Ngaji Naskah

Rabu, 29 April 2020 - 07:31 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Tarikh Al-Auliya’ : Menelusuri Serpihan Kisah Wali Songo

Bismillahirrohmanirrohim,
Subhanakallahumma robbana la ilma lana illa ma ‘allamtana innaka antal alimul hakim..

Qola al muallif rahimahullahu wanafa’na bihi wa bi ulumihi wa amaddana biasrorihi wata’adda alaina bibarokatihi fid daraini amin

(Pembukaan)

Ilmu Sejarah (Tarikh) adalah ilmu untuk mengetahui kejadian-kejadian pada masa lampau. Adapun buah dari mempelajari ilmu sejarah adalah memberitahukan yang benar atas haknya (meluruskan kebenaran) , memotivasi jiwa, memperbanyak amal sholih dan menjadikan tetap (karakter) amal sholih yang ada di dalam sejarah.

Allah berfirman:

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَآءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ ۚ وَجَآءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَـقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang yang beriman.” (QS. Hud 11: Ayat 120)

Dari Sa’ad bin Abi waqosh r.a sesungguhnya ia telah berkata: ayahku mengajarkan kpada kami peperangan yg diikuti oleh rasul dan Sirah beliau, kemudian ayahku berkata: wahai anak kecilku inilah kemulyaan ayah kalian, maka jangan lupakan untuk mengingatnya
Zain Al Iraqi berkata: seyogyanya seorang murid mengetahui sirah yang dibenarkan dan yang diingkari, Imam Ahmad bin Hambal dan lainnya juga berkata tatkala kami meriwayatkan tentang halal dan haram maka kami memperketat, dan tatkala kami meriwayatkan keutamaan-keutamaan, kami mempermudah.

Alhamdulillah wassholatu wassalamu ala rasulillah sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa man walah “wa ba’du”

Sejak (negara) kita Indonesia menjadi bangsa yang merdeka. Selanjutnya kita harus bersama-sama kuat menyambungkan naluri kepada leluhur-leluhur kita semua. Babad-babadnya dipelajari, sejarah-sejarahnya diajarkan di sekolah baik yang berbahasa Indonesia, bahasa daerah atau (bahasa) lainnya.

Akan tetapi buku-buku sejarah yang sudah menyebar atau telah diajarkan di Madrasah/Sekolah itu ada sebagian yang tidak menjelaskan bab-bab yang menceritakan sejarah-sejarahnya para wali, para sunan, penyebar agama Islam yang berada di Indonesia umumnya dan yang ada di tanah Jawa khususnya.

Karena sejatinya kita harus tahu, para raja di Tanah Jawa sepertinya hampir semuanya selalu didampingi oleh para sunan atau para pengajak/da’i agama Islam.

Maka dari itulah di dalam kitab risalah kecil ini penulis (KH. Bisri Mustofa) ingin mengangkat kembali kisah-kisah yang berhubungan dengan sejarah para sunan, agar bisa menjadi tambahan materi untuk para ustadz ketika mengajarkan sejarah Indonesia kepada para murid-muridnya.

Shofar 1372 H/September 1952 M

Bisri Mustofa

***

Ratu Campa

Kurang lebih tahun 1300 M, yang bertahta di kerajaan Campa seorang raja yang bergelar Raja Kutara, raja kafir Binatoro. Ia memiliki 3 putra-putri: 1. Darawati Murdaningrum, 2. Dewi Candrawulan, 3. Raden Cingkara.

Telah diceritakan: ada salah seorang muballigh Islam yang berasal dari tanah Arab bernama Ibrahim Assamarkan yang lebih masyhur dengan nama Ibrahim Asmara. Beliau datang ke kerajaan Campa untuk menyebarkan agama Islam kepada sang raja agar mau memeluk agama Islam. Biidznillah.

Sang raja menyambut ajakan Maulana Ibrahim Assamarkan untuk masuk agama Islam bahkan bersedia membuatkan masjid dan memohon kepada Maulana Ibrahim Asmara agar bersedia (tinggal dan) menyebarkan agama Islam di Campa.

Akhirnya Maulana Ibrahim Asmara dinikahkan oleh Raja Kutara dengan seorang putrinya yang (kedua) bernama Dewi Candra Wulan. Sedangkan putri raja Kutara yang pertama , yakni Dewi Murdaningrum menikah dengan Prabu Kertawijaya dari kerajaan Majapahit. Jadi status hubungan Maulana Ibrahim Asmara dengan Prabu Kertawijaya (Brawijaya V) adalah saudara ipar (Pripihan).

