Nyastra

Minggu, 15 September 2019 - 03:59 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Sesuatu Di Belakang Si Gembul

 

Sipur, Supri, Jono, Joni, dan Dimas sedang asyik-asyiknya bermain bersama. Masing-masing dari mereka masih kelas empat sekolah dasar, dan sedang senang-senangnya bermain. Layang-layang, kelereng, bola plastik, tak lain juga sepeda. Saat itu mereka sedang bermain sepeda di lapangan, sesekali mereka adu balap secara bergantian. Yang selalu menjadi hakim pertandingan adalah Sipur, ya, karena dialah satu-satunya yang tak punya sepeda di antara teman-temannya.

Setiap bermain sepeda, Sipur selalu membonceng Supri. Pada saat sepeda melewati jalan menanjak, Sipur selalu turun karena Supri tak kuat mengayuh. Kemudian di jalan menurun juga Sipur selalu jalan kaki karena sepeda Supri tidak ada remnya, ia mengerem hanya dengan sandal jepit yang sudah tipis. Suatu kali, Sipur merasa tidak enak jika harus membonceng Supri terus-terusan. Ditambah dengan sepeda Supri yang sering rusak.

Kembali lagi di hari minggu, hari yang dinanti-nantikan anak-anak untuk bermain sepuas hati mereka. Saat itu juga teman-teman Sipur pergi menghampiri ke rumahnya dengan membawa sepeda. Seperti biasa mereka memanggil Sipur dari luar, “Puur, Sipuur! Main yuk!”

Biasanya Sipur langsung bergegas keluar dengan girangnya, namun tidak untuk saat ini. Ia keluar dengan begitu malasnya, lemas, dan dengan wajah memelas.

“Kau kenapa, Pur? Sakit?” Tanya Joni pada Sipur.

“Tidak, Joni. Aku hanya sedang malas keluar, hari minggu ini aku ingin bantu-bantu ibu di rumah.”

“Ah, tumben sekali. Biasanya juga kalau minggu kamu main sama kami.” Sela Jono.

“Iya, biasanya memang begitu. Tapi tak ada salahkan sesekali bantuin ibuku di rumah saat liburan?”

“Ya sudah, kalau begitu kami tak mau memaksamu, kita bisa main sama-sama lagi minggu depan. Selamat membantu ibumu.” Jawab Supri masih dengan nada kecewa. Lalu, “Semangaatt!” Teriak mereka sambil mengangkat kepalan tangan mereka. Ada yang tangan kanan dan ada juga yang tangan kiri.

Sipur tersenyum dan membalas, “Semangat!” Pada teman-temannya sambil mengangkat kepalan tangan kanannya juga.

Teman-teman Sipur berlalu dengan mengayuh sepeda mereka masing-masing. Dan kembalilah di situ Sipur merasa sedih. Sepeda. Ya, sepeda yang membuatnya sedih. Dia ingin sepeda namun dia sadar orang tuanya tidak mampu membelikannya sepeda.

Sebenarnya Sipur tidak disuruh membantu ibunya di rumah, alasan itu ia gunakan untuk menolak halus ajakan main dari teman-temannya. Sipur hanya merenung di rumahnya. Hingga ibunya pulang dari pasar, ia masih merenung dan kaget ketika ibunya menegur.

“Ya, Bu?”

“Tumben kau tak ikut bermain dengan teman-temanmu?”

“Iya, Bu, hanya malas dan ingin bantu-bantu ibu di rumah.”

“E-e-ee, tumben sekali, ada maksud apa kau mau bantuin ibumu, hem?”

“He-he-he, tak ada maksud, Bu.”

“Baiklah, kalau begitu segeralah ambil sapu dan kau menyapu lantai. Sementara itu ibu langsung ke dapur untuk siap-siap masak, nanti kalau kau sudah selesai menyapu langsung buang sampah itu di tong depan rumah, setelah itu kau cuci kaki dan cuci tangan, dan susul ibu di dapur.”

“Siap, Bos.” Setelah menghormat, Sipur langsung bergegas pergi melaksanakan tugasnya.

Ia menyapu dengan begitu semangat, dan dalam beberapa menit tugas menyapu dan membuang sampah telah selesai ia kerjakan. Sipur langsung mencuci kaki dan tangannya untuk kemudian menyusul ibunya di dapur.

Sampai di dapur,

“Sudah selesai, Pur?”

Dengan wajah semirngah dan tersenyum bangga, ia menjawab, “Sudah, Bu.”

