Talks

Kamis, 22 Oktober 2020 - 20:52 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Memaknai Gending Sekaten

Memaknai Gending Sekaten

Gending sekaten termasuk dalam kelompok karawitan pakurmatan yang mempunyai fungsi dan garap khusus yang hanya dimiliki oleh kalangan terbatas seperti Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta.

Gamelan Kyai Sekati, atau gamelan Sekaten ini memiliki dua perangkat gamelan: Kyai Nagawilaga dan Kyai Gunturmadu, selalu ditabuh dalam acara Sekaten. Sedangkan Sekaten itu adalah perayaan kelahiran Kanjeng Nabi. Jadi hanya karena Kanjeng Nabi lah, maka segala sesuatu akan mengkeramatkan diri.

Setidaknya sejak zaman Kesultanan Demak sebagaimana diceritakan oleh Babad Cirebon, gamelan Sekati ini telah ditempatkan dalam upacara suci itu. Ada juga sumber naskah yang menyebutkan bahwa gamelan keramat ini sudah dibunyikan sejak zaman sebelumnya.

Seperti gamelan pakurmatan yang lain, gamelan sekaten juga dipergunakan untuk upacara-upacara ritual khusus setiap keraton mempunyai hajat, sebagai tanda legitimasi kebesaran kerajaan.

Keberadaan dan keterlibatan karawitan pakurmatan dalam upacara di Keraton Yogyakarta secara fungsional memiliki peran penting dan menjadi bagian integral dalam tradisi upacara keraton.

Dari sejumlah empat ensamble gamelan pakurmatan di Keraton Yogyakarta (Monggang, Kodokngorek, Carabalen, dan Sekaten), ansamble Sekaten memiliki kekhususan dan keunikan baik secara susunan sistem instrumen maupun komposisi gending.

Ragam dan teknik garap, serta fungsinya. Sebagaimana Gamelan Sekaten berlaras pelog dengan “embat” yang “ageng” atau wilayah nada relatif lebih rendah dibandingkan dengan “embat” gamelan ageng pada umumnya. Dalam penyajian gending-gending Sekaten, karakter embat tersebut berkesan atau memiliki rasa musikal “agung-anteb” berkaitan dengan estetika. Nuansa khusyu’ pun terasa ketika gamelan ini di tabuh.

Setiap Sekaten, gamelan Kyai Nagawilaga ditempatkan dan didentingkan di pagongan lor (ruang sebelah utara) di timur Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Sedangkan gamelan Kyai Gunturmadu diruangkan dan dibunyikan di pagongan kidul (ruang selatan) sebelah timur masjid kagungan dalem itu. Kalau salah mohon koreksi terkait peletakan tempatnya.

Keduanya ditabuh bergantian. Kira-kira setiap 30 menit. Bila Kyai Nagawilaga mengaum, maka Kyai Gunturmadu berdiam. Begitu sebalik dan seterusnya. Keduanya bersuara terus sampai jam 00:00 dini hari. Sejak pagi. Setiap hari. Sebagai ungkapan musikal atas riwayat kelahiran Kanjeng Nabi.

Adapun gending atau lagu yang didendangkan ada tiga yang masyhur, yaitu: gending rabbul ngalamin, gending salatan, dan gending salawat(an). Dari untaian kata atau kalimat lagu yang dimainkan sudah jelas arti maknanya. Tak bukan lain adalah sebagai wujud menghormati dan mentakdhimi Kanjeng Nabi.

Sampai di sini menjadi jelas bahwa para Wali pemula semesta keislaman di masa silam sedang ingin menempatkan puji-puji pada Kanjeng Nabi di derajat terpuncaknya, terasalnya, termulianya dengan sebisa bisanya bukan lain hanya untuk Kanjeng Nabi.

Nah, dalam untaian kalimat dalam maulid diba’, karya sastra keramat berisi riwayat Kanjeng Nabi dari abad ke-15 yang ditulis oleh Syekh Abdurrahman al-Diba’i, disebutkan betapa tidak cukupnya pepuji pada Kanjeng Nabi diungkapkan dengan umbaran kalimat-kata ataupun jerih dan upaya.

Karenanya, para Wali tanah Jawa menghormati, dan memuji pada Kanjeng Nabi dengan cara sebagaimana gending sekaten ditabuh. Ya, dengan cara seperti yang dijelaskan diatas. Yaitu telah pada tahap diatas kata-kata, tepatnya dengan bunyi.

Dengan suara gamelan yang merupakan musikalisasi ruh riwayat maulid Kanjeng Nabi. Alunannya yang menggelegar menusuk-nusuk qalbu. Makanya ia dinamakan Kyai Sekati (seseking ati). Wallahu a’lam bishowab. Allahuma sholli ngala Sayyidina Muhammad.

Artikel ini telah dibaca 112 kali

Baca Lainnya
  • 18 November 2020 - 02:32 WIB

    Muhammadiyah