Talks

Sabtu, 20 Juni 2020 - 01:03 WIB

2 minggu yang lalu

logo

@ManegesQudroh

@ManegesQudroh

Perjumpaan Agung dengan Syeikh Nursamad Kamba

Perjumpaan Agung dengan Syekh Nursamad Kamba

Mengenal dan berjumpa dengan Syekh Nursamad Kamba adalah sebuah hal yang sangat berkah serta menjadi perjumpaan yang agung. Kali itu Maneges Qudroh simpul maiyah Magelang melaksanakan milad yang ke-8 dengan mengambil tema “Mulat Saliro” yang juga dibersamai oleh Syeikh Kamba dengan Mas Sabrang.

Sedari dini hari perjalanan dari Wonosobo menuju Magelang untuk mangayubagya acara peresmian Museum Lima Gunung di Studio Mendut tepatnya di Ndalemnya  Mbah Tanto Mendut. Langsung disambut tuan rumah ngobrol ngalor-ngidul sampai acara inti dimulai, acara berjalan dengan lancar dan gembira ditambah acara hari itu mbah Tanto juga milad. Belajar dari komunitas Lima Gunung mendapatkan banyak ilmu dan manfaat, terutama kaberkahan akan paseduluran.

Setelah marem seharian di Studio mendut langsung bergegas menuju Omah Maneges di Jumbleng, Muntilan, Magelang untuk nyengkuyungi acara milad Maneges Qudroh. Sesampainya di Omah Maneges ternyata hulu hilir jalanan sudah ramai, dan disambut dulur dari MQ mempersilahkan untuk istirahat di transit dijamu bermacam sajian, pokoke berkah paseduluran. Wakijo lan Sedulur pun juga terdengar sedang cekson untuk menghangatkan milad nantinya.

Nderes Al-Qur’an dan wirid terlantun membumbung jamaah yang berdatangan semakin banyak mengisi depan panggung dan melebar sampai ke gang-gang rumah warga. Setelah wirid dan nderes selesai untuk nglambari perjumpaan agung pada miladiyah MQ(Maneges Qudroh) moderator membuka dengan sharing-sapa ringan dengan dulur-dulur yang telah hadir malam itu, juga dari masing masing simpul maiyah yang hadir malam itu menyampaikan kegembiraanya.

Berbagai ucapan dan doa dari berbagai dulur-dulur seolah langsung terwujud dalam acara yang sedang berlangsung. Merefleksikan keberkahan yang ada di setiap sudut tempat acara yang sedang berlangsung atas milad MQ yang selalu istiqomah menggelar sinau bareng nandur-tandang nilai-nilai maiyah.

Benar saja, ketika Syaikh Kamba dan Mas Sabrang menaiki panggung. Walau dalam keadaan hujan datang menyapa. tapi waktu yang berlalu bisa menjadi tolak ukur dimana semua pihak setidaknya merasakan kegembiraan. Karena para jamaah masih stay dan istiqomah menyimak.

Setelah Syaikh Kamba dan Mas Sabrang berada di panggung, pemotongan tumpeng segera dilakukan sebagai makna simbolik atas rasa syukur Simpul Maneges Qudroh atas segala nikmat dan barokah-Nya dalam membersamai MQ dalam perjalanan sewindu.

Tema bahasan malam itu adalah “Mulat Saliro”, Mulat Saliro dalam falsafa Jawa dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk lebih melihat atau memperhatikan ke dalam diri. Setidaknya untuk lebih melatih bermuhasabah sehingga kita sadar akan diri ini.

Kesadaran diri ini sangatlah penting sebagai bekal untuk belajar mefleksikan diri. Sadar diri bukanlah suatu alasan, melainkan jalan untuk lebih mengenal mana yang hanya sebatas ego, mana yang merupakan cinta.

Lanjut Mulat Saliro tersebut mulai dijelaskan oleh Syaikh Nursamad yang memulai dengan menyuruh jamaah untuk sejenak merefleksikan diri sebagai ummat. Karena dalam keadaan sekarang, makna Islam seakan disalahartikan oleh beberapa golongan tertentu melalui tindakan-tindakan mereka. Banyak yang mengaku-ngaku sebagai ummatnya Rasulullah. Kita yakin, kita semua disini juga sangat berupaya keras menjadi pengikut setia Nabi Muhammad.

Kemudian kita diarahkan untuk lebih mencermati Piagam Madinah. Dari 42 pasal yang tertera, disitu sama sekali tidak dicantumkan istilah rakyat. Yang ada hanyalah ummat. Kenapa? Menurut penjelasan Syaikh Kamba, beliau menyatakan bahwa Rasulullah pada waktu itu sangat percaya kepada kemerdekaan dan independensi seseorang.

