Mayeng

Sabtu, 25 Juli 2020 - 18:58 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Menusuri Jejak Medang Kawitan ( Kamulan)

Medang Kawitan ( Kamulan)*

Entah berapa usianya. Pohon medang tua ini. Namum jelas, sepanjang usianya. Pohon medang tua yang ‘terbunuh’ oleh gergaji ini. Telah menyaksikan banyak peristiwa jatuh bangun peradaban di sekelilingnya.

Berada di satu lembah disekeliling
pegunungan yang selalu di selimuti awan. Yang sebagiannya bahkan diatas awan. Tempat ini pernah menghancurkan mental Coernelius dan beberapa pasukan Inggris yang diminta menelusuri jalur purba ini oleh Raffles dalam rangka menuju kawasan Dieng.

Mengingat medannya yang ekstrim. Tanah ini pernah tercatat dalam Ramayana sebagai negeri diatas awan. Diakui sebagai leluhur oleh nan serunai Dayak manyaan berabad sebelum masehi. Sebagai negeri yang beselimut awan. Disebut orang-orang Sriwijaya sebagai leluhur Cailendra (orang gunung)

Dari tempat inilah pu Sindok bersama raden Maospati dan ratusan orang-orang terlatih menamatkan pendidikannya untuk membangun kembali wanua wanua dan tatanan baru ‘ala’ Medang yang telah runtuh karena mahapralaya tsunami sebelumnya.

Dari tempat ini pula dapunta hyang turun gunung, menelusuri ANDHA BUDA ‘tangga leluhur’ kearah utara menuju pelabuhan kuno Batang. Bersama ratusan masyarakat yang terlatih babat alas, berlayar kesumatra untuk membangun ulang Sumatera yang luluh lantak karena meletusnya gunung krakatau di abad ke 5.

Dari tempat ini pula RSI MARKANDYA bergerak kearah timur. Yang kemudian bergabung bersama penduduk terlatih di kaki Raung, membangun ulang desa-desa di Bali dan Lombok.
Jauh sebelum itu leluhur Dayak Manyan yang membangun nan serunai juga berangkat dari jazirah yang selalu tertutup awan ini.

Diapit dua sungai yang berhulu di gunung Bisma yang melambangkan bapak para raja. Dan gunung Prahu, yang melambangkan bahtera peradaban.
Lembah ini mungkin adalah lembah tersubur yang pernah di ciptakan Allah di muka bumi.
Yang memungkinkan titik ini menjadi tempat penyimpan benih terbaik (sriksetra) dalam bentuk hutan larangan. Sekaligus tempat berlatih pertanian, peternakan, pertukangan dan lainya termasuk tata pemerintahan. Yang menjadi dasar ‘prahu’ peradaban nusantara dari masa kemasa.

Ditempat ini pula pernah berdiri dan hancur, berdiri lagi dan hancur, berulangkali CANDI KAWITAN yang menjadi penanda asal muasal.
Di tempat ini pula, bermula aksara BUDA yang menjadi aksara suci untuk mencatat ajaran leluhur dr masa ke masa, dari ajaran tanpa nama, kapitayan, hingga Islam yang dibawa sahabat MALIK BIN NADAR, ABDURAHMAN BIN MUADZ hingga para sayid pasca karbala.

Ditempat ini pula, penganut kapitayan dan sahabat abdurahman bin Muadz beserta Abdullah Assajad membangun kesepakatan. Untuk membangkitkan kembali persemakmuran Medang yang mulai tertatih pasca letusan Krakatau. Yang kembali mampu membangkitkan kembali kejayaan persemakmuran hingga meliputi asia tenggara. Yang mencapai puncaknya diawal abad ke 9.

Ketika persemakmuran yang merupakan gabungan Medang, Sriwijaya dan Luwu. Mampu mengirimkan 5700 kapal perang dengan lebih dari 1000.000 prajurit. Untuk membebaskan Luzon (philipina) dari cengkraman dinasti Tang. Melalui perang darat selama 6 bulan.

Di tempat ini pula, sisa jejak makam kuno bertebaran, dari mulai yang di tandai lingga yang terpotong rapi hingga jajaran batu andesit. Inilah tanah yang menjadi tempat berkumpul dan berpencar, dimana dirumuskan gagasan baru peradaban dari masa ke masa disusun dan disebarkan.

Sepeninggal patih leksono Sayid Abdurahim, tidak lama setelah perang Diponegoro, jejak ‘tanah suci’ nusantara ini lenyap dari ingatan masyarakat. Ditambah gempa dashyat 8 skala richer hampir seabad kemudian. Benar benar memusnahkan jejaknya, nyaris tanpa sisa.

Sampai jelang kemerdekaan, kyai Asyari ulama asal Kalibeber yang menjadi cikal bakal ponpes Asy’ariah. Menemukan kembali area ini, dan sempat merawat makam makam leluhur yang tersisa.
Namun selepas wafatnya beliau tidak lama setelah kemerdekaan. Tempat ini kembali dilupakan.
Kini catatan yang tersisa tentang tempat ini hanyalah coretan ‘lebak cawene’ dalam uga siliwangi.

Dan satu kalimat pendek yang ada dalam catatan sunan Giri Prapen dalam Asrar Jayabaya ; Satu titik
‘Dekat dengan gunung Prau, sebelah barat tempuran’
Hari ini tak ada lagi jejak hidup.. Setelah pohon medang terakhir. Tumbang di mangsa gergaji.

 

*Asep K

Ahli Manuskrip kuno

Artikel ini telah dibaca 39 kali

Baca Lainnya