Klenik

Rabu, 10 Juni 2020 - 08:07 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Bharatayudha dan Jalan Kebenaran

Bharatayudha dan jalan kebenaran

Tak ada satu ajaranpun, krn memang berasal dari sumber yang sama akan memiliki proses yang berbeda untuk menggapai kebenaran.

Sebagaimana yang di sampaikan oleh dang hyang Nirartha ‘kita berasal dari bahan baku yang sama, di ciptakan oleh pencipta yang sama, akan mendapat ganjaran/karma beragam yang juga sesuai dengan perbuatan kita, jadi adalah mustahil jika kita, untuk bisa mencapai-Nya memakai jalan yang berbeda. Seandainya ada perbedaan. Itu hanyalah masalah upacara, yang terkait dengan kondisi masyarakat dan alam yang berbeda.

Dunia ini, sebagaimana disampaikan oleh budha sakyamuni. Untuk bisa di fahami, pertama haruslah kita mengenal dan memahami aspek kembar realitas. Susah-senang, lapar-kenyang, sakit-sehat dan lainnya. Yang dalam kisah

Bharatayudha dikenali sebagai tahapan awal yang di lambangkan oleh Nakula-Sadewa. Selanjutnya seseorang mestilah bisa, dengan pengetahuan dasar tadi.
Untuk memahami, bahwa realitas kembar tadi, pada kenyataannya hanyalah pancaran dari keTidak terbatasanNya. Sebagaimana tertulis dalam alquran ‘kemanapun engkau palingkan wajah, disanalah wajah Allah’.

Pada tahap ini dengan demikian, seseorang yang berpengetahuan (jnana) mestilah bisa dan selalu mengingatNya dalam segala kondisi dan aktifitasnya. setiap saat adalah dzikir, konsentrasi, meditasi. Seperti seorang pemanah ulung yang berpengetahuan yang dilambangkan dgn sosok arjuna yang selalu ‘hanya’ melihat Wajah sasaran panahnya. Tak ada yang lain selain itu. Hanya Dia, satu satunya. Yang Awal dan yang Akhir.

Bhagawat gita menjelaskan dgn tuntas proses menjadi ‘kemana engkau palingkan wajah, disanalah wajah Allah’ Pengetahuan yang benar tak akan ada gunanya tanpa realisasi. Perlu kehendak yang kuat utk mewujudkannya, yaitu Iman kepadaNya. Sebagaimana dikatakan Isa Almasih (yesus) iman yang mampu memindahkan gunung.

Pada fase ini, menjadi perlu disadari bahwa tdk ada gunanya jika manusia, yang diberikan kehendak bebas. Tidak menggunakan kebebasannya itu untuk memilih terikat pada jalan yang lurus (benar). Karena kebebasan hanya akan memiliki makna jika manusia mau dan mampu memilih jalan terbaik.

Fase ini di simbolkan oleh sosok Bima. Serat dewaruci. Menjelaskan dengan terang benderang di mana, pada akhirnya bima mencapai pemahaman yang sempurna. Pada akhirnya. Siapapun dia, untuk bisa menjadi ‘pandu’ atau khalifah di muka bumi. Mestilah bersedia menjadi penjudi terbesar sepanjang masa. Dengan berani mempertaruhkan segalanya. Dunianya, kekayaannya, waktunya, pengetahuannya sebagaimana Yudhistira bertaruh.

Agar bisa meleburkan seluruh hawa nafsunya (indraprastha) untuk tunduk kepadaNya. Allah, penguasa seluruh alam yang sesungguhnya. Dan itu artinya perang, perang melawan diri sendiri, untuk menawarkan dan mensucikan seratus karakter buruk dalam dirinya atau Kurawa yang lahir dari daging, Yang lahir dari kebutaan, yang muncul Dari apa yang dimakan, diminum, dihirup, dan buah perbuatan tanpa kesadaran. Agar bisa dan mendapat cahaya dariNya. Padang kuruksetra.

Pada akhirnya adalah medan perang dari segala perang dalam hati manusia. Yang dilambangkan dengan gunungan. Perang yang mesti dan wajib dilakukan untuk bisa menggapai kebenaran. Dan menjadi ‘Pandu’ pemimpin bagi dirinya sendiri, dan pada akhirnya tak ada gunanya pula manusia berdebat sejarah seperti orang-orang India berdebat. Yang hingga kini masih mencari. Dimana sesungguhnya lokasi perang bharatayudha.*

*Asep Kurniawan

Ahli Manskrip Kuno

 

Artikel ini telah dibaca 127 kali

Baca Lainnya