Ummat lah yang sejatinya memiliki dirinya sendiri, sedangkan Nabi hanya memberikan penjelasan secara persuasif dan keteladanan sikap. Tidak ada lembaga hukum, sehingga keadaan mengharuskan kita untuk ber-Mulat Saliro dengan berinisiatif untuk lebih sadar diri. Karena kesadaran diri akan lebih mengaktifkan atau membangkitkan hati nurani seseorang.

Piagam Madinah sendiri merupakan suatu bentuk persaudaraan. Dimana kalau hal tersebut kita kembali refleksikan lagi pada zaman sekarang yang banyak mengaku sebagai pengikut Nabi. Kita melihat ada sesuatu yang tidak sesuai dalam tradisi Rasul yang diabaikan dalam membangun sebuah peradaban.

Tradisi yang paling utama adalah kemandirian atau independensi seorang hamba. Tapi, faktanya banyak yang masih gelisah dengan literasi-literasi yang berbeda tafsiran dengan sumber yang didapatnya. Hingga menimbulkan kecemasan jika ada yang berbeda pandangan darinya, yang memicu konflik-konflik agama yang tidak semestinya. Bukankah Allah adalah sumber dari segala ilmu? Yang kedua adalah pembebasan diri dari segala ego-ego pribadi. Sebagaimana yang tertuang dalam buku beliau yang berjudul “Kids Zaman Now”  Syaikh Kamba hal ini disebut dengan tazkiyatunnafs.

Disini kita bisa belajar pada peristiwa bedah dada Nabi Muhammad oleh Malaikat yang merupakan esensi dari pembersihan diri. Seakan menjadi peristiwa yang menjadi awal untuk dapat lebih mengenal hakikat diri. Segala sifat hasad, iri, maupun dengki dikeluarkan dari darah Rasulullah. Hingga sifat kelemah-lembutan, kesabaran dan sikap lebih menghormati orang lain yang tertanam. Atau dalam dunia tassawuf sering disebut dengan tahalli. Lalu tradisi ketiga adalah menerapkan kebijaksanaan.

Kebijaksanaan ini juga tidak mudah untuk dilakukan. Bahkan, seorang Nabi sendiri sering berkhalwat(menyendiri/menjauh dari keramaian) untuk dapat melihat seperti apa kebijaksanaan itu.

Pada zaman era digital seperti sekarang sudah menjadi hal yang wajar jika kebijaksanaan mulai terkikis dari budaya. Segala perbedaan kurang disikapi dengan ketenangan yang akhirnya hanya menghasilkan kotak-kotak pemikiran tertentu yang saling merasa paling benar.

Semakin kebawah ternyata tradisi Nabi semakin hilang. Di nomer keempat adalah kejujuran. Korupsi dan hoax merupakan sedikit perwujudan dari hilangnya sikap jujur pada bangsa ini. Jangankan kepada bangsa, kepada diri sendiri saja kejujuran sering terabaikan.

Kelima tradisi Rasulullah ini perlu kita aktualisasikan, setidaknya diawali dari diri sendiri terlebih dahulu (ibda’ binnafsi). Kita melatih Mulat Saliro terlebih dahulu, sebelum nanti mengaktualisasikan keluar dari dalam diri kita. Tidak boleh ada yang dijamin surga, tapi kenapa keadaan sekarang banyak yang menjual surga? “Kalau memang seorang hamba, cukup pasrah secara total kepada Tuhan dan tidak berharap apa-apa.” Ungkap Syaikh Kamba.

“Seseorang belum bisa mengklaim sebagai seorang pengikut nabi, harus berdaulat dengan diri sendiri, menghilangkan ego, menerapkan kebijaksanaan, dan menumbuhkan cinta kasih. Baru setelah itu baru bisa mengikuti Rasulullah, syahadat bukan hanya sebatas sertifikat. ”  Tandas Syeikh Kamba kala itu.

Tulisan ini adalah sekedar catatan kecil tahaduts binni’mah yang mana dapat diperkenalkan dan berjumpa dengan Syeikh Kamba di milad Maneges Qudroh ke -8.

Sugeng tindak Syeikh Qaryatul ‘Ilmi, kampung halaman ilmu, guru, dan marja’ kita semua, Prof. Dr. Muhammad Nursamad Kamba, maturnuwun telah membersamai kami selama ini. Alfatihah kagem panjenengan.

 

Khusni Mukhamad

Wonosobo, 20 Juni 2020

Artikel ini telah dibaca 140 kali

Baca Lainnya