Talks

Kamis, 23 April 2020 - 04:37 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Santri Milenial Sebagai Agen Percepatan SDGs di Indonesia

SANTRI MILENIAL SEBAGAI AGEN PERCEPATAN SDGs DI INDONESIA

Oleh: Ilham Misbahul Qolbi*

Apa yang terbayang di benak Anda jika mendengar kata SGDs? Ya, SDGs merupakan
singkatan dari Sustainable Development Goals yang dalam bahasa Indonesia artinya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau disingkat menjadi TPB.

Sebuah agenda pembangunan
universal yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke 70, tanggal 25-27 September 2015 di New York, Amerika Serikat, menjadi titik sejarah baru dalam pembangunan global.

Sebanyak 193 kepala negara dan Pemerintahan Dunia, termasuk Indonesia, hadir untuk menyepakati agenda
pembangunan universal baru yang tertuang dalam dokumen berjudul Transforming Our World:

the 2030 Agenda for Sustainable Development. Agenda pembangunan ini juga menjanjikan semangat bahwa tidak ada seorangpun yang akan ditinggalkan (no one left behind) pada Tahun
2030.

Dokumen tersebut berisi 17 Tujuan, 169 Target Sasaran dan 241 Indikator, yang
diintegrasikan ke dalam rencana pembangunan nasional untuk menyelesaikan masalah kemiskinan, perlindungan terhadap planet bumi, dan penjaminan kemakmuran untuk semua yang berlaku mulai tanggal 1 Januari 2016 hingga 31 Desember 2030.

17 tujuan ini
dimaksudkan agar bisa tercapai dalam rentang waktu 15 tahun, yang artinya 2030 diharapkan seluruh permasalahan mengenai ketujuh belas hal yang disebut bisa teratasi. 17 tujuan tersebut
antara lain:
1. No Poverty (Tanpa kemiskinan)
2. Zero Hunger (Tanpa kelaparan)
3. Good Health and Well-being (Hidup sehat dan sejahtera)
4. Quality Education (Pendidikan berkualitas)
5. Gender Equality (Kesetaraan gender)
6. Clean Water and Sanitation (Air dan sanitasi bersih)
7. Affordable and Clean Energy (Energi bersih dan terjangkau)
8. Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi)
9. Industri, Innovation, and Infrastructure (Industri, inovasi, dan infrastruktur)
10. Reduced Inequalities (Berkurangnya kesenjangan)
11. Sustainable Cities and Communities (Kota dan komunitas berkelanjutan)
12. Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan produksi yang bertanggung
jawab)
13. Climate Action (Penanganan perubahan iklim)
14. Life Below Water (Ekosistem laut)
15. Life on Land (Ekosistem darat)

16. Peace, Justice, and Strong Institutions (Perdamaian, keadilan, dan institusi kuatian, keadilan, dan institusi kuat)
17. Partnerships for The Goals (Kemitraan untuk mencapai tujuan)
SDGs merupakan kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) yang disepakati oleh negara anggota PBB pada tahun 2000 dan berakhir pada akhir tahun 2015.

Semua tujuan yang terdapat di MDGs dianggap berhasil tetapi hanya memperoleh data
kuantitatif, seperti Indonesia mengalami pengurangan angka kemiskinan 5 persen pada tahun
2013 – 2014, memang angka kemiskinan menurun tetapi bisa saja disebabkan 5 persen
pengurangan tersebut disebabkan oleh faktor kualitatif seperti terjadinya mortalitas maupun
natalitas. Oleh karena itu, hadir SDGs dengan periode 2015-2030 yang diharapkan mampu
mengubah dunia menjadi jauh lebih baik lagi dengan 17 tujuan umum yang dapat dilaksanakan
oleh setiap negara.
Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-
2019, agenda SDGs telah terintegrasi dan sampai saat ini telah berhasil mencapai 94 dari 169
target indikator yang ditetapkan. Sedangkan dalam Draft RPJMN 2020-2024 Pemerintah Republik Indonesia berkomitmen melaksanakan agenda SDGs dengan mengintegrasikan 169
indikator SDGs.
Pemerintah memang memiliki tugas dan peran untuk membuat usaha-usaha mencapai tujuan-tujuan dari SDGs, namun bukan berarti pemerintah harus bergerak seorang diri untuk menyukseskannya. Apakah bisa tujuan-tujuan tersebut tercapai jika hanya melalui program- program pemerintah?

