Talks

Minggu, 30 Agustus 2020 - 17:17 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Belajar Menjadi Jawa

Belajar Menjadi Jawa

Belajar bahasa jawa, bukan persoalan menguasai tata-bahasa dan kemampuan mengingat fotografi aksara hanacaraka. Kalau gak diikuti dengan laku hidup prihatin, prasaja, apa adanya, jujur, dan rela menanam diri ke dalam tanah, berbahasajawa akan sulit diamalkan sekalipun oleh orang yang lahir sebagai suku-bangsa jawa, kecil-besar di jawa, dan beranak-nikah di jawa.

Sekalipun berhasil berbahasajawa, kalo gak dibarengi sama laku-laku prihatin itu tadi, bahasa itu hanya akan nampak sebagai formalitas. Gak memunculkan akhlak. Dan, terlebih lagi, akan payah untuk memahami makna tingkat ketujuh setiap kata-kalimat dalam bahasa jawa, yang biasa disebut makna lungid.

Ada banyak ahli ilmu dari negeri walanda yang fasih berbahasa Jawa dan mahir membaca teks-teks kuno Jawa, tapi mereka hanya sampai di makna kulitmuka saja. Menjadi wajar bila “jangka jayabaya” cuma dimaknai sebagai “ramalan jayabaya”. Padahal, jangka itu bukan ramalan, tapi “bocoran” dari alam langit yang memang begitulah bunyinya -dan pasti terjadi dengan berbagai-macam tafsirnya.

Seturut dengan itu pula belajar nada-irama jawa. Gamelan jawa itu saja dibuat dengan terlebih dahulu si pembuat harus tirakat beberapa puluh hari. Gak makan, gak tidur, gak berhubungan kelamin, gak banyak bicara bahkan sampai menahan untuk bicara selama berhari-hari, dan gak boleh lalai dari Maha Pencipta.

Maka, gamelan itu, sekalipun beberapa elemennya diganti supaya dapat selaras dengan nada-irama musik barat-modern, tetap saja dia mengeluarkan nada-irama keramat, angker, dan ganjil.

Soalnya, sejak dari awal, langkahnya sudah keramat. Kesana-kesananya pun akan mengkeramat pula. Apalagi saat nada-irama itu dipakai untuk membaca al-Quran. Dan, dalam kekeramatan itu, sudah tidak ada lagi benar-salah, kurang-lebih -yang pada dasarnya juga hitungan kira-kira.

Yang kau saksikan dalam kekeramatan, bukanlah Tuhan sebagaimana kau kenal dalam teori-teori, defenisi dan aturan-aturan yang ada di kepalamu, tapi Tuhan sebagaimana “Dia” menampilkan diri-Nya sendiri.

Yaser Muhammad Arafat adalah pengajar Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin di UIN Sunan Kalijaga, ia juga merupakan seorang pelajar Islam Jawa.

Artikel ini telah dibaca 329 kali

Baca Lainnya