Nyastra

Kamis, 2 Januari 2020 - 00:13 WIB

9 bulan yang lalu

logo

Nasi Goreng Karetnya Dua

Oleh: Trimaya W

Seperti biasa, aku tak memiliki banyak kegiatan ketika pergantian tahun. Berbeda dengan orang lain yang terbiasa dengan perayaan-perayaan semacam itu, mereka lebih bisa menikmatinya dibandingkan denganku. Tidak ada yang ku benci dari kembang api, petasan, konser, atau keluar dengan orang tersayang. Hanya saja aku lebih nyaman berdiam di ruang berukuran 4×4 meter dan melakukan apa yang kusuka disini, dikamar ini.

31 Desember 2018 sekitar pukul 8 malam, aku merasa malam itu adalah malam tahun baru yang memaksaku untuk beranjak dari kamar untuk menepis rasa lapar. Aku memilih menu nasi goreng, alasannya karena warung tersebut lah yang paling dekat jaraknya dengan kostku, alasan lain karena warung itu tak begitu antre. Dengan begitu aku tak banyak menghabiskan waktu diluar.

Saat aku tiba ditujuan, benar saja perkiraanku, hanya ada satu pengunjung yang sedang menunggu pesanannya. Tak ingin lama-lama aku segera memesan nasi goreng satu bungkus tidak pedas. Sembari menunggu aku melihat lalu lalang jalanan yang ramai dilintasi oleh mereka yang turut menyambut tahun baru 2019.

Riuh kembang api mencabik-cabik langit Magelang. Hiruh pikuk ini… kebak dimata dan telinga, bising, aku tak begitu suka.

Dalam perjalanan pulang, aku sedikit merasa ada yang aneh. Yaa, ada yang mengikutiku tapi entah aku tak yakin diantara kami saling kenal. Sesekali kulihat lewat kaca spion agaknya dia memang sengaja mengikutiku, gerak-geriknya sangat membuatku cemas. Aku memutuskan untuk berhenti ditempat yang ramai, karena jika memang orang tersebut ada maunya aku tidak salah berhenti ditempat ramai.

Benar saja, orang itu memarkirkan motornya persis disebelahku.

Sedikit rasa takut dan waspada, memasang mata tajam, wajah beringas, dan bersiap untuk teriak..

“Mbak maaf jika tidak nyaman saya bontoti dari belakang, mau dipanggil takut dikira godain orang dijalan, saya hanya mau menukar nasi gorengnya. Tadi mbaknya bawa pesanan milik saya” celetuk orang tersebut

“Ohh iya?” Aku menjawab agak kurang percaya

“Iya, tadi saya dulu yang pesan tapi mbak nya dulu yang dapet, setelah saya cek ternyata tertukar. Tadi bapak yang punya warung yang bilang kalau tertukar dengan pesanan mbak nya, coba dicek”

Bergegas aku mengambil kresek berisi bungkusan dan mengeluarkannya. Belum sempat aku berkata, pemuda tersebut langsung mengambil bungkusan nasi goreng dari tanganku.

“Nah benar ini karetnya ada dua, berarti ini yang pedas mbak”

Tanpa diperintah ia memberikan bungkusan yang didapatnya dari warung dan memberikannya padaku.

Tak ada yang istimewa dari kejadian ini, hanya jika ini tidak terjadi aku tak bisa berkisah dari mana awal pertemuanku dengan orang yang semoga saja akan berarti untuk hidupku.

Setelah kejadian malam itu, entah sebagai pertanda atau memang hanya kebetulan belaka, tanpa direncanakan kami bertemu kembali.

“Saya tahu mbak nya ini yang nasi gorengnya sempat tertukar dengan nasi goreng saya kan?” Ketus pemuda itu yang berdiri tegap tepat disisih ku,

“Boleh saya duduk dimeja ini mbak?”

