Talks

Rabu, 9 September 2020 - 20:20 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Formula Dakwah Kiai Sadrah

 

Formula Dakwah Kiai Sadrah

Kiai Sadrah meramu tradisi Jawa dan Islam di Jawa untuk menyebarkan dan membentuk jamaah Kristen di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Gereja yang dibangunnya serupa masjid dan ia berdakwah memakai bahasa Jawa. Ia lahir di pantai utara Jawa Tengah pada 1830-an dan meninggal dunia pada 1924 serta dikuburkan di Kabupaten Purworejo.

Sejumlah literatur mengisahkan bahwa Kiai Sadrah pernah belajar di pesantren-pesantren di Jawa Timur namun tanpa satu pun data nama pesantren atau nama kiainya. Juga diceritakan bahwa pada masa mudanya Kiai Sadrah pernah belajar di Pesantren Tebuireng di Jombang dan Pesantren Gontor di Ponorogo. Namun cerita ini anakronistik karena pada masa itu (pertengahan abad ke-19) kedua pesantren itu belum ada.

Radin, demikian nama asli Kiai Sadrah, belajar agama Kristen kepada Jellesma pada 1850-an di Mojowarno. Sadrah adalah nama baptis. Jellesma bekerja sebagai misionaris awal di Jawa yang tiba di Surabaya pada 1848. Jellesma melebur dengan masyarakat Jawa Timur sehingga bisa mengenali profil kehidupan mereka.

Jellesma bertugas sebagai misionaris di Mojowarno, sebuah kampung Kristen di Jombang yang berdiri sejak 1844. Ia menjadi misionaris di Mojowarno sejak 1851 hingga ia meninggal dunia pada 1858.

Kiai Sadrah sebenarnya tak menempuh jalan baru dalam penyebaran Kristen. Ada dua nama lain sebelum Kiai Sadrah yang telah menyebarkan agama Kristen dengan meramu tradisi Jawa dan Islam. Mereka adalah Kiai Tunggul Wulung dan Conrad Lauren Coolen.

Kiai Tunggul Wulung berguru kepada Jellesma di Mojowarno. Nama baptisnya adalah Ibrahim. Ia berasal dari Jepara dan merantau ke Kediri. Dengan meramu tradisi Jawa dan Islam ia membentuk jamaah Kristen di daerah Bondo, Jepara. Kiai Sadrah juga berguru kepada Kiai Tunggul Wulung atas rekomendasi dari Jellesma. Pada 1885 Kiai Tunggul Wulung meninggal dunia dan dikuburkan di Bondo.

Seperti Kiai Sadrah, masa lalu Kiai Tunggul Wulung sangat minim yang teridentifikasi. Latar belakang kehidupan mereka gelap. Sebagian besar catatan tentang kiprah mereka bersumberkan laporan pemerintah kolonial dan misionaris Belanda.

Sebenarnya, Mojowarno bukan kampung Kristen pertama di Jawa Timur. Sejarak 10 km dari Mojowarno telah ada kampung Kristen di Ngoro, Jombang. Kampung Ngoro dirintis sejak 1827 dan dipimpin oleh Indo Jawa-Belanda bernama Conrad Lauren Coolen yang lahir di Semarang pada 1770/1780-an. Coolen meramu tradisi Jawa dan Islam dalam penyebaran agama Kristen sebelum masa-masa kiprah dakwah Kiai Tunggul Wulung dan Kiai Sadrah.
Coolen mengajarkan “Syahadat Kristen”, sebuah ikrar yang diucapkan bagi yang hendak menjadi umat Kristen. Ikrar ini dengan kombinasi bahasa Arab dan Jawa. “Laa ilaa ha illallah, Yesus Kristus ya roh Allah”.

Sebuah gereja dibangun oleh Coolen dan jamaahnya di Ngoro. Coolen meninggal dunia pada 1873 dan dikuburkan di Ngoro pula.
Para penghuni awal kampung Mojowarno semula adalah warga kampung Kristen-nya Coolen di Ngoro. Sebelum ke Mojowarno, mereka mendiami daerah Sidokare, Surabaya.

Di sekitar Surabaya dan pada masa-masa itu pula ada kampung Kristen bernama Wiyung yang warganya menerima pengaruh ajaran Coolen melalui modin kampung Wiyung bernama Dasimah yang pernah berguru kepada Coolen.

Kampung Ngoro dirintis oleh Coolen semasa dengan periode Perang Jawa. Perang ini dipimpin oleh Pangeran Diponegoro sejak 1825 dan berakhir pada 1830. Politik identitas Islam merupakan sebagian semangat yang mengobarkan perang besar melawan Belanda. Perang ini melibatkan dukungan masyarakat Islam di Jawa hingga ke wilayah pelosok desa-desa.

Coolen adalah indo Jawa-Belanda yang dekat dengan pemerintan kolonial. Sebelum menjadi pemuka Kristen di Ngoro, Coolen adalah pelukis di sebuah kantor pemerintah kolonial. Kemudian ia menjadi tentara pemerintah kolonial di Surabaya dan di kota ini ia menikahi gadis Belanda hingga beranak lima.

Lalu Coolen diangkat menjadi pengawas hutan di Mojoagung (saat ini masuk wilayah Kabupaten Jombang) dan menikahi gadis setempat, Sajiah, di sebuah masjid. Bersama istri barunya ini Coolen meninggalkan Mojoagung pada 1827.

Coolen menyewa lahan baru untuk masa sewa 25 tahun di Ngoro yang kala itu masih hutan belantara. Di wilayah pelosok inilah Coolen merintis sebuah kampung Kristen.

Kiai Sadrah tak bisa dilepaskan formula dakwahnya dari riwayat misionaris Jellesma, Kiai Tunggul Wulung dan tentu saja Coolen. Besar dugaan bahwa Kiai Tunggul Wulung dan Kiai Sadrah adalah kader misionaris Jellesma.

Sebagian otoritas gereja dan birokrasi pemerintah kala itu ada yang pro dan yang kontra kepada Coolen, Tunggul Wulung dan Sadrah, namun demikian kiprah para pendakwah Kristen di desa-desa pelosok itu terus berjalan dan membekas hingga sekarang. (Binhad N)

Artikel ini telah dibaca 71 kali

Baca Lainnya
  • 26 Agustus 2020 - 20:45 WIB

    Kyai Kategan