Ngaji Naskah Nyastra

Senin, 12 Agustus 2019 - 06:50 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Membaca Babad Diponegoro

 

“……sampun enjing iko nanging wonten mareman nira Yang Widhy pedut ageng prapto iku ngalingi mring Njeng Sultan sak wadyanya. Kafir murtad tan ana weruh yen Njeng Sultan sampun budhal saking Bandut sak wadya…..”

(Hari sudah pagi namun berkat pertolongan Tuhan, datang kabut tebal yang melindungi Kanjeng Sultan (Diponegoro) dan pasukannya. Hingga Pasukan Belanda tak dapat mengetaui bahwa Diponegoro dan pasukannya telah pergi meninggalkan lokasi tersebut)

Kalimat diatas merupakan sepenggal dari cuplikan Babad Diponegoro, sebah catatan naskah yang di tulis dengan sangat rapi semacam puisi dengan format berbait-bait. Apa yang ada di buku naskah tersebut adalah tulisan tangan asli dari Pangeran Diponegoro. Sekali lagi saya merasa takjub. Kekaguman terhadap Pangeran Diponegoro semakin meluap-luap. Salam takdhim kepada beliau selalu di langgengkan.

Di tengah-tengah perjuangannya, demi rakyat dan tanah tumpah darah, intrik keluarga, sengketa dari berbagai pihak, mengumpulkan serta menyusun barisan, strategi perang, dan melakukan peperangan itu sendiri dengan cara berpindah pindah dan bergerilya, namun beliau masih menyempatkan diri untuk membuat sebuah catatan perjalanan perjuangan. Apa yang dialami dan dilakukan baik oleh Pangeran Diponegoro maupun sahabat seperti Sentot Ali Basya, Kyai Mojo, serta laskar-laskarnya.

Nampaknya, Beliau sangat sadar bahwa sebuah peristiwa, kejadian, perjalanan dan momentum wajib untuk ditulis. Tidak cukup hanya diingat. Setiap perjalanan adalah meniti titah Gusti yang perlu di jalani, namun tak sekedar di jalani tetapi perlu dinikmati dan di syukuri serta proses untuk mendokumentasikan adalah wujud persembahan untuk anak cucu menikmatinya di masa yang mendatang.

Sebab ingatan manusia sangatlah terbatas maka perlu dituangkan dalam bentuk tulisan, agar abadi di sepanjang jaman. Seperti halnya Babad Diponegoro ini. Kejadian yang telah lampau sejak tahun 1825, kini bisa dinikmati dan diteladani hingga tahun 2019 dan mendatang. 194 tahun. Hampir 2 abad, dan kami semua, masih bisa menikmati dan mengetahui sejarah perjuangan Beliau, langsung dari tangannya sendiri. Seorang pahlawan yang benar benar visioner.

Sebagaimana cerita yang berkembang dan di tulis di babad bahwa pada suatu malam hari, Pangeran Diponegoro beserta laskarnya yang terbagi dalam tiga kelompok, sedang berada di tempat itu untuk berembug tentang langgar yang dibangun, dan akan meneruskan perjalanan ke Desa Kasuran di Wilayah Kasuran, Seyegan, Sleman. Pada  saat pagi hari, setelah waktu subuh, tiba-tiba datang serangan Belanda di tempat itu.

Pangeran Diponegoro beserta laskarnya tentu saja dalam keadaan lengah. Pangeran Diponegoro memohon pertolongan Tuhan, dan terjadi keajaiban kemudian. Tiba tiba datang kabut tebal menyelimuti, hingga tak nampak pergerakan dari Pangeran Diponegoro dan laskarnya, yang telah pergi saat kabut tebal itu datang. Pasukan Belanda pun tak menjumpai seorangpun di sana setelah kabut tebal itu hilang.

Menurut beberapa cerita tutur dari masyarakat, perjuangan Pangeran Diponegoro memang sering terjadi keajaiban semacam itu. Hal ini wajar karena di samping seorang Bangsawan, seorang darah biru keturunan keraton yang tentu saja mempunyai beberapa kelebihan,  Beliau juga seorang ulama yang taat, yang kesehariannya selalu diisi dengan ibadah yang tak pernah luput dari eling dan selalu online kepada Gusti Allah Swt.

 

Artikel ini telah dibaca 487 kali

Baca Lainnya