Talks

Senin, 2 November 2020 - 18:35 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Perjalanan Laku Suluk Macapat

Macapat, membaca tahapan empat

Sebagaimana ilmu dalam tradisi Jawa akan diekplorasi seturut paparan puzzle kata dan kalimat seperti dalam Wedhatama karya Ranggawarsita sebagai olah diri manusia untuk mengutuhkan laku-kediriannya, yakni sebuah laku (baca: suluk) mendayakan budi (sembah raga, cipta, Jiwa, dan rasa) manusia dalam bingkai perjalanan besar sangkan-paran hidupnya.

Berangkat dari gambaran tersebut menjadi tahu, seperti halnya kata “ilmu” itu diserap dari kata Islam, ternyata “ngilmu” dalam tradisi Jawa sebenarnya masih dipahami dalam kerangka pandangan dunia agama ini, lebih tepatnya tasawuf, setidaknya seperti tertuang dengan gamblang dalam teks-teks seratnya.

Ngilmu atau ilmu adalah salah satu uji coba untuk sebuah eksplorasi menggali khasanah filsafat masyarakat itu sendiri. Dengan usaha ini akan sedikit bisa mengerti, atau setidaknya bisa merasakan, bahwa konsep ngilmu dalam tradisi Jawa punya bangun filosofis yang khas atau berbeda, atau setidaknya muncul dari suatu pandangan dunia masyarakat tertentu yang oleh karenanya harus dijelaskan menurut kriteria pandangan dunia yang dihayati—sifatnya bisa berhubungan sekaligus universal pada saat bersamaan.

Dalam membahas konsep ngilmu, saya akan berangkat dari “Serat Wedhtama” dimana salah satu kutipan serat ini begitu terkenal terutama terkait bait “ngilmu iku kelakune kanthi laku”, plus beberapa tambahan penjelasan serat, wirid, maupun suluk—seperti dikenal dalam perbendaharan genre sastra Jawa—untuk mengukuhkan dan menguatkan apa yang dapat dijabarkan maupun kerangkakan.

Kemudian akan saya tunjukkan juga keterkaitan bahwa ngilmu—sebagaimana kata ini diserap dari bahasa Arab bahkan bahasa Al-Qur’an—sebenarnya masih dipahami dalam kerangka pandangan dunia tersebut, tepatnya tasawuf, setidaknya seperti tereksplisitkan dalam teks-teks seratnya.
Namun, sayangnya belakangan ini para sarjana Barat juga orang Indonesia berpendidikan berusaha sekuat tenaga untuk menempatkan ngilmu di luar dari kerangka bingkai pandangan dunia tersebut, seakan jauh dari laku pada dalam diri seseorang.

Dimana peran Islam yang saat serat itu ditulis sudah menjadi penyangga—meminjam bahasa Ricklefs—“penyatu identitas ke-Jawaan”.
Dari situ kita bisa melihat, bagaimana ia berbeda secara spesifik dengan unsur-unsur bangun pemikiran filsafat Barat—karena masih menempatkan pandangan dunia agama tertentu sebagai sebuah aksioma dalam merumuskan maupun suatu usaha mengeksplisitasi gagasannya, bahkan laku, mistik, maupun filosofisnya.

Dulu para Wali Tanah Jawi menggunakan kata suluk untuk menamai sebuah genre tembang Jawa (terutama sekar alit) bernama macapat. Seperti diceritakan oleh Nancy K. Florida dalam “Writing Traditions in Colonial Java: The Question of Islam” (Michigan Press: 1997).

Seorang antropolog yang berjasa besar memfilmkan dan mengkatalogisasi seluruh isi tiga naskah Jawa Keraton Solo, Mangkunegaran, dan Radya Pustaka di tahun 1980an—terdapat setidaknya dua genre dalam kesusateraan Jawa, yakni yang pertama berbentuk (1) puisi-tembang bernama genre “suluk” (macapat), sedangkan (2) yang kedua berbentuk prosa atau eksposisi teoritis disebut “wirid” (ini juga istilah penting dalam tasawuf). Itu dicontohkan beberapa karya misalnya, “Suluk Sontrang”, “Suluk lonthang”, “Wirid Hidayatjati”, dll
Penamaaan suluk atau (perjalanan) sebagai genre tembang macapat yang merupakan genre utama untuk menulis kesusateraan serat maupun babad di Jawa terkonfirmasi dari makna seperti penamamaan yang sering kita kenal dalam tembang macapat, yakni dari Maskumambang dimaknai (dalam kandungan), maskumambang merupakan metrum yang tergolong dalam tembang Mocopat. Maskumambang merupakan urutan pertama tembang Mocopat untuk kemudian disusul dengan metrum tembang Mijil.