“Bagus. Setelah ini kau tumis kangkung, dan ibu siapkan bumbunya. Ingat, kalau ada daun yang sudah menguning atau digigit ulat atau yang membusuk, dibuang saja.”

“Baik, Bu.”

Baru separuh ikat Sipur menumis, ia sudah terlihat lesu, dan ibunya tahu dia sedang memikirkan sesuatu.

“Apa yang kau pikirkan, Pur?”

“Tak ada, Bu.”

“Ah, kau tak bisa bohongi ibumu ini.”

“Ah, Ibu. Boleh aku bertanya pada Ibu?”

“Apa yang tak boleh buat anak ibu yang satu ini?” Tersenyum manis.

Lalu, “Ya, selalu ada yang boleh untukku. Juga sepeda baru? Apakah aku boleh memilikinya, bu? Kan semua teman-temanku sudah punya.”

Seketika itu pula ibunya tertegun. Masih tersenyum manis, namun dibalut rasa sedih.

“Ya kan, Bu? Boleh aku dibelikan sepeda? Tak harus baru, bekas pun tak apa. Asalkan aku punya sepeda, dan saat bermain dengan teman-teman tak lagi membonceng.”

“Baiklah, Nak. Sekarang kau selesaikan dulu menumis kangkungnya. Nanti biar kalau bapakmu pulang dari ladang, makan siangnya sudah siap. Nah, nanti kita bicarakan juga tentang sepeda pada bapakmu.”

“Iya, Bu.” Melanjutkan menumis kangkung.

***

Pukul sebelas siang, Bapak pulang dari ladang. Setelah membasuh kaki dan tangannya, ia segera duduk di meja dapur yang begitu kecil, dan duduk di kursi kecil buatan sendiri. Saat itu makanan sudah tersedia, tapi ia menunggu Ibu datang karena Sipur sudah menunggu juga. Sambil menunggu, ia membuat lintingan tembakau. Saat selesai melinting, saat itu juga ibu datang. Mereka pun makan dengan begitu sederhana, nasi jagung, dengan lauk ikan asin dan sayur kangkung. Bagi keluarga Sipur semua makanan sama, hanya beda saat dilihat, dicium baunya, dan dirasakan di mulut. Sampai perut, sama saja.

Selesai makan, Bapak menyalakan lintingannya dan segera menghisap dan mengembuskan asap dengan santainya. Baru setelah beberapa lama, ibu Sipur angkat bicara,

“Pak.” Menegur bapak Sipur dengan penuh sopan santun.

“Iya, Bu?” Menoleh pada Ibu dan membuang sisa tembakau yang terbakar di ujung lintingannya ke asbak.

“Ini, Sipur mau minta sepeda.”

“Benar, Pur?”

“Emm.” Sipur hanya mengangguk dan menampilkan senyum manisnya, senyum yang mengandung permintaan yang memohon pada bapaknya.

“Baiklah,tapi kau mau bersabar, bukan?”

“Berapa lama, Pak?”

“Tak terlalu lama. Kalau kau memang mau sepeda, kau harus bersabar, nanti pasti dapat.”

“Berapa lama, Pak?”

“Tidak akan lama, Pur.” Tersenyum sambil mengelus-elus kepala Sipur.

***

Di hari besok, ketika Sipur pulang sekolah, bapaknya sudah menunggu di ruangan depan. Duduk di kursi kayu sambil menghisap lintingannya. Begitu sipur datang, Bapak menyambutnya dengan senyum dan,

“Hay, Pur. Sudah pulang?”

“Iya, Pak. Bapak juga tumben sudah pulang?” Sambil menyalami bapaknya dan melanjutkan cium tangan. “Juga tumben banget jam segini udah bersih?”

“Iya, Pur, bapak tadi habis dari pasar.”

“Wah, beneran? Tentu membelikan aku sepeda kan, Pak?”

Bapaknya hanya tersenyum, dan, “Ayo kita pergi ke belakang.”

Mereka pergi ke belakang rumah. Dengan semangat Sipur mengikuti bapaknya. Begitu sampai di belakang rumah, bapak Sipur menunjuk ke bawah pohon. Seekor Domba Kibas dengan umur sekitar enam bulan sedang asyik mengganyam rumput.

“Domba?” Sipur bertanya keheranan pada bapaknya.

“Iya, itu domba, Pur.” Jawab bapak.

“Tapikan sepeda yang aku minta, Pak.” Protes sipur dengan raut wajah yang lesu dan nampak kecewa.

“Iya, kau memang minta sepeda, itu sebabnya bapak belikan kau Domba Kibas ini.”

