Ngaji Naskah

Minggu, 3 Mei 2020 - 03:45 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Tarikh Auliya’ : Raden Fatah Sunan Bintoro

Raden Fatah Sunan Bintoro

Seperti yang sudah dikisahkan di bawah Raden Fatah itu putra (raja) Majapahit dari ibu Campa, statusnya dengan Raden Rahmat Sunan Ampel sepupuan.

Diceritakan: ketika Raden Fatah masih berada dalam kandungan, ada sedikit masalah yang berhubungan dengan raja dan permaisuri Majapahit. Sumber masalahnya adalah hamilnya seorang putri dari Campa (yang merupakan selir sang raja). Ratu permaisuri sangat tidak menghendakinya.

Kebetulan waktu itu bersamaan dengan agenda adipati-adipati melakukan sowan agung (sowan sebo) menghadap raja di keraton. Di antara adipati-adipati yang hadir itu ada adipati Arya Damar dari Palembang yang juga ikut sowan menghadap sang raja.

Sang Prabu berkata pada adipati Arya Damar:

“Wahai adipati Arya Damar, saya akan memberimu hadiah (kanugerahan) yaitu seorang putri dari Campa. Akan aku kasihkan kepadamu. Tapi saat ini putri itu sedang hamil, maka dari itu engkau kuperingatkan jangan sampai “mengumpuli” sampai si jabang bayi itu lahir”.

Arya Damar menjawab: “Sendiko Dawuh”.

Lalu sang putri diboyong adipati ke Palembang. Tidak lama setelah itu lahirlah si jabang bayi, oleh ibunya diberi nama Raden Hasan. Selanjutnya sang putri dinikahi oleh adipati Arya Damar dan mereka dikaruniai putra bernama Raden Husein.

Kabarnya setelah Raden Hasan sudah besar, dan sudah merupakan takdir, ada pertanyaan kuat dalam hatinya, “Siapa sebenarnya Bapakku?”

Awal mula muncul pertanyaan itu karena kanjeng adipati Arya Damar (ayah tirinya) sering tidak sengaja memanggilnya “Adimas”.

Keingintahuan Raden Hasan itu tidak hanya dipendamnya, dia tanyakan kepada sang ibu. Tapi ketika Raden Hasan bertanya hal tersebut sang ibu enggan menjawab… Raden Fatah terus mendesak sang ibu, tapi sang ibu juga tetap bersikukuh untuk tidak menjawab pertanyaan sang anak. Karena sang ibu mengkhawatirkan perasaan sang anak jika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Karena sang putra sangat ingin tahu dan sang ibu tidak mau menajwab, hal itu membuat Raden Fatah bersedih, sampai tidak mau makan dan tidur. Saking inginnya sang ibu jujur kepadanya.

Melihat putranya makin larut dalam kesedihan tersebut akhirnya membuat sang ibu kasihan. Diberitahukanlah pada sang putra tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sang ibu menceritakan semuanya mulai diboyongnya ia dari negeri Campa sampai akhirnya bisa berada di Palembang. Sang putra khusyu mendengarkan sambil manggut-manggut sampai tak terasa air matanya menetes.

Setelah selesai mendengarkan penuturan sang ibu, Raden Fatah lalu berkata:

“Wahai ibu, kalau begitu saya memohon dengan sangat agar diberi izin dan restu ibu, agar saya diperbolehkan untuk bertemu sang ayah”.

Sang ibu menjawab: “Wahai anakku permata hatiku, meski tak terkira berat rasanya hatiku melepaskanmu, karena mengetahui keinginanmu, saya terpaksa memberimu izin. Tapi saya berpesan padamu agar terlebih dahulu menuju ke Ampel Denta, jadilah santri disana untuk beberapa saat lamanya.

Mintalah izin kepada saudaramu Raden Rahmat, agar bersedia mengajarimu ilmu-ilmu yang utama. Ibu hanya bisa mendoakanmu dari rumah, memohon agar apa yang kau cita-citakan dikabulkan oleh yang Maha Kuasa”.

Dikabarkan: sang adik setelah mendengar sang kakak mau pergi, dia juga meminta izin agar diperbolehkan ikut. Singkat cerita mereka berdua diizini untuk pergi. Dua orang satria muda itu akhirnya berangkat menuju ke Suraba Ampel Denta.

Singkat cerita: Dua orang satria muda itu diterima oleh Raden Rahmat. Mereka diajari ilmu akidah dan syariat. Raden Hasan (Fatah) terlihat sekali lancar belajarnya.

Tak lama di Ampel Denta dua orang satria muda itu minta izin untuk pergi ke Majapahit. Raden Rahmat memberi izin, tapi mereka berdua diperingatkan agar cepat kembali ke Ampel agar bisa selesai mengajinya.

Setelah beberapa bulan tinggal di Majapahit Raden Hasan ingat pesan gurunya, akhirnya ia meminta izin untuk kembali ke Ampel, tetapi adiknya (Raden Husein) tidak ikut karena terlanjur betah tinggal di Majapahit.

Raden Fatah meneruskan ngajinya di pesantren sampai menjadi orang yang alim-allamah. Akhirnya ia diangkat menantu oleh Raden Rahmat. Setelah menjadi alim-allamah berkat usul para wali-wali Raden Fatah diangkat menjadi adipati di Bintoro Demak.

Ketika Raden Rahmat wafat, para wali-wali yang datang ta’ziah berembug bersama untuk menetapkan khalifah pengganti Sunan Ampel. Ketika itu disepakati Raden Fatah sebagai penggantinya.

Akhirnya selain menjabat sebagai adipati, Raden Fatah juga membuka pesantren di Demak Bintoro. Banyak santri yang berbondong-bondong kesana sampai jumlahnya ribuan.

(bersambung)

 

Artikel ini telah dibaca 283 kali

Baca Lainnya