milsafat

Minggu, 13 September 2020 - 20:38 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Islam Njawani

Kejawen itu islam Jawa (Islam Jawa bercorak sufi) di zaman Walisongo sampai mataram awal.

Meski belakangan, setelah kolonialisme berusaha memisahkan Islam dan Jawa tentunya, kalangan kejawen akhirnya terpisah dari “muslim terbarui” yang juga menjauhi warisan Islam Jawa-nya. Akhirnya menjadi kejawen terpinggir dan dijauhi dari Islam ditinggalkan dan akhirnya juga semakin menjauh.

Karena semakin jauh dan dijauhi kejawen akhirnya tambah jauh dari syariat yang awalnya sebenarnya satu paket.

Misalnya yang disebut sebagai kitab inti kebatinan Jawa “Serat Wirid Hidayat Jati” seperti dikatakan penulisnya sendiri, Ranggawarsita, dalam paragrap awalnya tertulis “hanya menyampaikan wiridnya yang disampaikan para Wali tanah jawi, Sunan Ampel, Sunan Bonang, dll.”

Dulu istilah “abangan” sebagai istilah yang mengacu pada kelompok orang yang berkait dengan preferensi agama baru muncul setelah 1850-an Kata Ricklefs.

Alias setelah perang Jawa (1825-1830), atau setelah para “muslim baru” terpengaruhi Islam terbarukan di jazirah Arab yang sudah berkurang tasawufnya setelah terbukanya terusan suez 1869, balik dari pulang haji.

Istilah santri priyayi abangan sebenarnya dampak politik pecah belah kolonial yang berusaha menampik ke-islam-an orang, atau setidaknya dengan mengaburkannya istilah sinkretik, dll. Karena selama orang Jawa masih Islam maka peristiwa perang Diponegoro akan berulang dan kolonialisme tidak akan tenang.

Setelah perang Jawa, dibentuklah lembaga javanologi yang berusaha mendefinisikan “jawa” yang terbebas dari Islam dan dikaitkan lagi dengan warisan sebelumnya yang telah kabur.

Pencarian naskah-naskah “hindhu” majapahit akhirnya ditemukan oleh belanda baru abad 19 akhir dan awal abad 20. Sejak saat itu kejawaan direkontruksi dibentuk secara baru. Bahwa kejawen itu berorientasi pra-Islam dan narasi itu bertahan hingga hari ini.

Padahal Kejawen adalah kejawaan. Persis seperti pasemon dari pasemuan. Jadi itu ditemukan dari dulu dan bukan istilah khusus. Baru menjadi makna khusus menunjuk kelompok atau aliran yaitu saat ada aliran kebatinan yang baru muncul di awal abad 20, mendekati proklamasi.

Setelah masyarakat kita dipecah belah oleh belanda setelah perang Jawa. Akhirnya begitu warisannya kita tinggalkan karena dikira Hindu seperti dibentuk oleh javanologi belanda di tahun 1830.

Sebenarnya salah satu sosok Islam Jawa adalah Pangeran Diponegoro. Nyantri bawa keris, tirakat di tempat keramat, menonton wayang, mengamalkan wirid, menembang macapat, punya jimat, menulis tembang, bisa nari, dan lain-lain.

Jika dibuka pada primbon isinya rajah huruf arab, petungan (dari ilmu falak), amalan tirakat (puasa, kungkum, dan lain lain manifestasi suluk tarekat di zaman itu), ngelmu sufi yang telah dikontekkan di Jawa seperti ngelmu kasampurnan yang ditulis oleh primbon attasadur sebagai “tetuladan saking kitab tesawuf” ngelmu sangkan paran dan lain sebagainya. Nah, Ilmu-ilmu inilah dikira hindu oleh sebagian orang sampai hari ini.

Padahal yang ada di primbon primbon itu semua emperis dan tentunya bersanad. Tentunya untuk kedepan bakal ada momentum tradisi Islam yang Jawa akan kembali, bukan berarti hari ini tidak ada tetapi bakal ada momentum Islam yang berkebudayaan, Islam yang kaffah yang rahmatan lil’alamin..

Wallahu a’lam bishowab..

Artikel ini telah dibaca 184 kali

Baca Lainnya