Ngaji Naskah

Sabtu, 19 September 2020 - 20:09 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Het Book Van Bonang

Suluk Bonang

Dua karya ini saya temukan dari keajaiban mbah google. Yang pertama adalah “Het Book van Bonang” yang ditulis Schrieke di tahun 1916, dan yang kedua “The Admonisions of Seh Bari” yang ditulis G.W.J. Drewes sebagai revisi atas karya yang pertama.

Dua karya tersebut, yang sebenarnya memuat satu teks sama, adalah kitab atau serat yang dialamatkan pada Sunan Bonang.

Karya wali tanah Jawa pencipta tembang Durma ini mungkin tak akan pernah bisa saya baca, jika saya tak kuliah di Leidens. Tapi internet dengan kuota 2 giga membantu saya mendapatkannya.

Salinan kropak naskah ini pernah dikirimkan ke perpusnas, namun sayang ia katanya tak lagi utuh, nyaris tak terbaca. Jadi, teks Jawa yang ada dalam dua karya ini benar-benar akan membatu projek kecil saya, yakni menyusun secara runtut perkembangan pemikiran filsafat pandangan dunia Jawa—katakanlah begitu—terutama di masa fajar Islam Indonesia, khususnya di zaman Wali, juga berlanjut ke masa kapujanggan Mataram, masa tokoh pergerakan nasional yang bersentuhan dg ide barat dan Islam, hingga para begawan Jawa paska kemerdekaan.

Hal ini penting, mengingat, para wali kita dikenal hanya dari tradisi tutur dengan berbagai versinya. Itupun terkait cerita historis tentang karamah dan petilasannya, dengan sedikit ujaran dan ajaran yang simpang siur yang dilekatkan pada mereka.

Belum ada usaha untuk membahas ajaran-ajaran mereka secara memuaskan, alih-alih menyusun secara skematis dalam koridor metodologi filsafat yang bisa diuji secara akademik.
Hal terakhir ini tidak penting bagi masyarakat kita, namun perlu bagi tradisi keilmuan kita.

Hanya dengan cara itu pembahasan itu “berbunyi” di tingkat forum keilmuan, dan juga lebih dari itu, ia bisa diuji secara terus-menerus kesahihannya, juga “kredibel” secara pengetahuan, yang akan mempermudah kita mengintitusikan ajaran-ajaran para Wali tersebut pada level keilmuan di institusi-institusi pengajaran kita.

Jujur saya cemburu pada Muhammad Iqbal, filsuf-penyair pendiri negara Pakistan itu, saat merampungkan Desertasinya “The Development of Metaphysics in Persia” di Oxford. Dia dengan lihai bisa merumuskan pandangan Metafisika bangsa persia, dari sejak masa Manu, Zoroaster, Penyair Sufi, Kalam (teologi), Hingga masa filsuf-sufi yang pernah hidup dan membentuk pandangan dunia Persia hari ini.

Saya tak terlalu yakin, apakah saya mampu merampungkan ini. Masa awal Islamisasi para wali adalah masa paling gelap dalam sejarah kita. Tentu selain masa-masa Hindu-Buda di Nusantara. Ini belum menghitung perumusan konsepsi pandangan filsafat di era para pujangga mataram, saripati gagasan filsafat tokoh-tokoh pergerakan yang telah bersentuhan dengan ide-ide besar seperti Marxisme, Demokrasi, Konsep negara-Bangsa, Reformisme Islam, Sosialisme, Kapitalisme, hingga Komunisme, juga para pemikir Jawa setelah kemerdekaan.

Setidaknya dari bacaan awal saya terhadap dua teks ini, gagasan-gagasan Syeik Bari, murid Sunan Bonang menurut Drewes, yang muncul dalam “pitutur”, bagi saya merupakan eksposisi proposisi-proposisi filsafat atas Tuhan, dunia, manusia, juga sangkan-paran hidup, yang menemukan dasarnya dalam tradisi tasawuf, yang membentuk pandangan Jawa hingga hari ini.

Gagasan “nafi” (negasi) dan “istbat” (afirmasi) dalam persaksian akan ketunggalan Tuhan dalam “iman”, “tokid” dan “makripat” misalnya, muncul di banyak bagian dalam teks Jawa yang telah ditransliterasikan dalam huruf latin secara apik oleh Drewes ini, seperti halnya ia juga muncul di serat Wirid Hidayat Jati, Suluk Saloka Hati, Centhini (Tambangraras), maupun karya-karya babon primbon, serat, maupun suluk pada umumnya.
Konsep pamoring kawula gusti, sangkan paran, “sipat” attributif tuhan, doktrin tuhan sebagai “rasha”-nya manusia, Jagad Gede sebagai kelir manifestasi Tuhan juga cermin Tuhan, hingga pembelaan “kebatinan” Ghazali, atas tradisi syeik sufi lain, seperti Nuri dan Jaddi, juga kritik pandangan “menyimpang” atas tafsir kalangan Batiniyyah, Karamiyah, dan Mutangaiyah.
Syeikh Bari, menurut keterangan Drewes, adalah Seh Bari Karang Banten, seperti ditunjukkan Primbon dari Wanayasa (Banyumas) koleksi Snouck Hourrgronje sebagai “Seh Bari ing Kawis”. Seperti lazim diketahui, banyak teks jawa membenarkan adanya “pesantren” pusat tarekat terkenal itu, seperti diceritakan Serat Centhini, dimana pertapa Danadarma di gunung semeru mengatakan pada Cebolang, bahwa ia pernah berguru di pesantren Karang selama tiga tahun dalam asuhan Seh Kadir Jelana di Karang.
Juga Jayengresmi, putra sunan Giri, dalam pupuh di Centhini, sempat tinggal di sana dan diberi nama baru Amongraga oleh Kyai pesantren tersebut (Ki Ageng Kawis).
Naskah “Suluk Bonang” inilah yang juga dikutip oleh Zoetmulder dalam karyanya “Manunggaling Kawula Gusti” yang mashur itu.
Namun Drewes memberi catatan dalam edisi revisinya “Pitutur Seh Bari” dan mewanti-wanti pembaca, bahwa bagian-bagian teks tanya-jawab antara Seh Bari dan murid-muridnya tidak ditemukan dalam “Het book van Bonang” edisi Schrieke. “The Admonition of Seh Bari” adalah versi penyempurnaan teks, terjemahaan, tanda baca, pemenggalan, ejaan, dan tentu tafsir baru.
Khusus untuk naskah pertama, yang berbahasa Belanda lama, tentu saya tak bisa membacanya.

Tapi saya hanya butuh teks asli berbahasa Jawa di dalamnya. Belum lagi itu sudah disempurnakan oleh Drewes di edisi revisinya dalam bahasa Inggris, bahasa yang bisa saya akses. Dan tentu ini membuat saya senang. Google benar-benar luar biasa. (IA)

Artikel ini telah dibaca 83 kali

Baca Lainnya