Talks

Kamis, 20 Agustus 2020 - 18:52 WIB

1 bulan yang lalu

logo

“Yang Arab” di Jawa

Yang Arab” di Jawa

Apakah Arab itu Islam, dan dengan demikian, Bahasa Arab berarti bahasa Islam? Tentu saja tidak. Islam ya Islam. Bahasa Islam ya bahasa apa saja yang mencirikan rahmat bagi semesta alam. Arab adalah bangsa. Sama seperti Melayu, Bugis, Jawa, Sunda, dan semisalnya. Hanya saja, memang, Bahasa Arab identik dengan Islam.

Soalnya Islam memang diturunkan di tengah-tengah bangsa Arab. Keidentikan ini sulit dibantah. Kata guru saya, Pak Damami, Arab dan Islam itu bagaikan fonem dan morfem. Fonem adalah suara yang muncul saat mengucapkan huruf/morfem. Huruf “K”, kalau diucapkan, begitulah bunyinya. Memang pengandaian itu jauh dari ketepatan. Tapi boleh juga ia dikelola untuk mendekatkan pemahaman.

Keidentikan itu adalah titik pijak kelumrahan tentang betapa banyaknya manusia dari suatu suku-bangsa, terutama dalam guliran peradaban modern di Indonesia, yang melisankan kata-istilah dari Bahasa Arab ke dalam mode percakapan sehari-hari.

Terutama kata-istilah berbahasa arab sepotong-sepotong seperti; ana, antum, akhi, ukhti, ‘afwan, syukron, jazakallah, umi, abi, ustadz, syekh, mu’allim, dan sebagainya. Kata-kata tersebut merupakan satu contoh betapa “yang arab” adalah kenyataan dalam arus kebudayaan bangsa non-Arab seperti bangsa nusantara. “Yang arab” akan terus menggelinding memasuki lidah-lidah manusia mana saja.

Akan tetapi, karena “yang arab” belum tentu “yang Islam” sekaligus belum tentu “yang Jawa”, maka keberterimaan pada “yang Islam” tidak serta-merta keberterimaan pada “yang arab”. Bahkan, belakangan ini, seiring dengan mencuatnya tema Islam Nusantara, ada banyak kecurigaan terkait perlakuan terhadap “yang arab”.

Di antara banyak kecurigaan, satu-hal yang sangat membahakkan telinga adalah; bahwa Islam Nusantara dianggap sebagai penolakan beraura kebencian pada “yang arab”. Dikarenakan waktu itu juga sedang telah ramai perkara tilawah jawi, maka tilawah jawi pun ditembak sebagai ledakan kebudayaan yang berpangkal pada kebencian terhadap “yang arab”.

Dalam beberapa pertemuan, banyak juga yang bertanya kepada saya tentang tilawah jawi dalam hubungannya dengan “yang arab” dari Islam. Sebagian besar mereka mengkhawatirkan bahwa tilawah jawi ini adalah upaya untuk membuang “yang arab” dari al-Quran yang juga berarti mengenyahkan “yang arab” dari Islam.

Bahkan, di yutube, ada seorang habib populer di Jawa, yang entah telah bertabayyun dengan siapa, dengan sangat entengnya menyebut tilawah jawi sebagai sesuatu yang bervolume kebencian pada “yang arab”. Sungguh saya sangat menyesalkan hal itu. Tapi, tentu saja itu bukan urusan saya.
***
Kurang Arab apa Jawa itu? Ada banyak kata-kata Bahasa Arab yang diserap oleh Jawa, yang menandakan bahwa alam pikiran Jawa juga sejak jauh malam telah bersekepala dengan “yang arab” dari Islam.

“Beko”, kata yang biasa dipakai untuk pekerjaan “menangis” bagi anak-anak/bayi, itu dari Bahasa Arab “baka-yabki-buka’”. “Kayu”, juga dari Bahasa Arab, “hayyu”, yang artinya sesuatu yang hidup. Ungkapan minta maaf, “ngapunten”, itupun dari Bahasa Arab; “’afwun/’afwan”.

Hanya karena ada intensi penghalusan, maka ditambahlah di sana akhiran “nten”, dan hanya karena ada gambaran “perbuatan meminta”, maka ada awalan “nga”. Jadi, gejala mendadak arab yang biasanya tercermin dari kata-kata “’afwan, akhi, ukhti” sebenarnya bukan hal baru. Kalau kata-kata itu diucapkan lantaran anggapan bahwa bahasa setempat tidak islami, semoga itu bukan isyarat bahwa di sana ada wabah kelumpuhan pengetahuan mengenai asal-usul diri.

Untuk menyebut seorang guru ilmu kehidupan –yang juga dapat disebut “guru ma’rifat”, orang arab akan memakai istilah: “as-syaikh al-akbar”. Misalnya ini terdapat dalam gelar sufi dari Spanyol, Ibnu Arabi. Nah, orang-orang bertipe guru ma’rifat tersebut, di Jawa juga banyak. Akan tetapi gelar “as-syaikh al-akbar” itu diterjemahkan menjadi “kyai/ki ageng”.

Misalnya Ki Ageng Pamanahan, Ki Ageng Giring, Ki Ageng Selo. Ini tidak termasuk Ki Buyut Manuntapa, yang adalah gurunya Restu Singgih, tokoh utama dalam drama radio “Nini Pelet” zaman semasa kanak-kanak saya dulu, yang diputar sekira jam 17.00 sore.
Jika orang Jawa menanyakan kabar; “pripun kabare?”, biasanya orang yang ditanya akan menjawab: “sahe/sae”, yang juga dari bahasa arab: “sahih/soheh”.

