Klenik

Senin, 27 Juli 2020 - 05:44 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Mbah Jejer

Mbah Jejer*

Banyak peziarah mbah Nawawi, Mbah Kriyan, Mbah Klenteng, Mbah Sayyid Abdurrahman Ali, dan wali-lain lain di Jejeran terkadang lupa untuk menziarahi Mbah Jejer. Memang tidak masalah. Sebab semua wali dan orang-orang saleh, bahkan kaum muslimin-muslimat telah dikirimkan doa. Hanya saja, supaya tidak ada keterputusan sejarah bila berziarah ke Jejeran, maka Mbah Jejer sangat disarankan untuk diziarahi.
Makam Mbah Jejer terpaku di kompleks Pondok Pesantren Miftahul Ullum II, Jejeran II, Wonokromo. Guru Sinuwun Sultan Agung Hanyakrakusuma ini menempati cungkup berukuran 4×5 m di sebelah utara-barat pondok pesantren. Tanah lapang mungil tempat anak-anak sering bermain bola berada tepat di selatan gapura menuju makamnya yang sempat rusak pada gempa 27 Mei 2006. Saya dulu pernah menjadi relawan gempa di sini. Saya sumringah karena kala itu pernah ikut membersihkan brangkalan bata di makam Mbah Jejer.
Dibandingkan makam-makam tua lain di sisi barat Masjid Mi’rajul Muttaqinallah yang merupakan salah-satu masjid kagungan dalem, makam Mbah Jejer termasuk yang paling tinggi. Jiratnya terdiri dari batu, mungkin andesit, yang tersusun hingga enam tingkat setinggi 75 cm. Lalu batu-batu itu dipuncaki oleh nisan kepala dan kaki yang telah patah. Ragi hias di makam ini tidak bersemarak seperti ragi hias di makam Mbah Kriyan. Jiratnya kira-kira sepanjang 150 cm dan lebar sekira 65 cm. Perkampungan makam ini dipenduduki oleh makam-makam lain. Di antaranya Sayyid Abubakar Ba’abud dan lainnya.
Di sisi timur makam Mbah Jejer, dalam cungkup yang sama, ada makam bernisan kepala-kaki tapi tidak berjirat. Ragi hias di nisan itu bercorak tumpal atau segitiga sama-sisi. Ragi ini, tumpal, bila dipahat di makam, maka ia merupakan ungkapan doa penghindaran dari azab kubur. Sedangkan bila lukis di kain batik, maka menjadi doa tolak bala. Saya sudah pernah mengabarkan perihal ragi tumpal sebagai tolak bala dalam ulasan tentang batik Lar Gurda tempo hari. Mengenai doa dalam nisan dan jirat ini kapan-kapan akan saya ceritakan.
***
Mbah Jejer merupakan pembabat alas perkampungan yang saat ini dinamakan Jejeran. Nama Jejeran diambil dari jejuluknya. Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo menampilkan alur penyantrian sang ratu-wali tanah jawa di awal abad ke 17 itu kepada Mbah Jejer. Sayangnya tidak diceritakan di sana bahwa putri beliau nanti akan dipersunting oleh Sultan Agung sebagai Ratu Kilen. Jadi, Mbah Jejer adalah mertua Sultan Agung.
Ditinjau dari silsilah, Mbah Jejer bersambung-nasab pada Sunan Ampel. Sebagai manusia sehari-hari, Mbah Jejer dikenal sebagai pemangku ilmu-ilmu kadigdayaan. Santri-santri berdarah kejadugan bisa bertawassul kepada Mbah Jejer yang mendapat nama-besar (jeneng) Sunan Surapraba. Jeneng ini, Sunan Surapraba, menunjukkan peta khazanah kewilayahannya sebagai penerus adat padepokan Prabu Satmata atau madrasah Giri. Artinya, Mbah Jejer memiliki wewenang untuk meneruskan adat-budaya men-jangka peradaban.
Harus digarisbawahi di sini bahwa jangka adalah derajat tertinggi dalam susunan lima pengetahuan di Jawa. Pertama, wahyu panjangka (jangka), yang dapat diungkapkan dengan pernyataan: belum tentu benar, tidak mungkin salah. Kedua, wahyu panyakra (cakra), yang kualitasnya dapat diungkapkan dengan pernyataan: belum tentu benar, belum tentu salah. Ketiga, wahyu panyandra (candra), yang kualitasnya dapat diungkapkan dengan pernyataan: belum tentu benar, mungkin bisa salah. Keempat, wahyu sudarsana (sudarsana), yang kualitasnya dapat diungkapkan dengan pernyataan: belum tentu benar, sangat bisa salah. Kelima, pengangen-angen atau tashawwur (citra) dalam bahasa arab, yang kualitasnya dapat diungkapkan dengan pernyataan: pasti sangat bisa salah, pasti belum tentu benar.