Aku sedikit dikejutkan dengan keberadaan nya

“Hah?? Ya silahkan mas, langganan disini ya?” Satu pertanyaan ku lontarkan

“Hanya saat akhir pekan saja mbak makan disini, kebetulan sekali kita berjumpa lagi, kalo boleh tau mbak nya tinggal didekat-dekat sini ya?”

“Iya mas” aku menjawab secukupnya

“Boleh saya tau namanya” tanya pemuda itu dengan dibarengi uluran tangan

Malam itu banyak sekali yang kami perbincangkan, dari perbincangan tersebut aku mengetahui namanya, kegiatan kesehariannya, alamatnya, bahkan umurnya. Redha, pemuda asal Sulawesi yang merantau ke Jogja untuk menempuh pendidikan tinggi, yang mengejutkan lagi ia mahasiswa semester 5 dikampus yang sama denganku.

Terlihat dari penampilan dan caranya berbicara, pemuda itu memiliki templat yang unik. Bodoh, mudah sekali aku terpikat.

Beberapa hari berlalu, ada yang membekas dari pertemuan itu. Pertemuan kedua itu kuharap bukan hanya sebagai pertemuan semu. Aku terlalu berekspetasi akan banyak hal dari satu kejadian. Bedebah, saban hari aku mulai memikirkannya.

Sementara itu, dikampus sedang ada pameran lukisan yang diselenggarakan oleh fakultas seni rupa.

“Sejak kapan ada acara ini?” Tanya Gea temanku sedari aku ospek hingga saat ini

“Hari ini” jawabku, hanya mengira-ngira saja

“Sudah tidak ada mata kuliah, lihat-lihat yuk Leka” ajakan dari Gea yang terlihat malas dengan laptop nya.

Tanpa menunggu jawabanku, Gea sudah beranjak meninggalkan bangku yang kami berdua duduki.

“Tidak biasanya kau tertarik dengan hal seperti ini Ge” aku sekarang yang bertanya

“Aku tidak melihat objek pamerannya Lek”

“Habis itu?”

“Mau lihat anak-anak seni rupa yang kurang eksis diorganisasi kampus, sepertinya menarik untuk dieksplore aura ketampanannya” jawab Gea dengan candaannya. Aku hanya menggeleng kepala menyaksikan tingkah tak sedap dari temanku.

Tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat Redha terlihat sedang berbincang-bincang dengan pengunjung lain. Ingin aku menghampirinya. Jarak kami sekitar 10 meter, belum saling menatap, belum saling bicara tapi rasanya tubuhku sudah kaku, aku merasa gugup. Setelah beberapa kali meyakinkan diri, aku memutuskan untuk menghampirinya.

“Bagus sekali lukisan ini, apa ini kau yang melukisnya?” Aku mencoba membuka percakapan dengan memuji apa yang sedang ia perhatikan.

Sedikit terkejut, Redha sontak menoleh kearahku memastikan siapa yang sedang mengajaknya berbicara.

“Bagaimana? Apa kau suka?”

Tak menjawab pertanyaanku, ia malah berbalik tanya.

“Estetik” jawabku singkat

“Terimakasih” jawab Redha serupa singkat “Dengan siapa kemari?” Tambahnya

“Teman, sepertinya temanku sedang asyik melihat-lihat”

Baru saja sadar ternya aku meninggalkan Gea ditempat sebelumnya, tak apa lah sepertinya Gea tengah mencari apa yang dicarinya.

Setengah jam aku dan Redha asyik membicarakan pameran ini, dan tiba-tiba saja ia mengajaku untuk menemaninya mengambil perkakas sekaligus makan diluar. Sial, segara aku mengiyakan, mana mampu aku menolaknya. Begitu senang rasanya berada didekat Redha, itu yang kurasa.

“Belum makan kan?” Tanya Redha memecah diam

“Hmm belum”

“Kau tau kenapa tidak kutanya mau makan apa?”

“Memangnya kenapa?”

“Sudah pasti dijawab terserah”

Sepanjang jalan Redha sering melucu hingga aku tak bisa menahan tawa didekatnya.