Maksud tembang Maskumambang adalah penggambaran alam rahim yang dihuni oleh janin yang laksana emas terapung-apung (emas kang kumambang)dibaca Maskumambang. Janin dalam alam rahim diposisikan tengah menjalani kehidupan yang sangat sakral, karena ia bukan sekedar mengembang dan menyempurnakan anatomi tubuhnya.

Melainkan tengah menjalani proses penggemblengan ruhani berupa pengetahuan-pengetahuan yang kelak ia akurasi di alam kasunyatan atau dhahir. Oleh karena itu perjalanan janin yang demikian sakralnya, maka kualitasnya sangat mulia bagaikan emas sebagai symbol keindahan dan kemuliaan.

Disambung Mijil (lahir), Mijil adalah metrum tembang Mocopat yang menggambarkan fase kelahiran. Mijil artinya keluar, hadir, atau muncul. Yakni munculnya si jabang bayi ke alam dunia. Dengan demikian otomatis juga keluarnya si janin yang tadinya hanya bisa diraba-raba saat masih di alam bathin menuju lahir yang sudah bisa diindra secara kasat mata dan disentuh tanpa perantara, tidak hanya sekedar ditebak-tebak, tapi sudah benar-benar bisa disaksikan.

Sinom (anak muda), Kinanthi (ditemani perkembangan ilmu dan moralnya), Asmaradana (asmara), Gambuh (menikah), Dandhanggula (mengalami pasang-surut, jatuh-bangun kehidupan), Durma (mendermakan diri kepada masyarakat), Pangkur (mundur dan mengambil jarak atas gemerlap dunia), Megat-ruh (terlepasnya ruh kita, alias wafat), dan terkahir Pucung (jasad kita dibungkus kain kafan).

Pada dasarnya gambaran diatas yakni adalah sebuah perjalanan (suluk) kehidupan manusia dari semenjak dalam kandungan hingga menuju kematian saat jasadnya di-pucung, dikafani. Sebuah lelaku atau suluk menjalani sangkan paraning dumadi-nya.

Oleh karenanya tembang-tembang Macapat (sekar alit) sering diatribusikan kepengaranganya bahkan kepada para wali tanah Jawi, misalnya Durma dikarang oleh Sunan Bonang, Dhandhanggula dikarang oleh Sunan Kalijaga, Mijil dan Megatruh dikarang oleh Sunan Giri-Prapen, Maskumambang oleh sunan Majagung, dst.

Sebenarnya jika kita mau jujur memeriksa, sebenarnya memang tak ada genre macapat (sebagai sebuah tembang) di Jaman Majapahit—setidaknya secara defenitif, meski mungkin prototype sudah ada.

Model kesusasteraan di Jaman Majapahit hanya mengenal setidaknya dua genre yakni genre Kakawin dan genre Kidung (juga ada satu lagi kesusasteraan Parwa) yang oleh Javanolog macam Zoetmulder dipandang sebagai sebuah genre sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa-kawi yang berbeda dari bahasa Jawa modern di masa para wali tanah Jawi hingga Mataram, yang metrum tembangnya mengikuti rima suara panjang-pendek Sansekerta (India), alias berbeda dengan metrum macapat yang kita kenal hari ini.

Serat, suluk, wirid, dan babad—kesemuanya ditulis dalam format tembang-puisi macapat, kecuali tentu wirid—sebenarnya jika kita jujur adalah merupakan produk di masa Jawa Islam. Dan bahkan diyakni sebagai hasil Ijtihad kebudayaan para wali Tanah Jawi, termasuk di dalamnya seperti wayang.

Selain itu, sebenarnya penamaan sekar macapat bisa juga kita rangkai dalam pembacaan serupa. Disebut macapat karena dalam perjalanan sangkan-paran-nya, atau bongkot-pucuknya manusia harus dengan sungguh memperhatikan unsur empat atau “membaca empat” (maca papat) yaitu nafsu dalam diri ruhaniyahnya (lawamah/hitam, supiyah/kuning, amarah/merah, mutmainah/putih) atau sering disimbolisasikan dengan sedulur papat lima pancer, yang tersimpan di setiap masing individu.