Sedangkan “Kyai Jejer” adalah jejuluknya. Sekedar kabar selipan, saya lebih nyaman mengetahui jejuluk atau jeneng setiap sosok ingkang sumare (sahibul maqam) ketimbang nama kecilnya (asma). Sebab jejuluk dan terlebih lagi: jeneng (nama ruh), bisa mengarahkan pada nasab, kepakaran dalam ilmu tertentu, dan bahkan kewilayahan rohani sang tokoh. Jejuluk adalah pintu masuk untuk mengetahui siapa jatidiri sosok sahibul maqam. Karena itu, nama asli bagi saya tidak terlalu penting. Dari jeneng dan jejuluk, ada banyak pengetahuan yang bisa dijaring. Lain kali saya juga akan bercerita tentang ini. Sambil mengumpulkan bahan.
Kembali ke Mbah Jejer. Asal mula jejuluk itu menurut cerita warga setempat disebutkan karena Mbah Jejer dikatakan kapundut atau wafat dalam keadaan berdiri tegak (ngadeg nggejejer). Hanya saja, bila dipandang dari sudut alam pikiran Jawa: dunia wayang yang dimasyarakatkan oleh Sunan Kalijaga dan wali-wali lainnya, “jejer(an)” merupakan fase pembuka cerita atau babak pertama dalam pertunjukan wayang kulit purwa. Ia tahap kelahiran seorang bayi ke dunia, ke alam padhang. Dalam pertuntunan wayang, tahap ini berbentuk permulaan amal ketika sang dalang mencabut dan menggerakkan wayang kayon. Kemudian ia menempatkan wayang kayon itu di ujung akhir wayang simpingan yang tertata di sebelah kanan dan kiri dalang. Di situlah gerak kehidupan wayang di dalam alam pakeliran.
Penempatan wayang di pakeliran mengawali adegan jejeran. Setelah itu, sang dalang akan menjantur atau membaca kabar singkat perihal kerajaan yang menjadi pembuka cerita berikut raja, para punggawa, dan watak-watak mereka secara singkat. Dari sini, tahapan ini kelak disebut: janturan. Apa hubungan antara “Jejeran” dan “Janturan”? Keduanya tidak dapat dipisah. Bila jejeran adalah kelahiran manusia, maka janturan adalah filosofi atau makna kelahiran itu.
***
Dalam dunia nyata, para wali tanah Jawa mengejawantahkan tahap “jejeran” ini dengan laku ngaji ilmu-ilmu agama dan ngaji-laku ilmu-ilmu akhlak. Di sinilah peran kesejarahan Mbah Jejer, yaitu menjadi guru bagi para santri, termasuk Sinuwun Sultan Agung. Kelak, desa Jejeran yang wilayahnya belum tersekat-sekat seperti hari ini sampai masa sekarang dipenuhi oleh banyak pesantren dan para kyai. Di desa inilah santri-santri berusaha untuk njejer pandhita dengan mengaji kitab-kitab: alquran, ulumul quran, fiqh, ushul fiqh, akidah, tarikh, tasawuf, hadis, dan ulumuddin lainnya. Biar mereka benar-benar lahir di alam padhang.
Di Jawa pada masa itu dan sebelummnya, toponimi atau penamaan wilayah pemukiman memang didasarkan pada tahap-tahap laku hidup manusia. Dengan demikian, njejer atau nyantri adalah tahap mula-buka ketika seorang manusia dilahirkan. Ia tidak boleh berhenti di situ. Di saat njejer, ia juga harus njantur, yaitu mencari makna atau werdi dari penjejerannya.
Ziarah ke makam-makam adalah jalan untuk menangguk butir-butir werdi atau makna itu. Makna lungid atau makna tingkat ketujuh hanya bisa dilimpahkan kepada orang-orang yang berjalan menuju kematian, yang satu di antaranya adalah: rajin mengarah ke kuburan dan bahkan mengalami “mati” atau “dikubur” di kedalaman tanah (idfin wujudak). Beda dengan peradaban modern hari ini, yang hanya bisa merasa bermakna dan merasa berada ketika berpikir (cogito). Sebagaimana ditegaskan oleh si Rono Dosokerto (Rene Descartes) itu.
Para wali di tanah ini mengajarkan bahwa semakin mati, semakin ada. Comatio ergo sum, aku mati maka aku ada. Di dalam pelajaran tajwid, kita selalu diajarkan bahwa dengung atau tidak dan bunyi atau tidak, ditentukan oleh ketika ada yang mati, yaitu nun, mim, dan dua tanwin. Mereka yang mati itu bisa menyertai atau masuk ke dalam qaf, ba, ya, alif, jim, ha, dal, dan huruf lainnya ketika mereka mati.

Linnabi wa li Mbah Jejer, al-fatihah…
Wallahu a’lam.

* Yaser Muhammad Arafat adalah pengajar Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin di UIN Sunan Kalijaga, ia juga merupakan seorang pelajar Islam Jawa.

Artikel ini telah dibaca 164 kali

Baca Lainnya
  • 11 September 2020 - 18:52 WIB

    Kalbun Salim
  • 27 Agustus 2020 - 19:54 WIB

    Kusen