Perjalanan dari keluar kampus sampai kembali ke kampus Redha bercerita banyak hal. Kami tak kehabisan obrolan, Redha yang paling banyak bercerita dibanding denganku. Lagipula tak banyak yang bisa kubagi, aku lebih suka mendengarkannya dibanding membuka mulut.

Jika dihitung itu adalah pertemuan ke tiga kami. Kemudian berlanjut pada pertemuan ke empat, lima, delapan, sepuluh dan berikutnya, kami lebih sering bertemu baik disengaja tau tidak dari sebelumnya. Hingga kami saling memahami perasaan satu sama lain. Pada perasaan-perasaan yang muncul karena sering bersama, atau karena murni dari hati.

Aku begitu tak paham makna sepenuhnya, yang jelas tidak ada hal yang biasa-biasa saja saat kita sedang bersama. Pemuda itu kupikir adalah realisasi dari yang bergejolak dihati, yang sebelumnya begitu samar jika hanya dirasa. Entah, aku tak begitu pandai mendefinisikannya.

Namun sangat menyedihkan, ketika perasaan ini dipaksa melerai pada waktu yang tidak semestinya. Seperti pada sebatang mawar yang sedang mekar, membutuhkan waktu untuk layu dan kering. Tapi berbeda situasinya dengan ini, mawar yang mekar ini dipaksa kering diwaktu yang bersamaan dengan kemekarannya.

Yang kuingat, pada pertemuan ke enam belas adalah pertemuan terakhir kami. Sebelum Redha menghilang tak berkabar dan tak bisa dikabar. Seberapa sering aku menanyakan dirinya pada temannya, orang terdekatnya, aku tidak begitu hafal seberapa sering.

Dititik ini aku merasa dipermainkan, di saat bersamaan aku pun merasakan keresahan tentang keberadaannya. Enam belas pertemuan bukan hanya pertemuan konyol belaka, bukan hanya tempat menghabiskan waktu saja bagiku.

Berkali-kali mencoba untuk tidak menghadirkannya dalam pikiranku, tetapi sia-sia saja. Berkali-kali membantah hati agar mencoba membuka lembar baru, tetapi semua masih saja tertata rapi dan merasa belum selesai sampai disini.

Jika memang pemuda itu yang membawaku pergi, lantas mengapa ia tak membawaku kembali dan malah membiarkan ku tersesat ditinggalkan tanpa sepatah pesan.

Jika jatuh rasa bisa secepat itu, mengapa tidak dengan mengeringkan lukanya?

Baiklah, sebagaian kisah didunia mungkin semesta yang menginginkan tanpa menjabarkan alasan hingga waktu yang memulihkan keadaan..

Laun lambat waktu teruss berjalan sampai pada penghujung tahun.

Dan pada malam pergantian tahun 2020 aku memutuskan untuk berdiam saja diruang yang kusebut kamar. Agar tidak ada nasi goreng yang tertukar.

Sudut pandang Redha
Leka, aku pulang ke tanah kelahiranku. Ada banyak hal yang mungkin tidak bisa diterangkan dan dipahami dalam waktu  singkat. Hal  tersebutlah yang membuatku semakin merasa tidak nyaman dengan kondisi yang ada.

Tidak ada  main-main perihal rasa. Aku berharap kau tidak  mencintai ku agar tak ia rasakan beban dari kepencundanganku yang pergi tanpa  permisi. Dan jika kau terlanju merasa sakit, kau tak merasakan sendiri. Aku pun merasakannya, kepalaku sampai pada detik ini masih membahasmu, pikiranku masih berjudi dengan apapun tentangmu.

Cerpen oleh: Trimaya W*

*Penulis yang mengaku anonim ini sedang menggelandang mencari pengalaman di kota tetangga, seorang calon penyair dapat di temui di blog pribadinya.
http://entahmayawahyu.blogspot.com/  

Artikel ini telah dibaca 397 kali

Baca Lainnya