Talks

Rabu, 26 Agustus 2020 - 20:45 WIB

4 minggu yang lalu

logo

Kyai Kategan

Kyai Kategan

Pertembungan saya dengan makam wali ini, Kyai Ageng Ahmad Kategan, mewaktu sekira pertengahan tahun 2011. Setelah itu, ada banyak karib yang minta diantarkan ke sana. Baik untuk menggenapkan pengetahuan perihal makam-makam kuna, maupun tentu untuk mengirim sekuntum doa.

Bila bertakdir untuk melewati kawasan di selingkungan makam ini, saya sering berjuang untuk memampirkan diri. Bila tidak, paling hanya sebatas membacakan dua-tiga baris kalimat suci dan salawat untuk sang wali.

Lucunya, saya kerap terperosok ke dalam kerinduan untuk kembali lagi ke sana. Ingin sowan lagi, membakar dupa lagi, merapalkan doa-doa lagi. Di antara banyak makam yang kita ziarahi, biasanya memang ada satu-dua makam yang dirasakan cocok dan menyamankan.

Biasanya kecocokan dan kenyamanan itu terpaut dengan cetakan darah, sepuhan ilmu, dan terlebih lagi kemiripan cuaca batin dengan sang sahibul makam yang diziarahi. Lain masa akan kita percuapkan lebih mengkesana.
***
Kyai Ahmad Kategan, atau biasanya disebut Kyai Kategan, termasuk dalam kelompok “Kyai Ageng” setelah masa para wali sanga. Gelar “Kyai Ageng” ini menandakan bahwa sang pemilik gelar merupakan seorang guru besar dalam ilmu kasunyatan atau ilmu yang dalam khazanah ilmu-ilmu kesilaman di arab disebut: makrifat. “Kyai Ageng” bersemakna dengan gelar “al-Syaikh al-Akbar”.

Di negeri padang pasir, sejauh ini gelar itu merupakan anugerah bagi sang quthb makrifat pada masanya, Ibnu Arabi. “Kyai” sama dengan “al-Syaikh”. “Ageng” sama dengan “al-Akbar”.

Dalam peta tata kekaratonan mataram Islam pada zamannya, Kyai Kategan adalah ulama yang dilambangkan dengan gajah (liman). Itu berarti sang linambang tersebut merupakan ulama yang ikut dalam penataan kebijaksanaan melalui jalur pengajaran ilmu pengetahuan dan seturutnya untuk orang banyak.

Maklumat ini mengantarkan pemahaman penting pada kenyataan bahwa Kyai Kategan adalah seorang penghulu yang diminta langsung oleh Sinuwun Sultan Agung Hanyakrakusuma. Sekedar kabar tambahan, selain “gajah”, ada pula lambang “kyai ageng” lainnya di jawa, yaitu lebah (bramara) dan biawak/buaya/bajul (sarira). Mudah-mudahan lain kali tajuk ini akan kita perkalamkan.
***
Keistimewaan Kyai Kategan ada di situ. Ia menjadi sosok keramat dalam kerja penyusunan-ulang peradaban (cakra manggilingan) yang dikrida-laksanakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Sebagai seorang pemegang tampuk kendali berjeneng (bernama-ruh) “Hanyakrakusuma”, Sultan Agung memang tertakdirkan untuk memulakan pemanunggalan tata-hidup beralas peradaban bulan (candra) dan peradaban matahari (surya) yang sebelumnya masih terpisah.

Jeneng “hanyakrakusuma” itu sendiri sebelumnya hanya ditakdirkan untuk Sunan Bonang, yang digelari “Ratu Wahdat” alias sang pengampu perkara ke-muhammad-an (wahdatul muhammadiyah). Dengan demikian, gerak-gerik kebijakan Sultan Agung mewarisi kewajiban pembumian perkara ke-muhammad-an dari Sunan Bonang.