Pohon-pohon peneduh di pinggiran jalan, oleh orang Jawa disebut pohon “gayam”. Asalnya dari kata “khayyam/Qayyam”, artinya “sesuatu yang menaungi”. Dalam kosakata sufisme Jawa, nanti istilah tasawuf semacam “Ruh Idlofi”, akan dieja menjadi “Ruh Ilafi”.

Sebagaimana “fadhilah” akan diucapkan menjadi “palilah”, “mudharat” diucapkan menjadi “melarat”, “alhamdulillah” untuk menyebut sesuatu yang dianggap kebetulan akan dieja menjadi “ndilalah”.

Mantra untuk mengangkat sesuatu yang berat, yang biasanya diucapkan oleh orang Jawa awam, berbunyi: “semelah wolo wolo kuwato”, yang diambil dari bismillah wala hawla wa la quwwata illa billah. Sebagaimana mantra untuk tetap tegak dalam kesulitan hidup, yang merupakan zikir berbunyi; “ya kayu ya kayumu” yang asalnya dari kalimat ya hayyu ya qayyum.

Tradisi penyuguhan kopi atau teh tubruk untuk setiap tamu yang berkunjung juga merupakan gambaran bagaimana kawula jawi menggauli “yang arab”. Bila ditelisik, dalam kopi atau teh tubruk tersisip ajaran Islam yang telah dieja dengan lidah setempat. Kata “tubruk” merupakan pengalih-bahasaan istilah “yang arab”; “tabarruk”. Tabarruk artinya upaya mendapatkan banyak berkah.

Dalam Islam, sebagaimana tercermin dalam berbagai sabda Nabi Muhammad SAW, tamu diakidahi sebagai penggendong berkah. Karena itu keinginan untuk mengalap berkah sang tamu, oleh sang tuan rumah disimbolkan dalam bentuk suguhan teh atau kopi tabarruk, yang pengucapannya telah dialih-ubah menjadi teh atau kopi tubruk.

Contoh lainnya adalah kue; ketan, kolak, apem. Di Jawa, tritunggal materi goyang lidah itu biasa disuguhkan di acara slametan atau disaling-tukarkan pada saat acara nyadran, yaitu semacam acara berkirim doa untuk arwah para pendahulu yang biasanya dihelat di bulan Ruwah (Sya’ban).

Istilah ketan, kolak, apem sendiri diambil dari kosakata Islam yang juga bersumber dari Bahasa Arab. Ketan dari kata khothoan, yang artinya kesalahan. Kolak dari kata qola/qowlan yang berarti berkata/perkataan. Apem dari kata’afwun, yang berarti permohonan maaf. Ketika dihidangkan atau disaling-tukarkan, ketan, kolak, apem sebenarnya sedang ditunjuk untuk menjadi juru bicara permohonan maaf atas kekhilafan dan kesalahan masing-masing pihak.

Pernah mendengar istilah “kebogiro”? Itu adalah sebutan dentang musik yang dimainkan untuk mengiringi pertemuan sepasang pengantin. Asalnya dari kata “hubbu” dan “ghirah”. Kebogiro merupakan pelisanan atas kata hubb dan ghirah, yang artinya; cinta dan hasrat.

Dengan mengadakan ritual pemertemuan pengantin lelaki dan perempuan, orang Jawa ingin menegaskan; bahwa sebenarnya yang dipertemukan di sana adalah cinta dan gairah. Nantinya, pernikahan dan proses pasca-nikah seperti pertunggalan fisik (jima’/persetubuhan) lelaki dan perempuan yang telah resmi menjadi suami-istri, di Jawa disebut; lakirabi.

Lakirabi adalah liqoi robbi(bersenda-jumpa dengan Tuhan). Ia diambil dari satu ayat al-Quran di akhir surat al-Kahfi: Fa man kaana yarjuu liqooa robbihii falya’mal a’malan sholihan. Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah beramal sholeh.

Pernikahan adalah amal sholeh. Setelah menikah, persetubuhan merupakan satu di antara sekian banyak amal sholeh atau jalan untuk bertemu Tuhan dalam kehidupan rumahtangga. Bukankah ini semua sesuai dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW?
***
Tentu masih banyak contoh-contoh lain tentang bagaimana “yang arab” dipergauli oleh orang Jawa di sini. Bila disebutkan satu-persatu, jumlahnya akan mencapai jutaan. Ini belum terhitung nama-nama tempat berciri arabik seperti; ngaliyan, paliyan, sodo, bolawen, laweyan, sayidan, kamdanen, dan masih banyak lagi.

Lha itu, kitab primbon saja, oleh orang Jawa disebut “Betal Jemur”, yang merupakan pengucapan Jawa dari istilah: “bait al-jumhur”, yang berarti bahwa Kitab Primbon adalah kitab karya bersama yang dihasilkan dari laku permusyawaratan para ulama (jumhurul ‘ulama) di Jawa.

Terus, kurang arab apa Jawa itu? Gini kok katanya anti arab atau penuh kebencian pada arab. Mikiro sitik! Wallahu a’lam.

Yaser Muhammad Arafat adalah pengajar Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin di UIN Sunan Kalijaga, ia juga merupakan seorang pelajar Islam Jawa.

Artikel ini telah dibaca 92 kali

Baca Lainnya
  • 26 Agustus 2020 - 20:45 WIB

    Kyai Kategan