Talks

Minggu, 9 Agustus 2020 - 07:30 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Membaca Jawa – Islam di Masa Kolonial

Tak sampai sebulan, “hanya” sekira 25 hari, saya dapat menuntaskan buku Nancy Florida ini. Mengapa bisa lebih cepat dari prakiraan semula? Sebab tiga bab terakhirnya saya baca secara ngebut tipis-tipis selama dua minggu belakangan.

Ketiga bab tersebut membahas genre “piwulang putri” dalam khasanah sastra Jawa Abad ke-19 (Bab IV); hari-hari terakhir Ranggawarsita dan Serat Kala Tidha (Bab V); dan jejak tarekat Syattariyyah di dalam sastra Jawa Abad ke-19, khususnya pada sebuah karya Ranggasasmita (Bab VI).

Saya tidak akan memberi komentar secara detail, namun hanya ingin mencatat tiga poin saja — dua di antaranya bahkan tidak menjadi pokok bahasan utama Florida. Pertama, yang merupakan pertanyaan enigmatik pengarang dan juga saya selaku pembaca, mengapa genre “piwulang putri” — yang notabene ditulis oleh kaum laki-laki — meningkat produksinya di keraton Surakarta pada akhir Abad ke-19? Jawabannya tentu saja tidak akan saya ungkap di sini.

Singkatnya, ada konteks historis-politis tertentu yang bisa menjelaskannya (baca hlm. 117-123). Kedua, sebuah pertanyaan lain: Mengapa Florida tidak coba membuat analisis kontrastif, perbandingan antara “piwulang putri” yang ditulis pujangga laki-laki dan perempuan (misalkan Nyai Tumenggung Adisara, pujangga estri yang terlupakan dalam tradisi filologi Jawa yang male-dominated itu)? Sayang sekali. Ketiga, sekali lagi perihal Kebudayaan (dengan “K” kapital sebagai penanda ke-adiluhung-an) Jawa.

Florida menambahkan catatan yang lebih khusus tentang awal-mula kodifikasi kejawen (mistisisme Jawa). “Ngelmu” mistik yang diwarnai oleh spekulasi (ajaran) teosofi, namun tetap beraroma sufi, itu merupakan produk wacana kolonial dan ternyata baru dikonstruk sejak pertengahan Abad ke-19 saja.

Akhirnya, ingin saya katakan: Betapa Florida bukanlah tipe sarjana yang gemar mengumbar jargon atau terminologi esoterik yang kerap membingungkan pembaca awam.

Tidak perlu repot-repot dengan paparan teoretis rumit tentang pendekatan pascakolonial, dia dengan enak-dibaca menganalisis Ranggawarsita dalam “ruang ketiga” ala Bhabha (hlm. 144). Florida pun tidak merasa perlu berumit-rumit menguraikan teori psikoanalisis ketika sampai pada bahasan tentang, misalkan, ketakutan dikebiri (castration fear) atau metafor cermin (hlm. 134 & 231).

Dengan kata lain, dia bukan tipe perajin atau tukang teori. Umpama seorang pemusik, dia adalah pemusik yang telah selesai dengan tetek-bengek perkara teknis.

Kris Budiman

Artikel ini telah dibaca 222 kali

Baca Lainnya