Misteri

Selasa, 13 Oktober 2020 - 00:38 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Memaknai Motif Batik Trimina

Sebagaimana batik tak hanya sekedar sandang atau pakaian saja, namun lebih dari itu. Jika ibarat batik adalah rajah, dan isinya adalah doa. Doa dibawakan dengan simbol yang dituangkan dalam canting menjadi sebuah karya batik.

Atau batik adalah gambaran sebuah laku kehidupan dari proses lelakon, dimana batik adalah bagaimana mengolah lekukan dan tekukan, lekukan yang menjadi indah dipandang, dan nyaman untuk dipakai, dan digunakan. Sebagaimana kita menjadikan lelaku ini untuk mengolah hal semestinya dan seharusnya bagaimana?

Selain secara visual bagus, juga kain yang dipakai untuk membatik berfungsi untuk mendokumentasikan peristiwa masa lalu, tak hanya itu juga sebagai wasilah membangun mengingat para leluhur.

Motif batik pun terinspirasi dari mana pun dan menyesuaikan lingkungan sekitar, bisa saja diambil dari relief candi, mitologi, jirat pada nisan, sampai hewan yang sudah punah, dan lain sebagainya.

Seperti halnya simbol ikan yang dituangkan dalam sebuah karya batik. Trimina atau iwak telu sirah sanunggal, dengan simbol ikan digunakan menjadi media untuk menyampaikan pesan dakwah terutama ajaran tasawuf dimana menyesuaikan dengan laku sepiritual kehidupan sehari-hari.

Simbol ikan berbadan tiga kepala tunggal atau trimina ini, dari aspek sosial mengajarkan kebhinekaan. Betapa semua kita berbeda satu dengan lainnya, wujud dhohir kita tampak beraneka ragam, namun sesungguhnya semua mempunyai titik yang satu, semua adalah sama-sama sebagai hamba Tuhan. Bhineka Tunggal Ika.

Ikan atau “Iwak”, dari kerata basa “Ikhlas ning awak”, yang di tadabburi dan bermakna keikhlasan atas ketetapan Tuhan terhadap diri manusia (nafs) yang kemudian simbol pada lambang itu sendiri juga menggambarkan manunggalnya rasa seorang hamba terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Ikan menggambarkan tingkatan seseorang yang sudah mencapai jati diri yang menerima segala ketentuan ketetapan sang pencipta. Kepala ikan yang tunggal melambangkan ke-Esa-an.

Kemudian Iwak telu sirah sanunggal juga merupakan ilustrasi ajaran tarekat Syattariyah yang menjelaskan makna ora pecat (kebersatuan), baik antara Adam (manusia) Muhammad (syariat) dan Allah, antara jasad, roh dan Allah, maupun kesatuan tauhid antara dzat, sifat dan af ‘al (perbuatan).

Pada sebuah artikel yang pernah saya baca terkait dengan simbol tersebut dengan mengutip Kitab Babon Petarekatan. Opan, panggilan akrab Raffan S Hasyim menambahkan, simbol ikan dapat juga dimaknai sebagai ilustrasi konsep manunggaling kawula gusti (wihdatul wujud) atau penggambaran dari penjelasan ayat Wallahu ‘ala kulli syaiin mukhith (Sesungguhnya Allah atas segala sesuatu Maha Meliputi).

Lanjut terkait dengan Ahadiyyah, Wahdah dan Wahidiyyah merupakan 3 pertama dari Martabat Tujuh, sebuah konsep ketuhanan yang pertama kali dikemukakan oleh Ibnu Fadhilah, seorang sufi dari India. Ajaran ini dipengaruhi oleh Ibn ‘Arabi yang diadopsi oleh para sufi di tanah Jawa.

Salah satunya adalah Raden Ngabehi Ranggawarsito pada Suluk Hidayat Djati (kalau salah mohon koreksinya) Menurut ajaran Martabat Tujuh, Tuhan menampakkan Diri dalam tujuh tingkatan atau Martabat : Ahadiyyah-Wahdah-Wahidiyyah-Arwah-Misal-Ajsam-Insan Kamil.

Perihal tentang yang dituliskan terkait martabat tujuh, saya yang masih awam hal tersebut tentunya hanya sekedar tulisan dan sebagai pelengkap penjelasan tulisan diatas terkait trimina, butuh data dan insight lagi pastinya.

Yang mana dalam memaknai motif batik trimina ini adalah wujud dari ngalap berkah para Ulama, tabarrukan dengan memakainya sebagai mengingat peran para leluhur lewat batik, ikhtiarnya batik ini tak hanya sebagai sebuah sandang atau rasukan saja, tetapi menjadi sebuah ageman. Wallahu a’lam bisshowab.

Artikel ini telah dibaca 52 kali

Baca Lainnya