Hingga kini, polesan peradaban baru yang bersumber dari tangan Sultan Agung melestari dalam banyak hal. Satu di antaranya adalah ilmu matematika-amali (ilmu falak) kawula jawi. Mulai dari babak penghitungan mangsa, pemilihan pekerjaan, perbintangan, tafsir mimpi, hitungan waktu terbaik untuk bepergian, hingga perjodohan. Semua itu, di jawa, merupakan perkara ke-muhammad-an. Menjadi maklum bila nama Kanjeng Nabi saw dan amal salawat kepadanya lantas menyumsum di dalam kebudayaan jawa. Kyai Kategan ada di pusat kerja pembumian ke-muhammad-an itu di tanah Jawa.

Lambang “wulan tumanggal” atau “bulan sabit” yang terpahat di nisannya dan nisan makam-makam pada zaman itu serta setelahnya ada di ranah wicara ini. maksudnya: “wala-nata-manggala”. Jadi bulan sabit di makam-makam kuno dan di warangka keris itu bukan lambang kekhilafahan Turki Usmani. Pada titik ini, sangat mendesak untuk membaca kebudayaan di tanah ini dengan pawidyan (epistemologi) pribumi. Bukan pawidyan kamilondonan dan kamiaraban.

Jeneng “Kategan” berasal dari bahasa kawi. “Kategan” berarti: telah meninggalkan keduniaan (wis ninggal kadonyan). Ia juga berarti orang yang tapa (suluk)nya telah menyempurna (kasutapan). Ada satu makna tingkat lanjut dari jeneng “Kategan” ini.

Bahwa ia mendalilkan perihal sang pemilik jeneng sebagai seorang ulama (pandhita) pemegang ijazah untuk mengajarkan dan menjaga keberlangsungan penerapan alam-pikiran triloka/trimina/tribhuwana/tripandurat dalam perjalanan sejarah. Tentu butuh ruang lain untuk mencacah bagian ini.
***
Pasarean atau makam Kyai Kategan ada di kampung-kubur Kenanga Mulya. Terletak di barat Masjid Taqorrub, Kanggotan, Plered, Bantul, Yogyakarta. Ia berada di dalam sepetak ruang terbuka bersama 4 makam lain. Masjid Taqorrub agaknya merupakan Masjid Kauman atau masjid Karaton pada masa Karaton Kerta di zaman Sultan Agung. Sekira 100 meter ke selatan dari masjid ini, terdapat Situs Kerta yang diperkirakan sebagai Karaton pada masa itu.

Ada banyak makam-makam kuno dan orang-orang besar lain yang memukimi kampung-kubur di sana. Mulai dari; Kyai Abdullah, gurunya Mbah KH Munawir; Kyai Ageng Suryomentaram; KPH Tjakraningrat yang menghimpun hastaweda (delapan buntel) Kitab Primbon Betaljemur Adamakna; makam-makam trah Nitinegaran, dan masih banyak para priyagung lainnya. Kawasan ini dulunya merupakan pusat keramaian. Di sinilah kraton Sultan Agung berdiri.

Naskah-naskah Jawa menyebut namanya: Amat Kategan. Jabatannya adalah penghulu Kraton pada masa Sinuwun Sultan Agung Hanyakrakusuma. Kira-kira secuil-mirip dengan menteri agama pada hari ini. Nama sang penghulu negeri Mataram ini tercantum di dalam beberapa naskah-naskah.

Mulai Serat Centhini, Kitab Primbon Betaljemur Atassadhur Adamakna, Babad Sultan Agung, dan masih banyak lagi. Peninggalan berharga Mbah Kategan adalah kitab anggitannya; Suluk Makripatolah. Sebuah karya atau naskah yang disebut “suluk” berarti karya itu merupakan cerita nyata perihal perjalanan batin (suluk) sang penganggit. Kira-kira seperti Kitab Al-Hikam Ibnu Athaillah, yang tiada lain merupakan rekaman perjalanan batin sang guru ketiga dalam bangunan Tarekat Syadziliyah itu.

Nama Kyai Kategan juga masih hidup dalam cerita tutur masyarakat Yogyakarta. Terutama para sesepuh. Saya pernah menyowani Mbah Jamhari, seorang sepuh berusia lebih 90 tahun yang berumah di Manisrenggo, Klaten. Mbah Jam, begitu biasa ia dipanggil, bercerita perihal Kyai Kategan yang setiap waktu menunaikan salat di Mekah.

