milsafat

Selasa, 22 September 2020 - 18:04 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Tradisi Ilmu di Jawa

Ilmu dalam tradisi Jawa hingga hari ini sering dipersepsi dengan tumpukan konotasi peyoratifnya, yakni sebagai sesuatu yang dekat dengan nuansa klenik, gaib, serta dekat dengan perilaku jin, juga bantuan demit, dan oleh-karenanya sering disejajarkan dengan kebudayaan animis-dinamis, masyarakat pagan.

Apakah benar demikian? Dengan menelusur warisan “Serat Wedhatama”, dimana idiom “ngelmu iku kelakone kanthi laku” biasanya dicomot darinya, kita akan segera tahu, bahwa pemahaman corak ngilmu seperti di atas, khususnya dalam tradisi Jawa, jauh dari persangkaan demikian.

Wedhatama menyebut ngilmu dengan nuansa gaib seperti di atas hanya merupakan simpanan perbendaharaan “ilmu karang” (kekerane ngilmu karang), sejenis ilmu dari hasil relasinya dengan benda atau mahluk gaib. Ia dikatakan merupakan “bedak” (iku boreh paminipun) kata Wedhatama.

Tidak akan masuk ke dalam tubuh. Ia hanya superfisial dan berada di luar tubuh. Malah, jika ilmu tersebut dicari oleh orang yang masih terbelit oleh pamrih keduniaan dan egotism, ia justru akan mengelabui seseorang (yen mengkono kena ingaranan ketungkul), yang membuatnya menjadi sombong, ingin selalu tampil unggul, dan hanya membenarkan nafsunya untuk mengalahkan yang lain (lumuh asor kudu unggul, semengah sesongaran, karem ing reh kaprawiran).

Ilmu dalam tradisi Jawa akan diekplorasi seturut paparan puzzle kata dan kalimat dalam Wedhatama sebagai olah diri manusia untuk mengutuhkan kediriannya, yakni sebuah laku (baca: suluk) mendayakan budi (sembah raga, cipta, Jiwa, dan rasa) manusia dalam bingkai perjalanan besar sangkan-paran hidupnya.

Dari gambar tersebut kita akan tahu, seperti halnya kata “ilmu” itu diserap dari kata Islam, ternyata “ngilmu” dalam tradisi Jawa sebenarnya masih dipahami dalam kerangka pandangan dunia agama ini, tepatnya tasawuf, setidaknya seperti tereksplisitkan dalam teks-teks seratnya.

Namun, belakangan hari, para sarjana Barat juga orang Indonesia berpendidikan justru berusaha sekuat tenaga untuk menempatkan ngilmu di luar dari kerangka bingkai tersebut.

Senapas dengan tujuan puncak Islam untuk menyempurnakan Akhlak, ternyata tujuan puncak Ilmu dalam tradisi Jawa adalah budi utama, agar ia semakin mengenali dirinya sendiri (mulat sarira/mawas dhiri/ma’rifat/man arafa) untuk tujuan keutuhan kemanusiaannya (insan kamil/jalma utama).

Karena agama yang tak bisa meningkatkan nilai kemanusiaan dengan bungkus baju akhlak tubuh kelakuannya, ia kehilangan fungsinya (agama ageming aji, mring atining tatakarama, ngon anggon agama suci).

Karena pada dasarnya capaian ilmu Jawa ujung puncaknya sebenarnya adalah “menciptakan rasa enak pada hati sesama” (memangun karyenak tyasing sasama). (IA)

Artikel ini telah dibaca 55 kali

Baca Lainnya
  • 11 September 2020 - 03:08 WIB

    Multiveritas