Ngaji Naskah

Kamis, 23 April 2020 - 20:52 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Hikayat Pandawa Lima

Sudah sejak masa lalu cerita tentang Pandawa sudah dikenal luas di Indonesia. Ini terbukti dari banyaknya cerita tentang Pandawa didapati di berbagai daerah di Nusantara. Di antara naskah-naskah Melayu klasik koleksi Perpustakaan Nasional terdapat beberapa naskah kuna yang menceriterakan hikayat Pandawa, antara \am:Hikayat Pandawa, Hikayat Pandawa Jaya, Hikayat Pandawa Panca Kelima, dan Hikayat Pandawa Lima. Yang terkenal di antaranya ialah Hikayat Pandawa Lima.

Naskah yang dialihaksarakan ini merupakan koleksi Perpustakaan Nasional dengan nomor panggil ML508, yang berjudul Hikayat Pandawa Lima. Dalam Katalogus Koleksi Naskah Melayu (Sutaarga, 1972 : 7), disebutkan bahwa naskah Hikayat Pandawa Lima ini berasal dari Palembang.

Deskripsi naskah ML 508 Ukuran Naskah: 34,5 x 20,5 cm. terdiri atas 55 him., memuat 35 baris per halaman. Ukuran blok teks: 15,5 x 26 cm.Teks berbentuk prosa berbahasa Melayu dan beraksara Arab ini ditulis dengan tinta hitam dan merah. Kondisi naskah masih baik, tetapi tulisan tidak begitu jelas terbaca karena hurufnya kecil-kecil. Teks ditulis pada kertas folio bergaris.

Tidak ditemukan cap kertas (watermark) pada naskah. Kolofon ditulis pada akhir ceritera sebagai berikut : ‘Tamat kepada tanggal 3, bulan Jumadil Awal, malam Ahad, jam Vi 3 adanya, pada tahun 1336. Maka adalah yang mengarang ini yaitu Kemas Ahmad, pada kampung Ulu.’

Teks menceriterakan tentang seorang raja di Kayangan, yang bernama Sri Maharaja Batara Guru. Sang Raja ingin sekali mempunyai seorang isteri yang sangat cantik jelita, maka ia mengutus panglimanya yang bernama Batara Narada turun ke Marcapada untuk menemui Prabu Darmakusuma di negeri Ingmartawangsa.

Prabu Darmakusuma bersama keempat saudaranya diminta pergi ke negeri Medangkan Bulan untuk melamar anak Prabu Lingga Buana. Konon raja tersebut mempunyai seorang puteri yang sangat cantik dan elok parasnya. Setelah utusan tersebut sampai ke negeri Medangkan Bulan, disampaikanlah maksud dan tujuannya, yaitu bahwa ia diutus oleh Sri Maharaja Batara Guru untuk melamar putrinya yang bernama Putri Manggarisi. Raja Medangkan Bulan menerima lamaran itu dengan senang hati. Diselenggarakanlah pesta makan dan minum yang meriah siang dan malam.

Sementara itu, Raden Arjuna yang sudah selesai dari pertapaannya selama kurang lebih tujuh tahun bersama Semar, Petruk, dan Nolo Gareng, hendak turun pulang ke negerinya. Dalam perjalanan pulang mereka singgah di negeri Medangkan Bulan untuk melihat keindahan negeri itu. Mereka masuk ke taman penglibur lara dan melihat tuan puteri Manggarisi beserta inang pengasuh dan dayang-dayang sedang mandi bersemburan dengan penuh sukacita.

Oleh Raden Arjuna sekalian orang di dalam taman itu terlihat seperti berbagai kuntum bunga. Sial bagi Raden Arjuna, batang pohon yang dipanjatnya patah dan ia terjatuh ke dalam kolam. Ia lalu berpura-pura mati. Mayat Raden Arjuna diangkat ke darat oleh dayang-dayang dan inang pengasuh dan diletakkan di balai kencana. Semar datang bersama Petruk dan Nolo Gareng sambil menagis melihat tuannya yang telah telah mati.

Maka untuk menghidupkan Raden Arjuna kembali, Semar menyarankan agar Puteri Manggarisi memasukkan sepah sirih yang dikunyahnya ke mulut Raden Arjuna. Dengan terpaksa dan menahan main, tuan puteri memasukkar: sepah dari mulutnya ke mulut Raden Aijuna. Ketika Raden Arjuna merasakan mulut tuan puteri, ia membuka matanya lalu duduk seraya memegang tangan puteri Manggarisi.

Lalu sang puteri dipangku dan dipeluk diciumnya. Tuan puteri ingin lari tetapi tidak mampu. Ia dibujuk dengan katakata dan cumbuan yang manis-manis, serta dengan kidung dan kakawin yang dilagukan dengan merdu, seperti kumbang mencari bunga. Luluhlah hati tuan putri dalam pelukan Raden Arjuna. Mereka akhirnya kembali ke dalam mahligai tuan putri di negeri Medangkan Bulan .

