Gaya Hidup

Rabu, 19 Agustus 2020 - 19:03 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Hijrah Zaman Now

Hijrah di Zaman Now

Refleksi Tahun Baru Hijriyah 1442H

Hijriyah, patokan utamanya bukan pada penghargaan atas momentum lahir atau meninggalnya tokoh sentral yang membawa sekaligus meneladankan sebuah prinsip hidup yang menyelamatkan.

Namun, Ia justeru mendekonstruksi tradisi besar ‘penokohan’ yang diabadikan dalam penghitungan hari berdasarkan perputaran matahari dan bulan, yang berabad-abad lamanya menjadi acuan banyak peradaban. Ia mengembalikan kesadaran paling penting dalam hidup, yaitu mau dan ikhlas untuk ‘pindah’.

Sebagaimana Kanjeng Nabi dalam melakukan hijrah, Kanjeng Nabi tidak hanya semata-mata asal hijrah saja. Kanjeng Nabi pun telah memperhitungkan matang-matang sebelum melakukan hijrahnya.

Kanjeng Nabi memerlukan waktu satu sampai dua tahun guna memantapkan strategi kehijrahannya. Atas kuasa Tuhan, melalui strategi yang dilakukan Rasulullah, hijrah pertama beliau tersebut pada akhirnya berhasil menggerakkan Raja Najasyi memeluk ajaran Islam.

Pada hijrah yang ke dua, Rasulullah memilih kota Thaif karena di sana banyak keluarga beliau dari Bani Hasyim. Meskipun akhirnya berita kehijrahan beliau tersebut terdengar oleh kaum Quraisy sebelum Kanjeng Nabi tiba di sana. Bergerak cepatlah kaum kafir Qurasy tersebut guna menggagalkan visi misi Kanjeng Nabi di sana. Hingga akhirnya, jarak kurang lebih 150 km yang ditempuh Rasulullah dari Mekah ke Thaif tersebut dibayar dengan ancaman-ancaman yang didapatkan di Thaif.

Kanjeng Nabi dilempari kotoran, dan juga batu sampai beliau berdarah-darah. Saking besarnya ancaman yang didapatkan Rasulullah dari masyarakat Thaif, sampai-sampai malaikat Jibril pun menawarkan hukuman dengan menimpakan gunung kepada masyarakat Thaif tersebut.

Untuk memaknai Hijrah itu ada banyak bentuknya. Ia bisa hijrah dari kekufuran menuju iman, hijrah dari maksiat menuju ta’at, hijrah dari duniawi menuju ukhrawi, hijrah dari penyembahan Thaghut menuju kepada Allah semata, hijrah dari ananiyah egoisme menuju itsar (mementingkan orang lain), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Yang jelas, hijrah ini tak lain adalah bergerak menuju Allah Swt., memurnikan tauhid kita. bergerak dari yang belum baik menuju sesuatu yang lebih baik. Dari yang sudah baik jadi bertambah semakin baik. Begitu seterusnya, hingga kita pun bisa terus semakin mendekat kepada Sumber segala kebaikan yang ada di semesta. Mencari cahaya terus menerus.

Tidak usah jauh-jauh, pindahnya diri ke alam sana, pindahnya kekuasaan, pindahnya jabatan, pindahnya harta, atau pindahnya si dia ke lain hati. Pindah ke hati mbaknya. Lihatlah di gerbong KRL atau BRT, pindahnya seseorang dari tempat duduk untuk ia ikhlaskan kepada penumpang lain yang lebih membutuhkan.

Atau pindahnya perhatianmu sejenak dari sibuknya pekerjaanmu ke keluargamu, istrimu, ibu-bapakmu, adik-kakakmu, dari mantan ke mbaknya dan orang-orang yang tanpa engkau sadari terus mendoakanmu, Itu sudah bentuk nyata dari memaknai dan menyelamatkan kesadaran hijrah-hijriyahmu.

Selamat Tahun Baru Hijriyah 1442 H slurss!

Artikel ini telah dibaca 96 kali