Jawabannya tidak, kita sebagai masyarakat juga harus menyadari
urgensinya pemenuhan tujuan-tujuan tersebut dan meningkatkan kepekaan kita terhadap kondisi saudara dan kawan di sekitar kita.

SDGs jangan dilihat sebagai wacana dunia internasional semata, melainkan juga suatu langkah sistematis guna menjaga eksistensi kehidupan manusia
sebagai khalifah, kata khalifah bisa juga di ganti menjadi pemimpin, di muka bumi.

Tujuan utama SDGs adalah kemaslahatan semua umat manusia tanpa melihat apapun latar
belakangnya. Nah Sekarang apa jadinya jika para santri milenial turut serta terjun untuk mewujudkan tujuan-tujuan dari SDGs? Santri milenial juga merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki potensi kemudaan dan keleluasaan, sehingga santri milenial harus bisa turut berperan menyukseskan SDGs.

Kalau kita tinjau secara bahasa kata santri milenial ini terdiri dari dua kata yaitu santri dan milennial. Adapun santri secara umum merupakan istilah bagi sekelompok orang yang sedang menempuh pendidikan selama di pesantren yang mempelajari kitab-kitab agama Islam di lembaga pendidikan tradisional yang dikenal dengan nama pondok pesantren.

Biasanya sebelum mempelajari keilmuan mereka dilatih dari segi karakter atau akhlak, kemudian ditanamkan keimanan, dan barulah mendalami ilmu-ilmu khususnya agama Islam.

Sementara milenial adalah sebutan bagi generasi Y dan Z. Merujuk klasifikasi Howe dan Strauss, millennial saeculum terbagi empat generasi, yaitu generasi baby boom (terlahir antara 1943-1960), generasi X (1961-1981), generasi Y atau milenial (1982–2004) dan generasi Z atau homelanders (sejak 2005).

Dari sini, tampak jelas, generasi milenial memasuki usia paling produktif. Elwood Carlson dalam bukunya yang berjudul The Lucky Few:Between the Greatest Generation and the Baby Boom” terbitan tahun 2008, mengatakan bahwa generasi
milenial lahir di antara tahun 1983 – 2001 dengan perubahan politik dan sosial yang terjadi setelah peristiwa 11 September di Amerika Serikat.

Pada tahun 2016, lembaga U.S Pirg
mengeluarkan rilis bahwa milenial sebagai orang yang lahir antara tahun 1983 dan 2000. Jadi, santri milenial adalah santri yang bertepatan pada generasi Y dan Z dimana mereka hidup
dengan kemajuan zaman, perkembangan globalisasi, inovasi teknologi digital, serta media sosial yang berpengaruh pada transformasi harakah (gerakan) santri tersebut di zaman sekarang.

Para santri yang biasanya lekat dengan kitab kuning, dan segala sesuatu yang
berhubungan dengan ilmu agama, sekarang mereka juga harus dilatih kreatif dan mandiri mengikuti perkembangan zaman, selain fasih dalam bidang ilmu agama Islam.

Karena inovasi teknologi digital dan media sosial sekarang berpengaruh pada transformasi harakah (gerakan) santri.

Oleh karena santri milenial juga harus memiliki strategi yang berbeda
dalam merespons tanggungjawab keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan.

Bersambung..

 

* Penulis Kelahiran Wonogiri ini sedang berproses di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang, juga Pemerhati kopi, lintingan, dan geo-politik Islam di Indonesia.

Artikel ini telah dibaca 138 kali

Baca Lainnya
  • 26 Agustus 2020 - 20:45 WIB

    Kyai Kategan