Teks menceriterakan tentang seorang raja di Kayangan, yang bernama Sri Maharaja Batara Guru. Sang Raja ingin sekali mempunyai seorang isteri yang sangat cantik jelita, maka ia mengutus panglimanya yang bernama Batara Narada turun ke Marcapada untuk menemui Prabu Darmakusuma di negeri Ing martawangsa.

Prabu Darmakusuma bersama keempat saudaranya diminta pergi ke negeri Medangkan Bulan untuk melamar anak Prabu Lingga Buana. Konon raja tersebut mempunyai seorang puteri yang sangat cantik dan elok parasnya. Setelah utusan tersebut sampai ke negeri Medangkan Bulan, disampaikanlah maksud dan tujuannya, yaitu bahwa ia diutus oleh Sri Maharaja Batara Guru untuk melamar putrinya yang bernama Putri Manggarisi. Raja Medangkan Bulan menerima lamaran itu dengan senang hati. Diselenggarakanlah pesta makan dan minum yang meriah siang dan malam.

Sementara itu, Raden Arjuna yang sudah selesai dari pertapaannya selama kurang lebih tujuh tahun bersama Semar, Petruk, dan Nolo Gareng, hendak turun pulang ke negerinya. Dalam perjalanan pulang mereka singgah di negeri Medangkan Bulan untuk melihat keindahan negeri itu. Mereka masuk ke taman penglibur lara dan melihat tuan puteri Manggarisi beserta inang pengasuh dan dayang-dayang sedang mandi bersemburan dengan penuh sukacita.

Oleh Raden Arjuna sekalian orang di dalam taman itu terlihat seperti berbagai kuntum bunga. Sial bagi Raden Arjuna, batang pohon yang dipanjatnya patah dan ia terjatuh ke dalam kolam. Ia lalu berpura-pura mati. Mayat Raden Arjuna diangkat ke darat oleh dayang-dayang dan inang pengasuh dan diletakkan di balai kencana. Semar datang bersama Petruk dan Nolo Gareng sambil menagis melihat tuannya yang telah telah mati.

Maka untuk menghidupkan Raden Arjuna kembali, Semar menyarankan agar Puteri Manggarisi memasukkan sepah sirih yang dikunyahnya ke mulut Raden Arjuna. Dengan terpaksa dan menahan main, tuan puteri memasukkar: sepah dari mulutnya ke mulut Raden Aijuna. Ketika Raden Arjuna merasakan mulut tuan puteri, ia membuka matanya lalu duduk seraya memegang tangan puteri Manggarisi. Lalu sang puteri dipangku dan dipeluk diciumnya.

Tuan puteri ingin lari tetapi tidak mampu. Ia dibujuk dengan katakata dan cumbuan yang manis-manis, serta dengan kidung dan kakawin yang dilagukan dengan merdu, seperti kumbang mencari bunga. Luluhlah hati tuan putri dalam pelukan Raden Arjuna. Mereka akhirnya kembali ke dalam mahligai tuan putri di negeri Medangkan Bulan . Mengenainya, bahkan datang menyembah kaki Raden Arjuna. Setelah mengetahui bahwa Prabu Gembira Anom adalah anaknya putri Manggarisi di negeri Madangkan Bulan, Arjuna memeluk anaknya itu.

Mereka membawa Raden Gembira Anom ke negeri Darawati untuk berkumpul dengan keluarga Pandawa. Raden Gembira Anom dikawinkan dengan Dewa Lemanawati dari negeri Astina.

Peperangan demi peperangan terus berlangsung antara keluarga Pandawa dan Astina, serta raja-raja lain yang menjadi musuhnya. Setelah peperangan berakhir Nakula menjadi raja di Putar Tasyik dan Raden Sahdewa dijadikan Prabu Anom Jayakusuma di tanah Keinderaan, merintahkan sekalian dewa-dewa dan mambang peri. Anak Prabu Gambang Kencana berbesan dengan Prabu Astinapati dan Raden Bambang Irawan dijadikan Prabu Anom Mercu Indra merintah jin parayangan di Mercu Indra. Begawan Ingmarta yang menjadi Pendeta  Jayakusuma bertapa di gunung Indrakila bersama-sama dengan Raden Arjuna yang menjadi Ajar Laksana Dewa.

Raden Jodipati menjadi Putut Jenggala Bilawa. Anak Prabu Pringgandani dan Raden Ontorejo dijadikan raja di Suratalang bemama Ganggasura, dan Raden Nagasena dijadikan raja di dalam Tasyik. Raden Naga Jarataja dijadikan raja di dalam tanah jin yang bernama Hargo Siluman.

*Tulisan ini adalah pendahuluan dari Hikayat Pandawa Lima yang bakal tayang setiap hari menemani pembaca dalam mengisi ‘nunggu bedhug’ ngabuburit di bulan Ramadlan ini. semoga istiqomah tulisan ini ke episode-episode berikutnya.

Artikel ini telah dibaca 122 kali

Baca Lainnya