Mayeng

Selasa, 26 Mei 2020 - 23:27 WIB

6 bulan yang lalu

logo

Makam Ketinggring dan Sejarah yang Hilang

Jelang Ramadhan lalu saya mengajak Farhan Sangkakala untuk ziarah ke ketingkring. Satu tempat yang saya anggap sebagai tapal batas dua dunia, dua jenis peradaban. Timur, tempat dimana matahari terbit, dan barat tempat dimana matahari terbenam.

Secara simbolik ini juga menjadi pembatas makna zaman, dimana akan ada masa matahari peradaban akan terbit dari barat. Hingga pada kurun tertentu. Sejarah akan membalik ke awal mula.

Ada 2 hal penting saat kita akan membahas tentang peradaban timur dan barat. Pertama adalah pertanian.
Ini menyangkut bagaimana manusia berkomunikasi dan menjalin silaturahmi dengan alam. Tatanan masyarakat dan budaya yang terkait dan Lebih jauh lagi pada sang pencipta dalam kaitan dengan itu.

Kedua adalah mata uang. Ini tidak adanya menyangkut posisinya sebagai alat pembayaran, lebih dari itu adalah juga geografi, hubungan antar wilayah, pendidikan, budaya, ekonomi, tata pemerintahan dan aspek sosial politik lain. Dan yang lebih penting bagaimana ajaran keagamaan di fahami, ditransfer dan dijalankan.

Di era 4.0 ini, perjalanan ke pemakaman sedikit menyebalkan, karena kami harus melalui beberapa tapal batas disinfektans yang mesti kami lalui.

Di Ketinggring di makamkan ratusan jenazah para Sayyid tanpa nama. Yang dimakamkan dengan amat tergesa, Mereka yang dibunuh setelah diambil paksa oleh kolonial dari beragam wilayah diseputar jawa pasca berakhirnya perang Jawa.

Satu pembantaian yang luput dari catatan sejarah.

Perang jawa, akan selalu dicatat sebagai perang yang paling mengerikan di tanah Jawa, perang yang juga pada akhirnya melenyapkan sisa jejak peradaban bangsa ini yang memang diambang keruntuhan, dan pada akhirnya lanscape peradaban global berubah total setelahnya.

Matahari kemudian terbit dari barat.

Nun jauh di eropa, saat perang jawa memasuki tahun ke 3. Para pemilik modal yang membiayai perang berkumpul. Membahas langkah selanjutnya yang akan mereka kerjakan. Saat itu tampaknya operasi benteng steelsel akan membuahkan hasil, panen raya sudah didepan mata.

Tahun 1827 di Batavia berdirilah satu bank central swasta, yang diberi hak untuk mencetak mata uang. Ini adalah kelanjutan dari bank bank central swasta yang telah menguasai eropa sebelumnya dan menghancurkan tulang punggung gereja disana. Riba kemudian tumbuh subur yang lahir bersamaan dengan tumbuh pesatnya industri, Sekaligus juga mengubah lanscape ajaran menjadi absurd hingga lambat laun gereja eropa ditinggalkan penganutnya.

Ini akan menandai awal dari hancurnya negeri emas nusantara. Yang selama ribuan tahun lamanya menjadi tulang punggung dan seringkali menjadi titik mula peradaban dunia. Bahkan sejak manusia suci pertama di turunkan di muka bumi.

Tidak lama setelah perang Jawa. Ratusan Sayyid dari berbagai wilayah diambil paksa oleh kolonial dalam rangka membrangus perlawanan. Mereka semua kemudian dibunuh dan dimakamkan di Ketinggring.

Selanjutnya ulama palsu pro kolonial di ciptakan, sebagiannya bahkan memakai identitas palsu yang diambil dari para Sayyid yang dibunuh tadi.

Di masa itu, umumnya Sayyid di Jawa adalah glondong, atau pendamping kultural desa level wilayah. Glondong adalah posisi yang muncul sejak era Mataram baru sebagai kelanjutan model tradisional. Dimana satu wilayah glondong adalah satu wilayah mandiri. Dan mampu mencukupi kebutuhannya sendiri dari mulai sandang, pangan hingga papan. termasuk juga memiliki hak untuk membuat mata uang (emas, perak).

Setelah Jawa takluk, wilayah lain di nusantara satu persatu juga ditaklukkan. Tidak lama setelah perang jawa. Javasche bank mulai beroperasi. Pada masa itulah terjadi pemiskinan mendadak di hampir semua wilayah taklukan. Masyarakat dan kerajaan yang ada tdk bisa lagi memakai emas sebagai mata uang. Dan sebagai gantinya, uang kertas gulden mulai digunakan.

Sebagian dari mereka di paksa menukar uang emasnya dengan gulden dengan kurs yang ditentukan javasche bank. Entah berapa ton emas yang kemudian diambil javasche bank dari seluruh nusantara.

Kelak menjelang jepang masuk emas-emas itu dilarikan ke Australia dan Afrika Selatan. Untuk kemudian berpindah tempat ke fort knox, dan menjadi salah satu base emas pada model keuangan global baru yang berbasis dolar.

Pada masa masa itu, raja-raja yang jatuh miskin tidak punya pilihan lain kecuali menggadaikan tanah kerajaan kepada kolonial untuk mendapatkan uang.

Pada tahun 1870. Sebagai tahap lebih jauh pasca operasi pemiskinan. Diberlakukanlah undang-undang tanam paksa. Yang sekaligus juga menandai hancurnya sistem pertanian khas nusantara.

Salah satu eks pasukan Diponegoro, yang juga seorang ahli pertanian dan pengobatan kuno asli nusantara. Raden Mas Soeryokusumo alias Eyang Joego menandai hancurnya tatanan pertanian nusantara dengan mengumumkan kematiannya.

Dan kemudian membangun makam palsunya di gunung Kawi. Dan bersumpah.
Tidak akan pernah lagi memakan hasil pertanian yang ditanam. Dan hanya mau makan dari hasil hutan.

Kelak makam palsu tersebut menjadi titik central peziarah yang mencari pesugihan. Sekaligus Menjadi semacam isyarat simbolik bahwa dimasa depan, setelah tanam paksa akan lahir industri pertanian yang merusak.

Bahwa setelah itu, kebanyakan manusia akan mencari rejeki dengan merusak alam, menghancurkan nasib anak keturunan sebagaimana para pencari pesugihan yang menumbalkan keturunannya..

(Bersambung)

*Asep Kurniawan
Ahli manuskrip kuno

Artikel ini telah dibaca 202 kali

Baca Lainnya