Talks

Minggu, 2 Agustus 2020 - 07:45 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram

Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram

Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962) bukanlah seorang pujangga layaknya Ngabehi Ranggawarsita atau Arya Mangkunegara. Dia tidak menyodorkan ajaran ngelmu yang lebih dekat pada aspek spiritualitas. Akan tetapi, yang ditawarkan Ki Ageng Suryomentaram adalah sistem cara berpikir yang gamblang dan sistematis.

“Seprono seprene aku durung kepethuk wong” (hingga saat ini aku belum berjumpa orang)Dalam kegelisahannya, pada suatu ketika Pangeran Suryomentaram merasa menemukan jawaban bahwa yang menyebabkan beliau tidak pernah bertemu orang, adalah karena hidupnya terkurung dalam lingkungan kraton, tidak mengetahui keadaan di luar. Hidupnya menjadi sangat tertekan, beliau merasa tidak betah lagi tinggal dalam lingkungan kraton.

Kalau boleh disebut sebagai filsuf Par Excellence dalam kaca mata dunia barat. Dimana Par Excellence adalah istilah untuk menyebut seseorang atau satu pihak yang dianggap sebagai terbaik dari lainnya dalam suatu bidang.
Beliau mengeksplisitkan filsafat dari ontologi sampai praksis. Bahkan hingga ke level etika, melalui Kawruh Jiwa, Ki Ageng ingin membebaskan pemikiran-pemikiran mistik yang identik dengan Jawa.
Pasalnya, melalui Kawruh Jiwa, Ki Ageng ingin membebaskan pemikiran-pemikiran mistik yang identik dengan Jawa. Ki Ageng mengusulkan ilmu yang baru. Beliau memakai terma sesuai dengan tradisinya. Namun, beliau punya corak yang rasional serta tidak kehilangan gagasan filsafat.

Dalam Kawruh Jiwa coraknya berbeda dari keilmuan Jawa sebelumnya, meski kesimpulannya sama. Ki Ageng hanya berbicara dalam bahasa lain. Sebagaimana kawruh berasal dari weruh (terlihat), sesuatu yang terlihat secara indra. Hal ini memiliki konotasi yang berbeda dengan ngelmu.
Dia merasa orang-orang selalu ditempeli embel-embel identitas. Sehingga, orang menuntut kita untuk disembah, dipuji, diberi penghargaan atas capaian, dan sebagainya.

Itu semua menutupi esensi dari seseorang. Ki Ageng ingin tampil dengan wujud aslinya. Sebab, embel-embel identitas itu yang mungkin membuat orang-orang tidak bahagia dan tidak jujur pada dirinya sendiri. Dalam pergulatannya Sang Pangeran sampai pergi ke Cilacap untuk jadi penggali sumur, penjual batik, dan menjalani pekerjaan lain seperti orang pada umumnya. Begitulah usaha Ki Ageng untuk menggali makna kehidupan dan kebahagiaan.

Keinginannya untuk mencari arti hidup berujung pada surat pengunduran diri dari keluarga Kraton. Akhirnya Ki Ageng memilih hidup di wilayah terpencil di Salatiga, Desa Beringin.

Di sanalah Ki Ageng bertani dan mengajarkan ilmu Kawruh Jiwa. Salah satu ilmu penting dalam Kawruh Jiwa adalah Pangawikan Pribadi. Pangawikan Pribadi adalah simbol titik penting dalam Kawruh Jiwa. Ini tergolong sufisme Jawa. Kawruh Jiwa adalah upaya Ki Ageng untuk menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Ki Ageng memandang bahwa keilmuan Jawa pada masanya perlu dirumuskan lagi untuk mencapai titik baru, Kawruh Jiwa muncul untuk mendeteksi dan menyelesaikan problem bagi seluruh kelas masyarakat.

Artikel ini telah dibaca 51 kali

Baca Lainnya
  • 26 Agustus 2020 - 20:45 WIB

    Kyai Kategan