Bila Sultan Agung yang mengajaknya untuk salat ke Mekah, maka sebelum sang sultan sampai menginjakkan kaki di tanah suci itu, Kyai Kategan sudah lebih dahulu berada di sana. Begitu sebaliknya. Bila Kyai Kategan yang mengajak, maka sang Sultan pewaris sanad ilmu Sunan Bonang itu telah sampai di sana mendahuluinya.

Kyai Kategan juga tercatat sebagai kawan guyonan Sultan Agung. Dikisahkan dalam cerita tutur warga mataram, yang juga tercatat dalam Babad Nitik Sultan Agung, bahwa suatu ketika Kyai Kategan didawuh untuk datang ke Kraton. Tapi ia enggan. Padahal ia ditugaskan untuk membacakan doa. Setelah beberapa kali dipanggil, ia tetap tidak mau datang. Setelah tiga kali menolak, Sultan Agung memanggilnya lewat utusan khusus.

Singkat cerita, Kyai Kategan akhirnya berkersa untuk merawuh membacakan doa. Tapi ketika doa baru sampai di lafal salawat nabi, satu-satu lauk-pauk yang telah dihidangkan tiba-tiba hidup kembali. Ayam, sapi, kerbau, ikan, semuanya berlompatan di atas meja hidang. Akhirnya acaranya dibatalkan. Sultan Agung, Kyai Kategan, dan para hadirin tertawa terpingkal-pingkal.

Ada banyak kisah-kisah Kyai Kategan lainnya yang menandakan bahwa sang wali besar ini adalah sosok jenaka. Coba saja hikmati kejenakaannya lewat kutipan dari Suluk Makripatolah dalam tembang bermetrum sinom. Kyai Kategan menjelaskan sikap nrima sebagai buah dari pengetahuan tuntas tentang Gusti Allah, namun diungkapkan dengan kejenakaan:
Dadi mantep temen nrima, serik-serik sampun sumingkir, sukure kandas ing manah, trimane katiban sakit, tan ngrasula sajekti, manggih mulja tuhu sukur, mupangate wong nrima, gunging gudha padha wedi, kang nireksa sakarate tanpa godha [jadi benar-benar mantap menerima, keraguan telah tersingkirkan, rasa syukur benar-benar menyatu di dalam hati, sehingga menerima bila tertakdirkan untuk sakit, tidak mengeluh sedikitpun, kemuliaan adalah pangkal syukur, itulah buah untuk orang yang bersifat nrima, semua godaan jadi takut, sehingga di akhir hidupnya akan lurus tanpa godaan]

Gampang angiling sekarat, gampange jen muta tuli, rumangsa tan duwe dunga, nrimo mati dadi dhemit, nadyan dadija sapi, dadi wedhus dadi asu, tanapi dipun gada, tjinemplungken nraka api, legalira tan ajrih sumanggeng karsa [mudah untuk menjalani sakaratul maut, menjadi gampang jika sudah buta dan tuli, yaitu merasa tidak punya doa, menerima jika mati menjadi hantu, sekalipun akan jadi sapi, jadi kambing dan juga anjing, atau disiksa dengan gada, yang dicemplungkan ke neraka, tetap lega dan tidak merasa terganggu karena sudah mempersilakan mau diapakan].

Merasa tidak punya doa, menerima jika jadi hantu, jadi sapi, jadi kambing, dan bahkan jadi asu. Bukankah semua itu kejenakaan yang mewah di zaman ini? Wallahu a’lam.

Linnabi wa li Kyai Ageng Ahmad Kategan, alfatihah…..
Allahumma shalli ngala sayyidina Muhammad wa ngala alihi..

 

Yaser Muhammad Arafat adalah pengajar Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin di UIN Sunan Kalijaga, ia juga merupakan seorang pelajar Islam Jawa.

Artikel ini telah dibaca 135 kali

Baca Lainnya