, melainkan didermakan bagi kepentingan masyarakat atau orang lain yang lebih membutuhkan.

Menurut Pak Iman, begitulah hidup Raden Mas Sosrokartono sendiri sebagai bangsawan. Kekayaan yang dimiliki dipakai untuk membiayai kegiatan masyarakat di sekitarnya, tak hanya untuk kebutuhan dirinya. Dia punya uang, tapi uang tidak dipegang di tangannya, tetapi diserahkan kepada orang lain untuk dimanfaatkan bagi kehidupan orang banyak. Sehingga, petikan ungkapan Sosrokartono tadi adalah ajaran kedermawanan.

Lanjut, satu contoh mengenai kelekatan Pak Iman kepada wong cilik di Jawa. Lain lagi pada tahun 2017, Pak Iman meluncurkan sebuah buku tebal berjudul Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan. Ini juga bukan hanya apik tapi sangat langka temanya.

Dalam buku ini menyadarkan kita bahwa manusia Jawa, khususnya wong cilik, punya hubungan khusus dengan tumbuh-tumbuhan bukan sekadar berkaitan dengan mata pencaharian, atau kesukaan dan klangenan, tetapi interaksi mereka dengan tumbuhan itu menjelma sebuah dunia tersendiri.

Dalam buku Suta Naya Dhadhap Waru misalnya, kita diajak berjalan menapak bagaimana selama ini tumbuhan dipahami dan didayagunakan oleh orang Jawa di dalam mengungkapkan relasi sosial, dipakai untuk menyusun peribahasa, dan yang tak kalah pentingnya adalah berlimpah nama desa atau tempat di Jawa yang diambil dari nama tumbuh-tumbuhan.

Misalnya, ada pohon bernama Rawe, dan kita temukan salah satunya nama desa Gondangrawe di Boyolali; pohon Randu, lalu kita jumpai banyak tempat menggunakan Randu:, Randugading (Tajiran-Malang), Randusongo (Gerih-Ngawi), Randublatung (Blora), Tegalrandu (Ngluwar-Magelang); pohon Sulang, menjadi nama desa Sulang kecamatan Sulang (Rembang); dan lain-lain. Dengan tekun Pak Iman mencatat semua ini, dan memberikan catatan ringkas akan sejarah (sosial) tumbuhan itu.

Kemudian memaknai sebuah tumbuhan atau pohon Jati dimana, penggunaan nama jati cukup banyak dimungkinkan akibat pengaruh, pertama, pohon jati tersebar di seluruh Jawa, sedangkan pembudidayaan awalnya dilakukan oleh kerajaan di Jawa, pemerintah Belanda, pemerintah Indonesia, maupun masyarakat lokal.

Kedua, masyarakat Jawa sangat mengidolakan pohon jati karena kayunya memiliki kekuatan dan keawetan prima dalam hitungan abad, sedangkan daun jati banyak digunakan untuk pembungkus di masa lalu.

Ketiga, kata jati juga bermakna sejati, atau sebenarnya (asli, murni, tulen, bukan palsu) yang juga menjadi orientasi dalam filosofi kehidupan orang Jawa. Diam-diam mereka (orang Jawa) belajar pada pohon kelapa untuk menjadikan dirinya bermanfaat seperti kelapa karena merekalah yang menanam dan memanjatnya.

Lain lagi, Pak Iman menjelaskan bahwa ide buku yang beliau tulis pada dasarnya masih berkaitan erat dengan buku Profesi Wong Cilik yang ditulisnya pada tahun 1999. Menurutnya, kedua buku tersebut sama-sama berangkat dari usahanya untuk mencatat keberadaan rakyat yang seringkali tidak diakui oleh sejarah.

Dua buku di atas sekadar contoh di antara buku-buku yang telah lahir dari rahim kebertempatan Pak Iman sejak lahir dalam sebuah dunia bernama Jawa. Jangan lupa pula, sebuah buku lain yang unik dari beliau. Buku tentang merokok menurut tradisi orang Jawa, makna dan fungsinya.

Buku itu berjudul: Ngudud: Cara Orang Jawa Menikmati Hidup (2012). Pak Iman bukan seorang antropolog akademisi, namun perhatian karya-karyanya pada dunia Jawa dapat menyadarkan kita (baik kita Jawa, Bugis, Madura, maupun suku bangsa lainnya di Nusantara ini) akan hal-hal yang kita mungkin telah jauh lupa, atau bahkan tak kita tahu apa-apa, tentang lekuk dunia batin dan semesta simbolik yang dulu melahirkan kita.

Hal-hal yang tak semua antropolog kontemporer melayangkan pandangan sama jelinya dengan Pak Iman. Sudah begitu, beliau piawai menulis puisi. Jadilah komplet. Esai, artikel, dan tulisan panjang bahan buku berperhatian pada dunia Jawa, demikian pula dengan puisi-puisinya.

Akan tetapi, Jawa bukan satu-satunya denyut nadi hidup dan perhatian Pak Iman. Beliau juga menulis buku tebal lain, sekitar 635 halaman, yang menghimpun peribahasa-peribahasa nusantara, peribahasa dari berbagai daerah di Indonesia. Buku itu berjudul Peribahasa Nusantara: Matar Air Kearifan Bangsa (2016).

Tampak terang pada akhirnya dari karya dan concern yang digelutinya sebenarnya Pak Iman adalah seorang penjaga dan pelestari. Menjaga dan melestarikan khasanah falsafah, kesadaran budaya, dan simbol-simbol dunia Jawa dan Nusantara. Seluruh butir permata itu memang tak seharusnya hilang, lenyap, atau punah. Dan Pak Iman diam-diam telah berdiri di garis penjagaan itu.

Pernah suatu ketika pada forum sastra liman atau workshop kepenulisan beliau berpesan dalam menulis perlu menerapkan 3 Konsep Pendidikan ajaran tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, yakni Niteni, Niroake, dan Nambahi di setiap proses belajar menulis. Niteni adalah memperhatikan, memperbanyak referensi; sedangkan niroake adalah menirukan yang terdahulu dan nambahi adalah menambahkan dan menyempurnakan perpaduan hasil Niteni dan Niroake.

Berangkat dari pesan tersebut tentunya menjadi sebuah insight dan keilmuan tersendiri dalam hal kepenulisan dan menjadi pegangan terutama bagi saya sendiri yang masih awam ini.

Sebagai mualaf Jawa saya Banyak belajar dari Pak Iman Budhi Santosa, menjadi merasa disadarkan pelan-pelan akan khasanah Jawa dan Nusantara seperti itu, sejak kosakata hingga falsafah, yang kalau tak ada yang menjaganya akan hilang perlahan-lahan.

Sugeng Tindak Romo Iman Budi Santosa, Swargi langgeng.. Al fatihah..

Artikel ini telah dibaca 150 kali

Baca Lainnya
  • 18 November 2020 - 02:32 WIB

    Muhammadiyah