Maulana Ibrahim dengan istri Campa (Dewi Candra Wulan) memiliki 3 putra: 1. Raden Pandito/Sayyid Ali Murtadho/Sunan Gresik (makam beliau ada di sebelah utara masjid jami’ gresik), 2. Raden Rahmat/Sunan Ampel Denta Surabaya, dan 3. Siti Zainab. (makam beliau di Jalan Kapt. Darmo Sugondo III Sidorukun Gresik, dikomplek makam itu terdapat juga Syekh Malik yang disebutkan sebagai paman Raden Ainul Yaqin Sunan Giri).

Sedangkan Prabu Kertawijaya (Brawijaya V) memiliki putra banyak sekali. Tetapi yang (masyhur) diceritakan dari istri Padmi: 1. Raden Arya Damar Adipati Palembang. (terjadi perbedaan pendapat hubungan antara Arya Damar dengan Brawijiaya V, jika Kyai Bisri Mustofa mengatakan Arya Damar anak dari Brawijaya V, Drs. R. Pitono Harjowardoyo (1966) menyatakan mereka berdua kakak beradik. Bahkan menurut R. Pitono, Raden Husen/Adipati Terung adalah anak Arya Damar dari istri Brawijaya V yang diberikan kepada adiknya itu).

Sedangkan dari istri Campa Prabu Kertawijaya berputra: 1. Putri Hadi, istri Adipati Dayaningrat dari Pengging, 2. Lembu Peteng di Madura, dan 3. Raden Gugur. (ada pendapat yang menyatakan jika Lembu Peteng penguasa Madura itu dimakamkan satu area dengan Raden Rahmat Sunan Ampel, seharusnya ini juga perlu diteliti lebih lanjut).

Sedangkan dari Istri Ponorogo Prabu Kertawijaya berputra: 1. Batoro Katong di Ponorogo (makam Batoro Katong di Ponorogo menjadi salah satu tujuan utama peziarah, meskipun versinya sampai sekarang masih dinamis dalam perdebatan, karena banyaknya versi yang melingkupinya), 2. Adipati Luwanu.

Sedangkan dari istri Bagelen Prabu Kertawijaya memiki putra bernama Jaran (Mahesa) Panoleh…..

Dan dari istri Campa (di sini disebutkan putri Campa lagi, berarti ada kemungkinan Brawijaya V menikahi perempuan asal Campa lebih dari 1 selain dari anak raja Kamboja) berputra Raden Fattah. Raden Fattah inilah yang mendirikan kerajaan Islam pertama kali di Bintoro Demak.

(*catatan:

  1. ketika merujuk dua wanita yang berasal dari Campa yang dinikahi oleh Brawijaya V, sepertinya putri Campa kedua atau yang bukan putri dari raja Kutara yang merupakan ibu dari Raden Fattah dan ibu dari Raden Husen/Adipati Terung.
  2. Ada dua pembagian nama untuk istri raja, pertama adalah Istri Padmi atau Permaisuri. Istri Padmi adalah istri yang utama dimana dari rahimnya lah tahta kerajaan atau bisa diwariskan. Kedua, istri Ampilan/Ampeyan, bukan istri utama atau biasanya disebut dengan Selir. Istri Selir dan anak dari raja hanya mendapat warisan harta tidak warisan tahta di pusat kerajaan).

Telah selesai kisahnya, selanjutnya akan dijelaskan nasabnya.

Raden Fattah (Hasan) bin Prabu Kertawijaya bin Raden Suruh (Ratu Majalengka) bin Mundi Wangi (Raja Pajajaran) bin Mundi Sari (Pajajaran) bin Raden Laliyan (Pajajaran) bin Rawis Rengka (Jenggala) bin Tebubin Amiluhur (Jenggala) bin Resi Gentayun bin Gendihawan bin Srima Punggung bin Sila Jalu bin Pancadriya bin Citra Samu bin Sumawi Citra bin Gendrayana bin Jaya Amijaya bin Jaya Darma bin Hudayana

bin Parikesit bin Ongko Wijaya bin Arjuna bin Pandu (Gestina) bin Habiwasa bin Pulasara bin Raden Saheri bin Raden Sekutrem bin Raden Sutopo bin Raden Manawasa bin Marigeno bin Eyang Terustili bin Sri Gati bin Wisnu bin Sang Hyang Guru bin Sang Hyang Tunggal bin Sang Hyang Wening bin Sang Hyang Wenang bin Sang Hyang Nur Rasa bin Raden Nur Cahya bin Nabi Adam alahissalam.

(mungkin nama-nama pada jalur nasab Raden Fattah ini bagi beberapa kalangan dinilai rancu, apalagi nasab itu berhubungan dengan silsilah moyang Brawijaya V. Jadi semakin menarik ketika menemukan tambahan informasi seperti ini, memancing daya kritis kita untuk bertanya “sejarah mainstream” yang selama ini kita baca).

Wallahua’lam bisshowab. (bersambung)

 

Artikel ini telah dibaca 129 kali

Baca Lainnya