“Loh, apa hubungannya domba dengan sepeda?” Kembali Sipur tak setuju dengan maksud bapaknya.

“Nanti kau akan tahu hubungannya, pokoknya, mulai sekarang setiap kau pulang sekolah, kau harus pergi ke kebun atau ke mana kau suka, kau cari rumput untuk makan dombamu itu!”

“Tapi, pak.”

Tak sempat menjawab, bapaknya langsung pergi masuk kembali ke dalam rumah. Sipur kesal dengan kelakuan bapaknya itu. Ia pandangi domba mudanya dan setelah sekian lama, lantaran melihat wujudnya yang lucu dan tingkah si domba yang begitu menggemaskan, Sipur tersenyum-senyum sendiri dan mendekati si domba.

***

Hari demi hari, sehabis pulang sekolah, Sipur selalu bersemangat untuk pergi mencari rumput, bahkan hal itu sampai melupakan keinginannya untuk punya sepeda. Pada hari libur, Sipur selalu menggembalakan domba kesayangannya itu pergi ke lapangan. Ia namai domba itu dengan nama Gembul. Ya, sesuai namanya, domba itu kini sudah semakin gemuk saja dan semakin lucu.

Rasa cinta Sipur pada Si Gembul semakin menambah dari hari ke hari, bahkan setiap hendak tidur, ia sempatkan menjenguk kandang Gembul untuk sekadar mengucapkan selamat malam. Kini Si Gembul sudah berusia satu tahun.

Suatu ketika, ketika Sipur pulang sekolah, ia melihat bapaknya sedang berbincang-bincang dengan seorang lelaki tua di kandang Gembul. Mereka terlihat begitu serius, seperti sedang tawar-menawar, sesekali lelaki tua itu berpikir dengan mengelus-elus dagunya, lalu bergantian bapaknya yang berpikir-pikir. Selang beberapa lama, lelaki tua itu mengeluarkan plastik yang ternyata isinya uang dari saku celananya. Uang itu diberikan kepada bapak Sipur, mereka berjabat tangan, lalu saling tertawa ramah sambil manggut-manggut. Setelahnya, bapak Sipur melepaskan Gembul dari kandangnya dan  menuntun menuju mobil lelaki tua itu. Saat itu juga Sipur berteriak, “Gembul…!” Sambil meneteskan air mata, ia lari menghampiri si Gembul yang hendak diangkat ke bak mobil itu, ia raih tubuh Gembul, lalu dipeluknya erat-erat sambil berkata, “Jangan bawa dia pergi, Pak Tua, saya sungguh menyayanginya, jangan, jangan, jangan bawa dia pergi!” Masih dengan air mata yang bercucuran, namun lelaki tua itu hanya tersenyum mengiba padanya. Dan bapaknya,

“Sudah, Nak, Gembul sudah besar, sudah waktunya dia kembali pada Sang Pencipta, memberi manfaat buat orang banyak. Kau tahu kan tiga hari lagi Idul Adha tiba?”

Perasaan Sipur semakin tak keruan, ia ingin membenci bapaknya, tapi tak bisa. Ia tahu Si Gembul akan mati digorok lehernya tiga hari lagi. Ia tak mau Gembul mati, Gembul pergi darinya, namun itulah yang akan terjadi. Sekali lagi, Sipur memeluk erat-erat Si Gembul, menciuminya, dan melepaskan, lalu melambai. Setelah Gembul naik dan diikat, Pak Tua itu kembali berjabatan dengan bapak Sipur, dan berkata pada Sipur, “Nak, jangan kau bersedih, Gembulmu akan memberi manfaat buat orang banyak, kaulah penyayang binatang yang paling tulus yang kukenal selama ini, sekali lagi, jangan bersedih.” Lelaki tua masuk ke dalam mobil, dan mobil melaju meninggalkan rumah Sipur.

Bapak Sipur yang berdiri di sebelahnya berkata, “Nak, segeralah berganti baju, sehabis zuhur, kita pergi ke pasar, kau masih pingin sepeda seperti teman-temanmu, bukan?”

Sipur tersenyum lalu meninju perut bapaknya dengan sengit. Saat itu juga pecah gelak tawa di antara mereka berdua.

 

Semarang, 2019

Cerpen Oleh : Arifan

*Mahasiswa asal Wonosobo yang sedang berproses di UIN Walisongo Semarang, dapat juga di temui di Instagramnya: @Vanarivan.  

Artikel ini telah dibaca 731 kali

Baca Lainnya