Saat masih muda misalnya (sinom), karena nafsunya yang masih menggelegak dalam usaha mengenali atau sedang mengeksplorasi kelebihannya sebagai manusia (jalan marga utama), seharusnya ditemani (kinanthi) perkembangan moral-spiritualnya dengan disiplin yang lebih bernuansa “hitam-putih” (syariat), agar tak kebablasan hingga justru menjerumuskannya pada jalan menyimpang yang merusak eksplorasi kelebihan (kemanusiaan)-nya.

Juga misalnya saat nikah (gambuh). Nikah adalah pranata sosial yang paling kuat sebagai kawah candradimuka yang memaksa seseorang untuk menundukkan ego dan diri rendah-nya, karena akan diuji untuk suatu tanggung jawab lebih dalam usaha mencari penghidupan dalam sebuah relasi masyarakat serta telah mengalami jatuh bangunnya proses seperti (dhandhanggula) yang memang menuntut sikap kedewasaan tertentu.

Oleh karenanya, jika ia lolos dalam olah penundukan diri ini ia akan “bisa” mendermakan baktinya (durma) kepada sesama karena telah lepas dan mengatasi pamrih diri dan egotisme diri rendahnya.

Karena penundukan diri tersebut merupakan bagian jenjang laku jasadi-ruhaniyah, maka orang Jawa mendisiplinkan laku penundukan ego semacam itu dengan (suluk/macapat) setidaknya dalam tiga hal; (1) yakni melalui disiplin strata bahasa berjenjang meninggi (bahasa ngoko-madya-krama-inggil) yang membuatnya sanggup menempatkan dirinya dalam skema andhap-asor (tidak menggunakan karma inggil untuk dirinya sendiri/ merendahkan diri sendiri), juga disiplin gerak tubuh yang telah diatur dalam tata-krama dan unggah-ungguh (menunduk jika melewati orang tua, dll).
Juga (2) menajamkan atau tepatnya “menghaluskan rasa” melalui olah-seni dalam wujud gamelan, tari, dll agar bisa menundukkan karsa-tubuh dan gejolak rasa yang tak terkendali menuju tercapainya rasa halus. (3) melalui jalan tapa, laku-prihatin, puasa, riyalat atau riyadloh mengurangi makan-tidur-seks, mutih, kungkum, tarak-brata, lelana, dll.
Maka dari itu dalam pengertian poin ketiga ini kata “laku” atau “lelaku” (spiritual) sering dilekatkan—persis seperti arti spesifik kata suluk dalam istilah Tarekat. Karena ia sedang menunjuk usaha penundukan nafsu empat dan egotisme diri rendahnya dalam sebuah perjalanan panjang sangkan paran agar mulus menjalani lelakon hidup. Urip mung saderma nglakoni.

Sepanjang pengalaman saya membaca serat, suluk, babad, dan wirid dalam khasanah kesusateraan Jawa, saya menemukan bahwa seluruh ajaran pengetahuan dan ilmu Jawa berpusar pada pengetahuan ihwal mengenal akan diri sendiri, alias laku diri, yang sering dibahasakan secara berbeda seperti mawas dhiri, mulat sarira, hingga pangawikan pribadi.

Yaitu sebuah usaha untuk mengenali dirinya sendiri dalam skema sangkan paran—tentu dengan cara menundukkan nafsu empat dalam dirinya (macapat), sehingga ia bisa mengutuhkan kedirian kemanusiaanya agar dapat menemukan dengan diri sejatinya (jati diri). Agar ia bisa mengutuhkan atau menyempurnakan kemanusiaannya (janma utama atau insan kamil).

Sebagaimana Mbah-mbah kita dulu itu capaiannya bukan semata pada makna, arti dan teges, melainkan beliau-beliau itu telah menembus hingga pada tahapan “surasa”. Dalam arti, Saya bisa merasakannya. Wallahu a’lam bisshowab.

Artikel ini telah dibaca 104 kali

Baca Lainnya
  • 18 November 2020 - 02:32 WIB

    Muhammadiyah