Klenik

Minggu, 10 Mei 2020 - 06:45 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Javanese text in a primbon manuscript, with a mystical diagram above. British Library,

Javanese text in a primbon manuscript, with a mystical diagram above. British Library,

Memaknai Slametan Pada Primbon Adammakna

 

Sebagai umat Islam nusantara, sebagai umat muslim yang berada di nusantara mengakui Allah SWT sebagai Tuhannya dan Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT. Namun, sebagian dari mereka memiliki pedoman kehidupan lain selain Al-Qur’an dan Hadits, yaitu kitab primbon. Pedoman kehidupan dalam hal ini adalah sebagai rujukan atau ancer-ancer dalam menjalani laku hidup, adalah segala tata aturan yang menjelma menjadi way of life dalam kehidupan sosial maupun religius.

Satu diantara kitab-kitab primbon itu adalah Kitab Primbon Betaljemur Adammakna, karya Pangeran Harya Tjakraningrat. Kitab ini merupakan kumpulan dari tradisi leluhur Jawa, yang pada awalnya merupakan wejangan dari Sri Sultan Hamengkubuwana ke-VI, yang merupakan paman dan sekaligus mertua Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat. Tradisi yang paling utama dalam kitab primbon itu, adalah tradisi slametan yang “mewarnai” seluruh aspek kehidupan masyarakat Jawa, mulai dari lahir hingga kematian menjemput mereka (metu, manten, mati).

Slametan menjadi poros budaya dalam khasanah Jawa, yang saat ini fenomenanya ternyata juga telah diadopsi oleh masyarakat diluar etnis Jawa. Slametan dalam khasanah budaya Jawa menjadi suatu hal yang tak dapat ditinggalkan. Dalam hal ini bukan berarti orang Jawa mewajibkan slametan atau menyelameti apapun tetapi memang dari pawakan atau kebiasaan laku orang Jawa sebenarnya tak pernah jauh dari apa yang dinamakan shodaqoh(bahasa arab), memberi, atau segala terminologi lainnya.

Slametan atau kenduren, kenduri biasa disebut. Sebagai ritual atau upacara religius sentral orang Jawa, terungkap nilai-nilai yang dirasa paling mendalam oleh orang-orang Jawa, yaitu nilai kebersamaan, bertetangga dan kerukunan.

Slametan yang diadakan merespon hampir semua kejadian yang ingin diperingati, ditebus, atau dikuduskan. Misalnya kelahiran, perkawinan, kematian, pindah rumah, mimpi buruk, panen, membuka toko, sakit, permohonan kepada arwah, khitanan, naik jabatan dan lain sebagainya. Ritual atau upacara ini merupakan sebuah pesta komunal dan slametan merupakan upacara inti, yang harus mengikuti pola atau aturan yang telah ditetapkan, namun tidak “kaku”, dalam arti dapat disesuaikan dengan kondisi dimana dan kapan slametan itu diadakan.

Aturan yang pasti adalah adanya ubo rampe

dan sesaji. Dan hal ini pun menjadi fleksibel menyesuaikan orang yang memiliki hajat. Terpenting dalam ritual slametan ini adalah wujud ungkapan rasa syukur atau harapan atas karunia, rezeki dari Gusti Alloh yang telah dilimpahkan kepada kita dalam kehidupan ini.

Masyarakat Jawa memiliki sikap religius yang tinggi, dan sikap religius pada masyarakat Jawa meliputi segala aspek kehidupan yang tidak terlepas dari semua pemikiran Jawa. Misal dalam kitabPrimbon, sikap religius dapat dilihat melalui segala tata aturan dan nilai-nilai kearifan masyarakat Jawa (Local Wisdom), yang mewujud ke dalam ritual atau upacara slametan, rumus ilmu ghaib (rajah, mantra-mantra, doa dan tafsir mimpi), ilmu tentang obat-obatan dan jamu, ilmu tentang manusia dan ilmu tentang hewan serta ilmu nujum atau Astronomi atau ilmu falak.

Kitab Primbon Betaljemur Adammakna misalnya, karya Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat, yang merupakan seorang maha patih Danureja pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana ke-VII, merupakan kumpulan tulisan dari tradisi-tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang hidup di dalam masyarakat di bawah pemerintahan sultan yang berkuasa.

Kitab primbon ini merupakan kristalisasi dari world view sebagai pandangan hidup, dan nilai-nilai yang dipedomani oleh masyarakat Jawa, yang terlihat banyak mengandung simbolisme dan tertuang dalam serangkaian tata aturan berketuhanan dan berkehidupan sosial yang mewujud pada ritual atau upacara slametan.

Slametan dilakukan secara tradisional, untuk sebagian besar peristiwa, ataupun tahapan dalam kehidupan manusia. Hal ini bisa terlihat di dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna yang di antaranya seperti slametan tingkeb (slametan tujuh bulanan), slametan brokohan (slametan kelahiran bayi), slametan sapasaran (slametan sepekan kelahiran bayi), dan slametan tetesan (slametan sunat), dan slametan kematian(mendoakan yang telah meninggal).

Tata cara dan nilai-nilai yang terdapat di dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna seperti slametan, golek dina, sesaji dan lain sebagainya, terbentuk secara turun-temurun serta mengalami berbagai tahap perubahan.

Tradisi turun-temurun itu tetap memperlihatkan adanya benang merah yaitu hadirnya doa-doa Islami sebagai ruh serta perangkat-perangkat lokal sebagai wadah dalam budaya Islam sinkretis.

Baik doa-doa Islami maupun perangkat lokal tidak diikat oleh peraturan tertentu, dan pemimpin doa tidak harus pandai dalam mengucapkan doa dengan arab tetapi boleh berasal dari latar belakang apa saja, yang penting bisa berdoa.

Ritual atau upacara slametan terbentuk dari filsafat atau falsafah Jawa, yang terdiri dari tiga landasan utama, yaitu landasan ketuhanan, kesadaran akan semesta, dan keberadaban manusia.

Artikel ini telah dibaca 303 kali

Baca Lainnya