Ngaji Naskah

Sabtu, 2 Mei 2020 - 03:44 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Tarikh Auliya’ : Masuknya Agama Islam di Indonesia

Masuknya Agama Islam di Indonesia

Setelah wafatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW. ilarrofiqil A’la pada tanggal 8 Juni 633. Para Sahabat dan Tabi’in terus meneruskan perjuangan Kanjeng Nabi tabligh mensyiarkan agama islam. Sampai agama islam bisa bersinar seantero bumi (sak indanging dunia).

Dan (Islam) juga pernah mengalami zaman keemasan, yaitu zaman negara dan umat Islam sangat dihormati banyak orang (kajen keringan). Para Mubaligh-Mubaligh dan Penganjur-Penganjur Islam banyak sekali yang berkelana untuk keperluan mensyiarkan Agama Islam.

Di daerah-daerah Indonesia juga tidak ketinggalan dapat bagian mubaligh-mubaligh yang handal yaitu Para Wali-Wali seperti : Maulana Ibrahim Asmara Ayahnya Raden Rahmat. Raden Rahmat Sunan Ampel, Maulana Ishaq, Syarif Hidayatullah, dan masih banyak lagi.

Semua para Wali-Wali dan para Ulama yang datang di Indonesia itu tujuannya hanya tabligh (mensyiarkan Agama Islam), kalau umpama ada yang dagang itu hanya sebagai satir (tutup).

Seperti yang diceritakan dibawah, para Wali-Wali caranya tabligh praktis sekali. Raja-Raja ditablighi dulu, sebab saat mangsa yang besar sudah dapat, yang kecil tentu tinggal mengikuti. Para Wali-Wali dan para penganjur zaman itu caranya tabligh ulet sekali sampai direwangi/dibarengi bertapa, direwangi/disertai menikah dan lain-lainnya yang tujuannya agar cepat berhasilnya apa yang jadi cita-citanya.

Para mubaligh dan para penganjur tidak mengganggu kepada para raja-raja dan para adipati, kalau mau ya diajak masuk Agama Islam, ya dipersilahkan, kalau tidak mau ya sudah. Maka dari itulah para raja dan para adipati merasa sungkan dan hormat (pada para Wali-Wali dan para penganjur Islam).

Diceritakan: Saat Beliau Sunan Ampel menawarkan agama Islam kepada Prabu Kertawijaya Majapahit, Sang Prabu menjawab dengan perkataan : “Sebenarnya kalau saya rasa-rasakan agama Islam itu bagus sekali, tapi jujur berat bagi saya untuk meninggalkan agama/kepercayaan yang sudah saya peluk sejak kecil, dan yang sudah dianut oleh kakek nenek moyang Saya”.

Bagi para pembaca yang mau merasakan nasab-nasabnya para wali dan penganjur-penganjur islam yang sudah diterangkan dibawah, tentunya lalu bisa membayangkan bagaimana kegiatannya dan halusnya/luesnya taktiknya para penganjur-penganjur agama Islam.

Sepertinya hampir semua raja-raja sama-sama mempunyai menantu yang merupakan penganjur agama Islam. Maka jadi tidak aneh jika agama islam di Indonesia umumnya dan di tanah Jawa khususnya islam cepat sekali bisa tersyiar dan menyebar luas.

Coba, Sunan Ampel cucu raja di Campa. Sunan Giri cucu raja di Blambangan. Raden Fatah (Sunan Bintoro) putra Brawijaya. Sunan Kalijaga putranya Adipati Wilatikta. Sunan Muria cucu Adipati Wilatikta. Sunan Ngudung putra Menantu Adipati Wilatikta. Kurang lebihnya Para Wali dan Para Penganjur langkahnya dan pengaruhnya jelas sekali. (bersambung, pembahasan berikutnya tentang manaqib Raden Fattah/Sunan Bintoro)

 

Artikel ini telah dibaca 131 kali

Baca Lainnya