Talks

Selasa, 8 Desember 2020 - 06:06 WIB

8 bulan yang lalu

logo

Menyusuri Makam Potrojayan

Ini makam sepuh di Pasarean Potrojayan, Jalan Piyungan-Prambanan, selatan pom bensin pertigaan Jalan Opak Raya.

Saya masuk saja ke pemakaman ini. Sekira dua bulanan lalu. Ada seorang ibu tengah menyapu. Belakangan ia bilang bahwa ia keluarga juru kunci makam. Saya bertanya kepadanya tentang makam sepuh yang ada di sana.

“Duko mas… (tidak tahu mas)”, jawabnya. Lalu saya bertanya: “Biasanipun menawi dipun lajengaken nyadranan, sinten nggih ingkang dipun sadrani (biasanya bila amaliyah nyadran digelar, siapa yang disadrani?)”. Katanya orang-orang di sini hanya menyadrani leluhurnya sendiri-sendiri.

Saya lantas memohon izin untuk meninjau nisan dan jirat masing-masing makam. Setelah ia mengizinkan, saya mentawafi pemakaman ini sambil mengirimkan salawat nabi untuk semua sahibul kubur di sana.

Saya mulai melangkah dari sisi utara makam. Hingga menyentuh batas pojok paling timur-selatan makam, saya melihat ada lapisan-lapisan tumbuhan Orok-orok (Crotalaria juncea).

Orang-orang menganggap ini tumbuhan rerumputan biasa. Tumbuhan ini termasuk dalam tetumbuhan Asia tropis. Tercatat sebagai anggota tanaman polong-polongan (Fabaceae/Leguminosae) yang biasa digunakan sebagai tanaman penutup tanah (cover crop) pada tanah-tanah yang belum digarap (bera).

Ia juga biasa digunakan sebagai pupuk hijau serta makanan hijauan ternak. Orok-orok bekerjasama dengan bakteri bintil akar dan mampu mengikat nitrogen bebas di udara dan melepasnya kembali ke tanah dalam bentuk hara yang tersedia bagi tumbuhan
Kawanan tawon madu yang tidak terhitung menghinggapi bunga Orok-orok yang dirajai warna kuning itu.

Saya curiga pada sesuatu di bawahnya. Tidak biasanya ada tetumbuhan yang dihinggapi tawon madu. Lalu saya menghampiri tumbuhan itu. Menyibaknya dan akhirnya bertemu dengan makam ini. Orok-orok sedang mengkrukupinya hingga ia terkesan sedang bersembunyi dari banyak mata.

Saya membersihkan makam itu dari penguasaan Orok-orok. Memeriksa nisan dan jiratnya. Lalu jongkok untuk mengirimkan doa ampunan untuk sang sahibul makam dan seluruh kaum muslimin dan muslimat di pemakaman itu.

Saya menghampiri sang ibu keluarga juru kunci tadi. Lalu bertanya kepadanya tentang makam itu. Katanya ia tidak tahu itu makam siapa. Saya lantas menjepret nisan dan jirat makam itu yang sebagian besarnya telah tenggelam di dalam tanah.

Satu hal unik yang saya temukan dari makam ini adalah pada bagian pahatan-hias di nisannya. Menyerupai gelas bertangkai. Setahu saya lambang-lambang bermodel ini menunjukkan arti: sebuah rahim. Ada kemungkinan bahwa sang sahibul makam ini adalah seorang perempuan.

Apalagi nisannya memang nisan yang biasa dipakai untuk makam seorang perempuan. Saya memperkirakan usia makam ini sudah 250-an tahun lebih. Mungkin malah 300 tahun.

Semoga sang sahibul maqam dan semua kaum muslimin-muslimat yang dimakamkan di pemakaman ini mendapatkan ampunan dari Allah swt. Linnabi walahumul fatihah.

M. Yaser Arafat pengajar Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin di UIN Sunan Kalijaga, ia juga merupakan seorang pelajar Islam Jawa.

Artikel ini telah dibaca 135 kali

Baca Lainnya