Mayeng

Rabu, 10 Juni 2020 - 18:07 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Sowan Mbah Sholeh Darat Semarang

Sowan Mbah Sholeh Darat Semarang
(6 Maret 2020)
Entah apa yang memperjalankan sehingga dapat sampai di daerah Bergota, Semarang. Yang jelas kalau bukan karena katresnan juga sebagai wasilah dalam pencarian jawaban pada pertanyaan-pertanyaan yang melekat di pikiran.
Frekuensi kalimat toyyibah semakin jelas ketika mendekati lokasi, banyak juga peziarah yang lulu lalang di area makom. Saia yang sendirian berjalan kaosan aluwehya (baca:patia ngiklan) menyusuri makom dengan berbekal dan tekad untuk sowan ke makom Mbah Sholeh Darat, sebenarnya perihal ini sudah ada niatan jauh jauh hari ketika awal mula ‘tersesat’ di Semarang. Wkw
Ndilalahnya, sesampai nya dilokasi suasana ramai peziarah, saia yang berangkat sendirian cukup mlipir nylimpet diantara kerumunan. Tak sela waktu lalu lalang peziarah silih berganti dan semakin surut sampai sepi tiba, saia mencoba tipis-tipis merapat maqbarah, getaran aura kharisma dari pusaran Mbah Sholeh Darat semakin kuat, saya memberanikan diri merapat dan mendekat, merapal sebisanya.
Setelah ‘ritual’ selesai saya sempat mengelilingi area sekitar makam di Bergota ini sembari berjalanan turun menuju jalan utama.
Yang katanya juga masih ada makom Ulama lagi lainnya, namun karena minimnya informasi saya dan terbatasnya waktu akhirnya nihil sampailah saya di jalan utama pintu masuk area makam. Saia pun langsung bergegas menuju kembali melewati jalan yang tadi untuk melanjutkan perjalanan ke Wonosobo.
Sepanjang Perjalanan menuju Wonosobo saya membayangkan tulisan yang tertulis dalam catatan at-Taftazani tentang kitab-kitab syarah al-Hikam dapat disimpulkan bahwa tidak berlalu 100 tahun kecuali muncul syarah atas al-Hikam. Termasuk di antaranya yang ditulis oleh ulama Nusantara.
Sebagaimana Martin van Bruinessen mencatat beberapa terjemahan dan syarah al-Hikam yang dapat ditemukan di Indonesia. Dia mencatat ada tiga kitab: Hikam Melayu yang anonim, syarah yang disusun K.H. Muhibuddin Wali dari Aceh, dan Syarah al-Hikam oleh Kiai Soleh Darat As-Samarani dalam bahasa Jawa (dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia).
Dimana Kiai Soleh mengulas al-Hikam dengan menggunakan tulisan Arab Pegon dalam bahasa Jawa lokal (al-mriki) agar mudah dipahami orang awam yang mau mengaji (Kiai Soleh, al-Hikam).
“Utawi iki kitab ringkesan saking matn al-Hikam karangane al-Allamah al-Arif Billah asy-Syaikh Ahmad Ibnu Ata’illah. Ingsun ringkes namung sakpertelune asal” (Kiai Soleh, al-Hikam, h. 2). Artinya: “Ini adalah kitab ringkasan dari Matn al-Hikam karya al-Allamah al-Arif Billah asy-Syaikh Ahmad Ibnu Ata’illah. Saya ringkas menjadi hanya sepertiga dari asalnya”.
Kiai Soleh tidak menjelaskan seluruh hikmah al-Hikam. Beliau “hanya” menerangkan sepertiganya saja (Kiai Soleh, Al-Hikam, h. 2). Tujuan beliau adalah agar mudah diingat dan dipahami sehingga dapat diamalkan orang-orang awam. Berangkat dari itu semua, dalam diri ini timbulah untuk memupuk semangat menjaga warisan ulama nusantara.
Ibarat nguyahi segoro kalau dengan bahasa menjaga, paling tidak dengan bahasa menjaga garis ini dengan mengingat para Ulama’ dengan karyanya. Caranya? Ya minimal dengan mendokumentasikan biografi perjalanan para Ulama’ Nusantara dan cerita kearifal lokal yang berkembang di masyarakat.
Disitulah dengan portal web Klenik.id hadir untuk menjadi wadah itu semua agar terus nyambung. Bagi orang Jawa, perlu melestarikan kemampuan membaca aksara maupun bahasa Jawa, agar bisa meneguk hikmah ilmu dari karya kyai terdahulu. Perlu juga mengembalikan tradisi menulis pegon atau Jawi, di masyarakat kita, agar khazanah adiluhung nenek moyang ini tidak punah. #Nekke

Artikel ini telah dibaca 147 kali

Baca Lainnya